nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bendung Koja Kembali Tersumbat, Bupati dan Walikota Diminta Tangani Sampah Bambu

Edi Hidayat, Jurnalis · Sabtu 09 Maret 2019 20:20 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 09 338 2027906 bendung-koja-kembali-tersumbat-bupati-dan-walikota-diminta-tangani-sampah-bambu-r7IeMh5Byh.jpg Sampah Bambu (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Walikota Bekasi, Bupati Bogor dan Walikota Depok diharapkan bersinergi untuk mengambil tindakan tegas dalam mengatasi penumpukan sampah bambu yang belakangan ini tanpa henti terjadi di Bendung Koja (Kota Bekasi).

Berdasarkan pengamatan Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas atau KP2C di lapangan, pada Jumat (8/3/2019) sampah bambu kembali menyumbat aliran sungai Cikeas di Bendung Koja (Kota Bekasi).

Permintaan itu disampaikan Ketua KP2C, Puarman, Sabtu (9/3/2019), seraya menginfokan ada tujuh perumahan bakal terancam banjir bila Bendung Koja tersumbat sampah ketika hujan lebat di hulu terjadi.

"Kami belum menghitung permukiman penduduk non perumahan. Tapi dipastikan pemukiman penduduk kampung juga ikut terancam," kata Puarman.

"Beberapa waktu lalu kami melakukan susur sungai bersama institusi terkait dan mendapati ada lebih 100 titik sumber sampah bambu, tersebar di Kabupaten Bogor, Kota Bekasi dan sebagian Kota Depok. Kami berharap Bupati dan Walikota peduli dengan masalah ini." kata Puarman lagi.

Baca Juga: Ratusan Ton Sampah Diangkat dari Kali Pisang Batu Bekasi

Sampah

Pemukiman yang terancam banjir berdasarkan data KP2C, sebanyak dua di Kabupaten Bogor (Vila Nusa Indah 3 dan Vila Mahkota Pesona); dan empat di Kota Bekasi (Bumi Perkemahan Jatisari, Puri Nusaphala, Perum Mandosi Permai, TPU Jatisari).

Permintaan KP2C itu dilontarkan karena timbulan sampah bambu selalu terjadi tanpa henti. "Sudah berulang kali dibersihkan, tapi tetap saja ada kiriman lagi dan nyangkut di Bendung Koja," jelasnya.

Untuk mencari tahu sumber sampah, pada Selasa (26/2/2019) dilakukan ekspedisi "Susur Sungai Cikeas Bersama". Susur sungai sehari penuh itu diawali dari satu titik di Jagorawi Golf, Desa Karanggan, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Berakhir di pos pantau Tinggi Muka Air (TMA) sungai Cikeas KP2C di perbatasan Nagrak, Kabupaten Bogor, dengan Jatirangga, Kota Bekasi.

Susur sungai melibatkan unsur Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, DLH Kota Bekasi, KP2C, Tagana Kabupaten Bogor, dan Tagana Kota Bekasi. Didukung Pemdes Bojongkulur, Pemdes Karanggan, Koramil Gunungputri, dan Pengurus golf Jagorawi, kegiatan ini menyusuri wilayah Kabupaten Bogor, Kota Depok dan Kota Bekasi.

Menurut Puarman yang menginisiasi susur sungai, pohon bambu mendominasi sepanjang bantaran sungai Cikeas. Ditemukan banyak pohon bambu yang hampir rubuh, sudah rubuh bahkan yang menghalangi aliran sungai.

"Banyak masyarakat dan pelaku usaha yang memangkas pohon bambu dan dibiarkan begitu saja. Ketika TMA naik, bambu bekas potongan terbawa oleh arus. Lalu, menyumbat di Bendung Koja," jelas Puarman.

Pembersihan sampah bambu selalu dilakukan para pihak terkait dibantu KP2C dan masyarakat sekitar. Namun hasilnya tidak efektif karena sampah bambu kembali dan selalu kembali menyumbat Bendung Koja.

Melihat solusi belum terurai dengan baik, KP2C meminta Walikota Bekasi, Bupati Bogor dan Walikota Depok turun langsung mengatasi persoalan ini. "Tanpa intervensi langsung beliau-beliau, kami tidak yakin persoalan sampah bambu ini akan menemui jalan keluar," tutur Puarman.

"Ataukah menunggu bencana banjir terjadi dulu, baru rame-rame ditangani secara serius," ujar Puarman.

Baca Juga: Buang Sampah Sembarangan, Ali Divonis Denda Rp20 Juta

Sampah

Dia juga menginformasikan bahwa Bupati Bogor, Ade Yasin, pernah menerbitkan Surat Bupati No.658.1/905/DLH pada Januari 2019 tentang larangan membuang sampah potongan bambu dan rumah tangga ke sungai Cikeas. Surat ini ditujukan kepada Camat Cileungsi, Gunung Putri, Citeureup dan Cibinong. "Namun surat ini belum berjalan efektif," ujarnya.

Selain duduk bersama satu meja, KP2C juga menyorongkan saran perlunya dilakukan sosialisasi dan surat peringatan kepada pelaku usaha dan masyarakat sepanjang aliran sungai Cikeas agar merawat pohon bambu di wilayahnya dengan baik.

"Jika pun harus melakukan pemangkasan pohon bambu, potongannya jangan dibiarkan di bantaran sungai. Karena ketika air sungai naik, potongan bambu akan hanyut dan menumpuk di Bendung Koja," imbau Puarman.

Menggiatkan Kepedulian

KP2C tak henti menggiatkan para pihak untuk peduli terhadap sungai Cikeas yang bersih. Pasalnya, empat perumahan sudah menjadi korban banjir pada Sabtu (15/2/2019) ketika air sungai meluap dan Bendung Koja tersumbat sampah bambu.

Keempat perumahan tersebut adalah Vila Nusa Indah 3 dan Vila Mahkota Pesona. Keduanya berada di Kabupaten Bogor. Sementara di Kota Bekasi, banjir melanda perumahan Bumi Perkemahan Jatisari dan Puri Nusaphala.

Akibat luapan Cikeas gara-gara sampah bambu, menurut Mur, penjaga Bendung Koja,  ketika itu ada satu prosesi pemakaman di pemakaman umum Jatisari sempat terganggu.

"Kami melihatnya miris. Ini bukan hanya karena curah hujan yang tinggi, tapi lebih karena perilaku warga yang tidak saling peduli. Sekarang kami ajak warga, mari kita jernihkan sungai Cikeas dengan menjaga sungai tetap bersih, agar memberikan manfaat untuk kehidupan kita bersama," ajak Puarman.

"Kami juga trenyuh melihat rekan-rekan dari Pasukan Katak Orange DLH Kota Bekasi, Tim Penanggulangan Bencana dan warga setempat yang bolak-balik membersihkan sungai untuk menyelamatkan ribuan warga dari ancaman banjir. Kegiatan mereka seolah tanpa ujung."

"Cobalah ada perhatian lebih serius sehingga masalahnya terselesaikan di sumbernya," pinta Puarman seraya menyampaikan apresiasinya atas apa yg dilakukan DLH Kota Bekasi selama ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini