Share

Hindari Kejaran Polisi, Sopir Angkot yang Bunuh Temannya Sempat Pura-Pura Meninggal

Anggun Tifani, Okezone · Senin 18 Maret 2019 18:18 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 18 338 2031716 hindari-kejaran-polisi-sopir-angkot-yang-bunuh-temannya-sempat-pura-pura-meninggal-xdhbOZu9Js.jpg Pelaku Pembunuhan Sopir Angkot (Foto: Anggun/Okezone)

TANGERANG - Rifky (22) ditangkap polisi lantaran membunuh rekannya, Feby, yang sama-sama bekerja sebagai sopir angkot. Peristiwa itu dipicu karena keduanya saling berebut penumpang.

Untuk menghindari kejaran polisi, pelaku selama ini membuat skenario kematian dengan cara pura-pura meninggal.

Kapolsek Benteng Kompol Ewo Samono menjelaskan, skenario tersebut juga dilakukan oleh pihak keluarga. Saat itu, keluarga menyembunyikan pelaku dengan cara memberikan keterangan palsu kepada kepolisian.

"Dalam upaya pencarian pihak kami sempat disesatkan pihak keluarga pelaku bahwa korban seolah pelaku meninggal dunia. Ini untuk menutupi supaya tidak dilakukan pencarian," kata Ewo saat konferensi pers, Senin (18/3/2019).

Baca Juga: Rebutan Penumpang, Sopir Angkot di Tangerang Tega Bunuh Temannya

BB

Ewo mengatakan, pelaku sempat lari ke kampungnya, di Lampung. Selama pelarian, pelaku sering berpindah-pindah tempat ke daerah Bangka selama lima tahun.

"Kami waktu itu kejar sampai ke beberapa tempat. Kemarin 13 maret 2019 kami, di backup polres melakukan penangkapan pelaku Rifky dan dibawa di Polsek Tangerang," ucapnya.

Sementara itu, Rifky yang saat membunuh korban masih berumur 17 tahun, mengaku seringkali dihantui perasaan bersalah akibat ulahnya membunuh Feby. Dia mengatakan, bahwa sosok temannya yang dibunuh seringkali datang ke dalam mimpinya.

"Iya saya merasa bersalah pak. Suka dimimpiin dicekek sama dia (Feby)," ungkapnya.

Pembunuhan

Diketahui sebelumnya, mereka dua telah saling sepakat untuk damai. Namun pelaku masih kesal terhadap korban. Sehingga pertumpahan darah terjadi pada tanggal 1 Mei 2014, di sekitar Pom Bensin Pengayoman Jalan jenderal sudirman. Dimana saat kejadian, pelaku menggunakan belati untuk menusuk dada korban.

Atas hal tersebut, korban diancam Pasal UU RI Nomor 23 tahun 2002 dan atau Pasal 338 KUHP dan atau 351 ayat (3) KUHP tentang perlindungan anak dan atau pembunuhan dan atau penganiayaan berat yang mengakibatkan meninggal dunia, dengan hukuman 15 tahun penjara atau denda Rp3 Miliar.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini