nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rahmat Hidayat, Jakmania yang Meninggal Usai Keningnya Dicium Anies Baswedan

Muhamad Rizky, Jurnalis · Senin 04 Maret 2019 08:21 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 04 338 2025411 rahmat-hidayat-jakmania-yang-meninggal-usai-keningnya-dicium-anies-baswedan-TnuDRvOSPF.jpg Anies Baswedan mencium kening Rahmat Hidayat (Instagram @aniesbaswedan)

JAKARTA – Gubernur DKI Anies Baswedan berbagi cerita pilu tentang seorang suporter Persija Jakarta, Rahmat Hidayat (15) meninggal dunia. Sang Jakmania itu berpulang usai keningnya dicium oleh Anies.

Rahmat Hidayat dirawat di Rumah Sakit Pasar Minggu, Jakarta Selatan usai mengalami kecelakaan. Tulang leher, tangan dan kakinya patah. Kondisinya yang cukup parah membuatnya dirawat di ruang ICU.

“Pak Anies, Pak Anies, Pak Anies! Terdengar suara pasien di bilik sebelah ruang ICU itu memanggil-manggil,” tulis Anies Baswedan di akun Instagramnya seperti dipantau Okezone, Senin (4/3/2019).⁣

Kamis malam pekan lalu, Anies menjenguk ibu sahabatnya yang dirawat di ICU RS Pasar Minggu. Antar bilik pasien dipisahkan gorden.⁣

Suaranya keras walau terhalang masker oksigen yang dipakainya. Hingga terdengar seruangan ICU.⁣

“Saya hampiri. Matanya menatap tajam. Tangan, kaki dan sekujur badan terkulai tanpa gerak. Dia mengalami patah di 2 ruas tulang lehernya. Tangan dan kaki terlihat lumpuh. Seorang anak muda, 15 tahun, kecelakaan saat perjalanan ke kegiatan taklim,” tulis akun @aniesbaswedan disertai beberapa foto momennya bersama almarhum. ⁣

“Rahmat Hidayat,” jawabnya, saat saya tanya nama.

Dayat, panggilannya, lalu menyanyikan lagu penyemangat Persija. Saya dengar dia juga suka melantunkan shalawat. Dlm sakit yang tak terkira itu, dia masih melantunkan shalawat.⁣

“Cium saya Pak. Cium saya Pak,” pinta Dayat.

Saya tatap dia. Dia senyum dan saya senyum. Lalu saya sentuh keningnya, pundaknya. Perlahan saya cium keningnya. Saya tahan, saya cium lama kening Dayat. Seakan anak sendiri. Sambil membayangkan dia sedang berhadapan perenggang nyawa.

Terdengar suara lirihnya, “terima kasih Pak Anies, terima kasih.” Saya senyum dan berdoa.⁣

Saya pamit sambil memastikan operasi bisa segera dilaksanakan. Alhamdulilah Jumat pagi operasi dilakukan. Ikhtiar manusia menyelamatkan anak belia ini. Lebih dari 12 jam dokter dan paramedik berjuang di meja operasi. Misi yang tidak ringan.⁣

Allah punya rencana lain. Minggu subuh, sebuah teks masuk di WhatsApp mengabarkan Dayat wafat pukul 1 dinihari.⁣

View this post on Instagram

Pak Anies, Pak Anies, Pak Anies!⁣ ⁣ Terdengar suara pasien di bilik sebelah ruang ICU itu memanggil-manggil.⁣ ⁣ Kamis malam itu saya menjenguk ibu sahabat yg dirawat di ICU RS Pasar Minggu. Antar bilik pasien dipisahkan korden.⁣ ⁣ Suaranya keras walau terhalang masker oksigen yg dipakainya. Hingga terdengar seruangan ICU.⁣ ⁣ Saya hampiri. Matanya menatap tajam. Tangan, kaki dan sekujur badan terkulai tanpa gerak. Dia mengalami patah di 2 ruas tulang lehernya. Tangan dan kaki terlihat lumpuh. Seorang anak muda, 15 tahun, kecelakaan saat perjalanan ke kegiatan taklim. ⁣ ⁣ “Rahmat Hidayat,” jawabnya, saat saya tanya nama. Dayat, panggilannya, lalu menyanyikan lagu penyemangat Persija. Saya dengar dia juga suka melantunkan shalawat. Dlm sakit yang tak terkira itu, dia masih melantunkan shalawat.⁣ ⁣ “Cium saya Pak. Cium saya Pak,” pinta Dayat. Saya tatap dia. Dia senyum dan saya senyum. Lalu saya sentuh keningnya, pundaknya. Perlahan saya cium keningnya. Saya tahan, saya cium lama kening Dayat. Seakan anak sendiri. Sambil membayangkan dia sedang berhadapan perenggang nyawa. Terdengar suara lirihnya, “terima kasih Pak Anies, terima kasih.” Saya senyum dan berdoa.⁣ ⁣ Saya pamit sambil memastikan operasi bisa segera dilaksanakan. Alhamdulilah Jumat pagi operasi dilakukan. Ikhtiar manusia menyelamatkan anak belia ini. Lebih dari 12 jam dokter & paramedik berjuang di meja operasi. Misi yang tidak ringan.⁣ ⁣ Allah punya rencana lain. Minggu subuh, sebuah teks masuk di wa mengabarkan Dayat wafat pukul 1 dinihari.⁣ ⁣ Pagi tadi saya melayat ke Jagakarsa. Di mushola tempat dia disholatkan, saya temui Ayah-Ibunya. Mereka masih terpukul; tak pernah ada dalam bayangannya kalau mereka yg melahirkan dan membesarkan Dayat, kini harus menguburkannya. Pada orangtuanya saya sampaikan, InsyaAllah anak ini akan jadi pembuka Jannah bagi mereka, amiin.⁣ ⁣ Kamis malam saya cium Dayat, pagi ini bertemu Dayat lagi setelah dia jadi jenazah. Husnul khatimah InsyaAllah..⁣ ⁣ Setelah disholatkan, kami angkat jenazahnya. Melepas ke rahmatullah.. Ke Rahmatullah semua akan kembali, sebuah pelajaran bagi semua. Kullu Nafsin Dzaa Iqatul Maut..⁣ ⁣ Al Fathihah...

A post shared by Anies Baswedan (@aniesbaswedan) on

“Pagi tadi saya melayat ke Jagakarsa. Di mushola tempat dia disholatkan, saya temui Ayah-Ibunya. Mereka masih terpukul; tak pernah ada dalam bayangannya kalau mereka yg melahirkan dan membesarkan Dayat, kini harus menguburkannya. Pada orangtuanya saya sampaikan, InsyaAllah anak ini akan jadi pembuka Jannah bagi mereka, amiin.”⁣

Kamis malam saya cium Dayat, pagi ini bertemu Dayat lagi setelah dia jadi jenazah. Husnul khatimah InsyaAllah..⁣

Setelah disholatkan, kami angkat jenazahnya. Melepas ke rahmatullah.. Ke Rahmatullah semua akan kembali, sebuah pelajaran bagi semua. Kullu Nafsin Dzaa Iqatul Maut..

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini