Hikayat Palang Pintu, Tradisi Betawi yang Sarat Makna

Muhamad Rizky, Okezone · Sabtu 16 Februari 2019 09:02 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 15 338 2018647 hikayat-palang-pintu-tradisi-betawi-yang-sarat-makna-Bow4W90JWY.JPG Kedua jawara sedang terlibat adu silat dalam prosesi palang pintu adat Betawi (Foto: M Rizky/Okezone)

SIANG itu, Musa Dadap harus mengawal rombongan 'Tuan Raja Mude' untuk mendapatkan sang pengantin wanita atau 'Tuan Putri'. Sayangnya, perjalanan itu harus terhenti lantaran diadang seorang jawara dari mempelai wanita.

Dari kejauhan salah seorang pria dalam rombongan keluar dan berkata, "Bang aye semua datang kemari, seluruh nampan udah diisi dodol sama uli buat diserahin ke Mpok Putri calon bini, jadi boleh dong rombongan kita masuk,"

"Bang tiap hutan ada harimaunya, tiap kampung ada jagoannya, kalau abang mau lihat pengantinnya lawan dulu aye punya jawara ini bang,".

Aksi balas pantun ini terjadi saat tradisi palang pintu Betawi yang dilakukan Sanggar Serumpun Padi, salah satu kelompok budaya yang masih aktif melestarikan tradisi Palang Pintu di bawah pimpinan Musa Dadap, saat mengisi sebuah acara pernikahan warga Betawi asli di wilayah Ciganjur, Jakarta Selatan.

Palang Pintu Betawi

Tradisi palang pintu merupakan sebuah kesenian Betawi yang merupakan paduan antara silat dan juga pantun. Palang pintu hadir menjadi salah satu rangkaian dalam pernikahan orang Betawi. Di sini, setiap pengantin pria akan mendapat tantangan dari mempelai wanita untuk menguji kepiawaian bela diri dan juga kepandaian dalam mengaji.

Sebenarnya, tak ada bukti sahih sejak kapan tradisi palang pintu bermula. Akan tetapi, tokoh Betawi, Pitung (1874-1903) ternyata telah menjalani tradisi ini saat hendak memperistri Aisyah, yang merupakan putri jawara berjuluk 'Macan Kemayoran', Murtadho.

Bermodal nyali dan ilmu kanuragan yang dimilikinya, Murtadho lantas menjadi palang pintu dalam prosesi pernikahan putrinya itu. Tak dinyana, si Pitung justru berhasil memaksa Murtadho bertekuk lutut di hadapannya hingga akhirnya mempersunting Aisyah.
Palang Pintu Betawi

Istilah palang pintu di kalangan masyarakat Betawi diartikan sebagai menghalangi orang lain yang akan memasuki daerah tertentu, di mana suatu daerah memiliki jawara alias pendekar yang siap mengadang. Palang pintu lazimnya muncul saat acara perkawinan atau besanan.

Atraksi ini dilakukan dengan saling adu seni beladiri (pencak silat) yang melibatkan pihak mempelai laki-laki agar bisa diterima sebagai keluarga oleh pihak mempelai wanita. Tak sekadar beladiri, pihak mempelai laki-laki juga dituntut paham ilmu agama seperti pandai membaca Alquran alias mengaji.

Palang pintu memang budaya pernikahan yang hingga kini masih kuat tertanam kuat pada masyarakat Betawi. Sebenarnya, rangkaian upacara pernikahan pada adat Betawi dimaksudkan untuk memberi pesan kepada masyarakat bahwa pernikahan adalah ritual yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Sehingga, perlu ada tahapan atau syarat tertentu yang harus dilakukan oleh pasangan pengantin sebelum menggelar prosesi pernikahan.
Palang Pintu Betawi

"Secara filosofis itu prosesi penerimaan orangtua calon pengantin atas lamaran dari pihak laki-laki," ujar Musa saat ditemui Okezone belum lama ini.

Sayangnya, seiring dengan majunya perkembangan zaman, tak jarang masyarakat mulai menanggalkan tradisi ini, bahkan generasi muda Betawi belum tentu memahami apa itu makna tradisi dari palang pintu dengan melupakan begitu saja.

Dalam pernikahan misalnya kata Musa, tidak banyak yang menjalankan tradisi ini padahal, pada zaman dulu setiap calon pengantin laki-laki diharuskan membawa beraneka ragam hasil bumi mereka seperti beras, bumbu masak, uang yang dimasukkan kedalam sebuah dandang besar untuk diserahkan kepada calon pengantin perempuan.

"Dandang itu kemudian diterima dan dibawa centengnya (jawaranya calon perempuan-red) pakai kain yang diikat ke dandang untuk dibuka oleh sang jawara dari pihak laki-laki sebagai syarat sebelum menerima calon pengantin pria, dan terjadilah pertarungan yang disebut sebagai palang pintu," tuturnya.

Bahkan saking sakralnya, calon pengantin pria belum tentu bisa mendapatkan pujaan hatinya sebelum melewati proses itu. Sebab setiap jawara yang bertarung dalam prosesi palang pintu, bukan tim seperti sekarang yang sudah diatur sehingga pasti dapat pengantin.

"Dulu berbeda, jadi benar-benar enggak kenal centengnya kalau kalah baru bisa masuk (rumah pengantin wanita). Kalau kalah pihak laki, bisa ditolak bisa juga ya udah diterima dengan kebijakan tertentu, tapi banyak sudah meninggalkan itu," katanya menjelaskan.

Infografis Palang Pintu

Seiring berjalannya waktu, tradisi palang pintu mengalami banyak perubahan dan menyesuaikan perkembangan zaman. Kini, selain prosesi pernikahan tradisi palang pintu kerap mengisi ruang-ruang acara seperti penyambutan tamu pejabat, peresmian sebuah acara dan lain sebagainya.

Menjaga Tradisi

Sejak kecil, Musa sudah dikenalkan dengan tradisi ini. Sebelum palang pintu yang memadukan dengan pantun, para leluhurnya kerap melatih anggotanya dengan silat atau para leluhur menyebut sebagai latihan 'main pukul' yang juga dikenal sebagai 'silat koplek' dan dianggap sebagai warisan asli Kampung Setu, Ciganjur, Jakarta Selatan.

"Dulu kita enggak ada nama (sanggar) latihan aja 'main pukul', kalau nama Sanggar Serumpun Padi ini baru jalan 3 tahun tapi kalau permainan adu pukul atau kita nyebutnya silat koplek dari saya kelas 4 SD udah main koplek karena warisan leluhur," tuturnya.

Sanggar ini kata Musa, hadir saat dirinya mendapat amanah untuk menjaga tradisi tersebut. Dari sekian banyak murid yang dilatih para pendahulunya itu hanya Musa yang masih aktif untuk menjaga tradisi ini. Bahkan Ia dulu rela untuk membohongi orang tuanya dengan mengaku sekolah untuk latihan silat koplek tersebut hingga berdirilah sanggar seperti sekarang.

Menurutnya, sanggar yang memiliki palang pintu sendiri tidak banyak dan naik turun. Meski begitu kini masih banyak anak-anak kecil yang mau ikut untuk berlatih. "Kalau dihitung semua anggotanya ada 112 orang mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, kalau dewasa enggak terlalu banyak paling 20 orang jadi dalam seminggu itu tiga kali latihan," ujar Musa.

Dari segi pengajaran, ia menyebut tak banyak perubahan dari apa yang sudah didapatnya dulu namun tetap ada penyesuaian, dengan sedikit menonjolkan sisi hiburan seperti pantun tanpa menghilangkan esensi dari palang pintu itu sendiri. Menurutnya, hal itu untuk memecah rasa bosan penonton agar tetap menyukai aksi palang pintu Betawi.

Bahkan untuk menjaga eksistensi tradisi itu, dirinya juga tidak mengenakan tarif bagi mereka yang hendak memanggil mereka. Hal itu semata-mata untuk mengenalkan budaya Betawi yang secara perlahan mulai tergerus kemajuan zaman.

"Jujur, kita tidak menargetkan biaya cuma seiring perkembangan zaman kita perlu sewa mobil dan lainnya kita enggak sebut harga, biasanya saya tanya kemampuannya berapa. Jadi, kita enggak nargetin. Saya pernah dulu dibayar Rp150 ribu buat satu tim. Karena kalau ditanya berapa aja. Itu bukan mata pencarian cuma biar orang tahu, apa itu dan tetap ada eksis," tuturnya.

Infografis Palang Pintu

Untuk itu, dirinya berharap agar tradisi leluhurnya itu nantinya juga bisa diteruskan oleh muridnya saat ini. Kini, Musa tengah berupaya agar tradisi budaya Betawi ini tidak hilang dilekang zaman, salah satunya dengan mengejar prestasi.

"Setiap latihan kita teman-teman yang baru saya selalu bilang kalian itu latihan jangan sekadar latihan, tapi resapi dan jadikan hobi dan jadi penerus saya. Kalau dulu memang kita batasin hanya lingkup keluarga sekarang kita buka umum siapa saja yang mau latihan tradisi ini boleh berbeda dengan dulu zaman saya belajar yang hanya membolehkan bagi anggota kekuarga atau sodara, sekarang tidak," ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini