nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Filosofi Berbalas Pantun hingga Adu Silat Jawara pada Tradisi Palang Pintu

Muhamad Rizky, Jurnalis · Sabtu 16 Februari 2019 09:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 15 338 2018682 filosofi-berbalas-pantun-hingga-adu-silat-jawara-pada-tradisi-palang-pintu-VKIGoh8Cxz.JPG Kedua jawara sedang terlibat adu silat dalam prosesi palang pintu adat Betawi (Foto: Okezone)

TRADISI palang pintu di masyarakat Betawi memiliki cerita tersendiri bagi masyarakatnya. Upacara pelengkap dalam sebuah pernikahan bagi masyarakat Betawi ini menjadi salah satu kebiasaan yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

Budaya sarat harga diri itupun hingga kini masih dipertahankan. Tak jarang, meski perubahan zaman kian pesat masih ada mereka yang terus mempertahankan kebudayaan itu.

Sejarawan Universitas Indonesia (UI) Siswantari menilai, banyak nilai yang terkandung dalam palang pintu salah satunya menyoal keyakinan seseorang. Dalam tradisi palang pintu biasanya seorang pengantin pria sebelum memasuki rumah mempelai wanita harus mendapat ujian terlebih dahulu.

Pada pelaksanannya, setiap lelaki yang hendak menikahi putri Betawi harus melewati hadangan dari salah seorang jawara.

Awalnya, terjadi dialog antar kedua belah pihak hingga akhirnya terjadi saling berbalas pantun. Prosesi ini sebenarnya hanya ingin menonjolkan keindahan seni sastra orang Betawi yang hingga kini jadi ciri khas mereka. Setelah kedua pihak saling berbalas pantun, maka selanjutnya beradu kepiawaian pencak silat dan ditutup oleh uji kemampuan mengaji (membaca sepenggal ayat Alquran).

Palang Pintu Betawi

"Kalau misalnya ada baca shalawat itu menunjukkan bahwa seorang laki-laki untuk meminang perempuan dia harus pintar dalam hal agama, artinya ukuran agama harus kuat," ucap Siswantari kepada Okezone.

"Kemudian silat, seorang laki-laki harus melindungi perempuan. Selain itu ada pantun, pantun itu kan bagian dari diplomasi. Seorang laki-laki Betawi kan harus bisa berdiplomasi baik dengan masyarakatnya," kata dia.

Menurutnya, tradisi palang pintu biasanya dilakukan pada upacara pernikahan. Selain memiliki nilai filosofis tradisi itu juga dilakukan untuk menghubungkan antarkampung, menghubungkan dua keluarga yang tidak kenal jadi saling kenal untuk mempererat hubungan keluarga.

Siswantari mengaku tidak mengetahui persis secara pasti sejak kapan tradisi ini muncul. Namun, berdasarkan pemberitaan di koran pada abad ke-19 tentang orang Betawi tradisi tersebut sudah mulai ada.

"Jadi gini, saya tak tahu persis kapan palang pintu mulai berkembang di msayarakat Betawi, tapi kalau adu silat itu tradisi betawi tapi kalau formatnya yang saya baca di abad ke-19 itu adu silatnya. Kalau kapan mulainya harus ada penelitian mendalam kapan palang pintu itu ada," tuturnya.

Infografis Palang Pintu

Namun dirinya meyakini, bahwa tradisi tersebut memang sudah menjadi ciri khas dari masyarakat Betawi termasuk silat sejak kelahirannya di Jakarta. Selain itu kebiasaan itu juga tak hanya di kalangan orang berada, namun melebur menjadi satu bersama dengan masyarakat segala lapisan.

"Tradisi ini di kampung masyarakat ekonomi menengah sering melaksanakannya jadi bukan ekonomi yang tinggi. Hal itu untuk menunjukkan identitasnya dengan melakukan upacara ini, enggak mesti jawara, namanya silat sudah menjadi kehidupan mereka ya silat itu," ujar Siswantari.

Kendati kondisinya kini sudah sulit bersing dengan kemajuan zaman, keberadaan palang pintu masih tetap ada melalui sanggar-sanggar Betawi. Untuk itu kata dia, pelestarian terhadap kebudayaan itu sendiri perlu tetap dijaga.

"Karena kan kaitannya dengan pelestarian budaya buat masyarakat Betawi untuk menunjukkan jati diri, identitas budaya ini perlu, kalau dalam perkawinan dia ekonominya kuat enggak ada salahnya buka palang pintu ini, saya pikir ini satu hal yang bagus untuk melestarikan budaya," ucapnya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini