Temuan Ombudsman: PKL Tanah Abang Ogah Ditertibkan karena Sudah "Setoran" ke Preman

Fadel Prayoga, Okezone · Senin 21 Januari 2019 17:55 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 21 338 2007408 temuan-ombudsman-pkl-tanah-abang-ogah-ditertibkan-karena-sudah-setoran-ke-preman-0cFcIn1Soj.jpg ilustrasi (dok okezone)

JAKARTA – Ombudsman perwakilan DKI Jakarta menemukan adanya dugaan tindakan premanisme di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Lembaga tersebut menduga kerusuhan yang terjadi beberapa waktu lalu karena pedagang kaki lima (PKL) sudah membayar iuran ke preman, tapi harus diusir oleh Satpol PP DKI.

"Kan preman ada potensi kehilangan pendapatan dari pedagang ini. Nah kemudian muncul pedagang baru di Jalan Jatibaru yang kemudian mengklaim sebagai PKL Jatibaru. Padahal waktu kami verifikasi orang-orang ini enggak ada," kata Ketua Ombudsman Perwakilan Jakarta Raya, Teguh Nugroho saat dihubungi, Senin (21/1/2019).

Kericuhan pertama terjadi pada Kamis, 17 Januari 2019. Saat itu Satpol PP dipukul mundur oleh para PKL. Dua mobil aparat tak luput dari keberingasan massa yang tersulut emosinya. Lalu, pada Minggu, 20 Januari 2019, kembali terjadi kerusuhan. Para pedagang tetap ngotot dan melawan petugas saat ditertibkan.

Menurut Teguh, preman itu kesal lantaran pendapatannya menurun setelah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendirikan Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM).

PKL Tanah Abang (Dok Okezone)

Pemprov DKI memindahkan 446 PKL ke JPM. Namun, sisanya sebanyak 149 pedagang tak bisa dipindahkan karena lokasinya tak bisa menampung seluruh pedagang. Mereka kemudian dipindahkan ke Blok F. Tapi karena sudah bayar ke preman, para PKL ini ogah memindahkan lokasi dagangannya ke Blok F.

"Nah, jadi bisa bayangkan dari dulu yang ada 500 pedagang yang bayar ke preman, sekarang mereka bayar ke PD Sarana Jaya. Mereka bayarnya Rp50 ribu satu orang per hari. 500 (pedagang-red) kali Rp50 ribu orang saja sudah Rp25 juta per hari," paparnya.

(Baca Juga : Enggan Negosiasi dengan PKL Tanah Abang, Anies: Penertiban Jalan Terus)

Teguh menduga para preman ikut mengompori para PKL agar mereka terus bertahan di sana. Sebab, jika mereka kabur maka preman itu akan kehilangan pemasukannya.

"Nah update data terbaru kami belum tahu lagi. Tapi yang lama-lama itu. Bisa dibayangkan jadi sekarang ada penambahan dari warga yang tidak mau masuk ke Blok F aja ada 149 orang," tandasnya.

(Baca Juga : Usai Ricuh, 60 Aparat Satpol PP Disiagakan di Pasar Tanah Abang)

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini