nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rumah Sakit di Tangsel Tak Mampu Tampung Pasien DBD yang Terus Melonjak

Hambali, Jurnalis · Kamis 07 Maret 2019 03:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 07 338 2026856 rumah-sakit-di-tangsel-tak-mampu-tampung-pasien-dbd-yang-terus-melonjak-nU6phCvHlX.JPG Pasien DBD menjalani perawatan di RSUD Tangsel (Foto: Hambali/Okezone)

TANGSEL - Jumlah pasien penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) terus mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan saking banyaknya, sejumlah rumah sakit, baik umum maupun swasta sudah tidak mampu lagi menampung pasien.

Salah satu fasilitas kesehatan yang menampung pasien DBD adalah Rumah Sakit (RS) Sari asih, di Jalan Otista, Ciputat, Kota Tangsel. Disana tercatat ratusan pasien DBD dirawat di kamar inap hingga di bangsal dan selasar rumah sakit.

Public Relations (PR) RS Sari Asih, Ciputat, Fitriaty Irviana menuturkan, jumlah pasien DBD yang datang menjalani perawatan sudah ramai sejak bulan Desember 2018 silam. Namun ternyata kondisi itu terus meningkat, dengan data per bulan Januari sebanyak 110 pasien DBD dan Februari menjadi 120 pasien.

"Lagi outbreak (mewabah) di sini. Enggak tahu ya sampai full terus. Kalau data dari bulan Januari itu pasien DBD ada 110 pasien, Februari ini 120 pasien. Kalau bulan Maret kita belum bisa extract, karena kan masih awal bulan, jadi belum ketarik datanya. Tapi yang pasti memang banyak banget pasien DBD," kata dia kepada Okezone, Rabu, 6 Maret 2019.

Dari seluruh pasien DBD yang dirawat, lanjut Fitriaty, mayoritas penderitanya berusia anak-anak dan anak muda. Para pasien sendiri merupakan pasien rujukan, di mana di rumah sakit sebelumnya tak tertampung lantaran kamar inap telah penuh.

"Dominan yang dirawat usia dewasa muda, dan anak-anak juga banyak," ujar Fitriaty.

Menurut dia, setiap bulannya pihak RS Sari Asih selalu rutin melaporkan 10 penyakit terbesar ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel. Hal demikian berlaku pula bagi seluruh rumah sakit swasta yang ada. Dengan begitu, seharusnya data yang dimiliki Dinkes mengenai jumlah korban DBD lebih up to date.

"Kan kita selalu report 10 penyakit terbesar untuk kirim ke sana (dinkes), dari sistem langsung," kata dia.

Sayangnya saat dikonfirmasi, pihak RSU Kota Tangsel sendiri masih tertutup soal data jumlah pasien DBD yang dirawat. Hal itu diperparah dengan data yang tidak sinkron antara pihak RSU dengan Dinkes Kota Tangsel.

"Nanti coba saya tanyakan direktur ya pak," ucap Kepala Bidang Pelayanan Medis RSU Tangsel, Dokter Imbar saat dikonfirmasi terpisah.

Sebenarnya, tak hanya di rumah sakit umum, banyak juga di rumah sakit swasta yang tidak mampu menampung perawatan pasien DBD. Namun, atas dasar kemanusiaan dan hal lainnya, maka pihak rumah sakit tetap merawat penderita DBD hingga ada peningkatan trombositnya.

Diketahui, peningkatan korban pasien DBD itu bisa dilihat di lantai 3 RSU Tangsel. Sejumlah anak-anak penderita DBD harus rela dirawat di selasar rumah sakit dengan fasilitas seadanya. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Kota Tangsel maupun di luar Tangsel. Bahkan, peningkatan wabah DBD itu menyebabkan jatuhnya korban meninggal dunia yang masih berusia balita. Korban bernama Nifa, warga Gang Gorik, RW 03, Pondok Aren, Tangsel.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini