nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

DBD Mewabah di Tangsel, 1 Orang Meninggal Usai Dirawat

Hambali, Jurnalis · Minggu 27 Januari 2019 20:48 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 27 338 2010107 dbd-mewabah-di-tangsel-1-orang-meninggal-usai-dirawat-vPuh5nnuID.jpg Orangtua korban yang anaknya meninggal karena Demam Berdarah Dengue di Tangsel (Foto: Hambali)

TANGSEL - Korban gigitan nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD) terus berjatuhan di Tangerang Selatan (Tangsel). Mereka umumnya dirawat di Puskesmas, sebelum akhirnya dirujuk ke RSU Kota Tangsel.

Satu dari sekian banyak korban itu akhirnya menghembuskan nafas terakhir setelah 7 hari dirawat di RSU. Korban bernama Andre Fernanda Sugara (24), mulanya dirawat di Puskesmas Pondok Ranji. Namun, karena perlengkapan tak memadai, dokter merujuknya ke RSU Kota Tangsel.

Ditemui Okezone di kediamannya, Jalan Onta Raya, RT04 RW06 Nomor 16, Pondok Ranji, Ciputat Timur, Minggu (27/1/2019). Orangtua Andre menceritakan saat pertama kali putra tertuanya itu mengeluh demam dan nyeri pada beberapa bagian tubuh.

"Waktu pulang kerja, dia ngeluh badannya pada sakit, nyeri, mual sama pening juga. Terus diperiksa ke Puskesmas, sempat dirawat semalam disana. Waktu dicek trombositnya menurun, sudah 65 ribu," kata Nuryati (42), ibu korban.

(Baca Juga: Cegah DBD, DKI Fokus Pemberantasan Nyamuk hingga Mengedukasi Masyarakat

Rumah korban DBD

Lantaran trombositnya terus menurun, selanjutnya perawatan Andre dipindahkan ke ruang IGD RSU Kota Tangsel. Di sana, trombosit Andre kian berangsur turun menjadi 4.000, lalu turun lagi 2.000, kemudian 1.800, hingga sempat drop dengan trombosit hanya 1.100.

"Dia sempat drop, trombositnya cuma 1100, tapi memang naik lagi jadi 1.800," ujar Nuryati.

Selama berhari-hari menjalani perawatan intensif di RSU, tak memberi pemulihan atas kondisi trombosit dan kesehatan Andre. Ia pun harus menyerah, sengatan virus nyamuk DBD ganas membuat anak pertama dari 4 bersaudara itu berpulang untuk selamanya pada Jumat 25 Januari 2019, sekira pukul 13.45 WIB.

"Akhirnya meninggal di RSU," imbuhnya.

Dikatakan Nuryati, sebelumnya pihak RSU menduga ada penyakit flek yang juga memengaruhi kesehatan Andre. Atas saran dokter, lantas dilakukan rontgen pada bagian parunya.

Begitu hasil rontgen keluar, Andre dipindah ke kamar perawatan lainnya. Meski begitu, dikatakan Nuryati, penyakit DBD yang menyebabkan kesehatan putranya itu menurun drastis.

"Ya memang sempat dirontgen juga parunya, terus dipindahin ruangannya karena positif kena flek juga. Tapi yang jadi penyebab dia sakit sampai trombositnya turun itu ya karena DBD, karena dari Puskesmas juga memang sudah diagnosanya begitu," tuturnya.

(Baca Juga: Anies: Penderita DBD di DKI Naik Dua Kali Lipat Mencapai 370 Orang

Kondisi lingkungan di tempat kediaman korban bisa dibilang cukup padat. Di sana, hampir tak ada jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya. Sayangnya, kebersihan di area itu tidak terjaga dengan baik, lahan kebun kosong, saluran air bercampur sampah, serta kandang unggas terlihat jarang dibersihkan.

Hal itu bisa menyebabkan perkembangbiakan nyamuk DBD makin meningkat pesat. Parahnya lagi, berdasarkan keterangan keluarga korban, sejak lama belum ada pihak Jumantik yang datang mengontrol. Padahal, yang sudah terkena DBD jumlahnya mencapai belasan orang.

"Belum ada yang cek (Jumantik), kalau fogging itu pernah sekitar tiga bulan lalu. Habis itu nggak ada lagi, padahal disini sudah banyak yang kena DBD, belasan jumlahnya," kata Nuryati.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel, jumlah penderita DBD saat ini mencapai 90 orang. Seorang di antaranya, yakni pasien Puskesmas Situ Gintung, Kelurahan Serua, Ciputat, dinyatakan telah meninggal dunia.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan, dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tangsel Tulus Muladiono mengatakan, sekurangnya hingga 20 Januari 2019, masih ada 25 pasien DBD yang masih dirawat di berbagai fasilitas kesehatan, baik itu RSU, Puskesmas, maupun rumah sakit swasta.

"Dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018 lalu, angka ini mengalami kenaikan drastis. Hal ini dipicu oleh perubahan alam, dari siklus lima tahunan," ujarnya beberapa hari lalu.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini