Share

Nenek Moyang Sebut Palang Pintu sebagai Perebut Dandang

Wahyu Muntinanto, Okezone · Sabtu 16 Februari 2019 12:34 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 15 338 2018570 nenek-moyang-sebut-palang-pintu-sebagai-perebut-dandang-QH5TpdvlOR.jpg Salah satu pimpinan pencak silat dan palang pintu Depok, Zainal Arifin (Foto: Wahyu/Okezone)

DEPOK - Kesenian budaya palang pintu merupakan suatu kesenian khas betawi yang sudah ada sejak zaman nenek moyang, namun dalam zaman dulu kala mereka menyebutnya sebagai perebut dandang.

Salah satu pimpinan silat dan palang pintu di Depok, Jawa Barat Zaenal Arifin mengatakan palang pintu merupakan kesenian khas Betawi yang memadukan seni beladiri silat dengan seni sastra pantun jenaka. Palang Pintu menjadi ajang beradu pantun dan silat dari perwakilan kedua mempelai, mereka saling beradu pantun dan menunjukan kemahiran dalam melakukan gerakan silat.

Palang Pintu merupakan cara komunikasi yang disampaikan antara pihak pengantin. Komunikasi yang digunakan pada prosesi ini antara lain melalui seni sastra, yaitu memakai pantun sebagai bahasa yang digunakan oleh para masing-masing pihak untuk melakukan perdebatan. Komunikasi pada Palang Pintu inilah yang masuk ke dalam tahapan Balas Pantun.

"Zaman dulu itu palang pintu itu sebutanya perebut dandang orang bilang kalau mau masuk kerumah assalamualaikum, palang pintu itu gitu kalau ada hajatan harus melawati dulu tuan rumah itu digambarkan dengan palang pintu," kata Piping kepada Okezone Jumat (15/2/2019).

Dia menjelaskan dalam memainkan palang pintu seorang pesilat harus berkelahi dengan pesilat lainya dengan mengadu jurus, namun sebelum perkelahian itu kedua kelompok silat itu terlibat pertengkaran mulut, disitulah adu pantun terjadi hingga akhirnya salah satu pesilat dapat merebut dandang yang digendong pesilat sang lawan.

Namun dirinya mengaku seiring perkembangan zaman perebut dandang ini berganti nama menjadi palang pintu, hal itu karena palang pintu sudah tidak lagi digunakan pada acara resepsi pernikahan melaikan kegiatan lainya seperti peresmian kantor atau penyambutan tamu.

"Palang pintu udah dari zamam nenek moyang sudah ada dulu namanya perebut dandang sekarang zaman udah modern berbalik namanya palang pintu, tapi di depok kita kembangkan lagi di tahun 2010," jelasnya.

Pria yang kirab disapa bang Piping mengatakan jika bermain palang pintu ini haruslah seorang pemain silat tidak bisa sembarang orang. Sebab menurut dia, jika seorang pesilat tidak dapat memainkan kesenian palang pintu dianggap ada yang kurang sedap rasanya.

"Palang pintu itu sebetulnya sejarah supaya remaja remaja mengenal budaya karena kalau persilatan tanpa palang pintu itu rasanya kurang sedap dari zaman dulu sudah ada itu maknanya," tuturnya.

Untuk di wilayah Depok sendiri pergutuan silat tapak segara, mandiri, Rawa siri gombel salah satu contoh padepokan yang masih melestarikan budaya betawi melalui aksi palang pintu atau perebut dandang. Padepokan yang sudah berdiri lama itu sering kali melakukan lesenian palang pintu dalam kegiatan Pemkot Depok dan acara lainya

"Kalau didepok semua persilatan punya termasuk saya di perguruan tapak segara, mandiri, Rawa siri gombel itu persilatan gabungan saya. itu selalu dipake setiap acara walikota," pungkasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini