nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Angka Pernikahan Dini di Jakarta Timur Masih Tinggi, Mayoritas karena Hamil Duluan?

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 18 Februari 2019 21:36 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 18 338 2019737 angka-pernikahan-dini-di-jakarta-timur-masih-tinggi-mayoritas-karena-hamil-duluan-8BbH5wTuWg.jpg

JAKARTA - Pernikahan dini masih jadi momok yang sulit dihilangkan. Beragam sebab jadi faktor mengapa banyak perempuan di Indonesia seolah "gemar" menikah di bawah umur

Di Indonesia sendiri, BPS dan UNICEF yang menggunakan data Susenas 2008-2012 dan Sensus Penduduk 2010, mencatat sekitar 340 ribu anak perempuan di bawah 18 tahun menikah setiap tahunnya. Peningkatan terjadi pada perempuan usia antara 15 hingga 18 tahun.

Lebih spesifik jumlah pernikahan dini di Jakarta Timur masih memprihatinkan. Menurut Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) ada sekira 93.332 jumlah perempuan berumur 15-19 tahun di Jakarta Timur. Jumlah tersebut tersebar di 10 kecamatan. Ironisnya, banyak di antara jumlah tersebut harus menikah karena hamil di luar nikah.

Meski tak ada jumlah spesifik, Lurah Cipinang Besar Utara (CBU) Sri Sundari pernah menjelaskan perihal tersebut. Menurut wanita berhijab itu, saking banyaknya perempuan yang menikah di bawah umur, pihaknya sampai mengeluarkan surat edaran pencegahan perkawinan anak.

"Biasanya orangtuanya saya panggil, saya tanya, mengapa anaknya masih usia sekolah sudah dinikahkan. Kalau kasus di Cipinang Besar Utara yang saya lihat, saya temuin biasanya karena hamil di luar nikah," kata Sundari usai mengeluarkan surat edaran tersebut.

Pemerintah pun kesulitan mendata jumlah perempuan yang hamil di luar nikah karena pernikahan mereka kebanyakan hanya menikah siri tanpa dicatat oleh negara.

Kekhawatiran menurunnya kualitas perempuan dan anak di Jakarta Timur juga diungkapkan Calon Anggota DPR RI Dapil 1 Jakarta Timur dari PDI Perjuangan, Chicha Koeswoyo.

Menurut Chicha, perempuan di wilayah dapilnya kerap kali berpikir pendek dengan mengambil langkah nikah muda, tanpa mempertimbangkan aspek lain, seperti biaya dapur serta dampak kekerasan rumah tangga.

"Begitu juga dengan anak-anak. Di dapil saya banyak sekolah, tetapi mereka tak mau sekolah. Kemudian banyak juga yang masih kekurangan gizi. Inilah yang membuat saya tergerak dan akan mengubah pola pikir mereka bahwa belajar itu penting sekali," katanya.

Keprihatinan itu diungkapkan Chica saat acara nonton bareng dan ramah tamah bersama relawan Jokowi-Ma'ruf Amin. Di sana, Chicha terlihat mendapat banyak dukungan dari sejumlah kerabat dan tetangganya.

"Saya menitipkan perempuan dan anak kepada Mbak Chicha supaya memperhatikan kesehatan, pendidikan dan diberikan budaya yang baik. Yang pasti mbak Chicaha harus bisa menanamkan nasionalisme untuk persatuan bangsa kita," tutup relawan Chicha, Haryo Tienmar.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini