nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ibu Ini Rela Gendong Anaknya yang Idap Distrofi Otot ke Sekolah

Hambali, Jurnalis · Selasa 19 Maret 2019 20:58 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 19 338 2032342 ibu-ini-rela-gendong-anaknya-yang-idap-distrofi-otot-ke-sekolah-pmpTScNLXc.jpg Ibu ini gendong anaknya yang idap DMP (Foto: Hambali/Okezone)

TANGERANG SELATAN - Fauzan Akmal Maulana (15), siswa pengidap Dystrophy Muscular Progressive (DMP) atau distrofi otot ini tak patah semangat untuk tetap mengikuti kegiatan belajar di SMP Terbuka 1, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Sang ibu, Winih (49), tak kenal lelah membopong putranya itu memasuki ruangan kelas. Begitupun saat jam sekolah telah usai, lagi-lagi Winih kembali membopongnya untuk pulang ke rumah di daerah Pondok Ranji, Ciputat Timur.

Fauzan mengidap DMP sejak tahun 2015 silam. Ketika itu, tanpa sebab yang jelas tiba-tiba dia tak bisa beranjak dari tempat tidurnya. Setelah dibawa ke rumah sakit, tim dokter lantas memvonisnya mengidap DMP atau kelainan berupa pelemahan otot akibat degenerasi progresif.

Diceritakan Winih, Fauzan sebenarnya sejak lahir tak memiliki tanda-tanda penyakit yang dideritanya saat ini. Bahkan seperti anak-anak sepantarannya, Fauzan bersekolah dan bermain bebas tanpa ada gangguan fisik apapun.

"Waktu mulai kena nggak bisa bangun itu saat kelas 5 SD. Sebelumnya enggak apa-apa. Bisa sekolah, bisa main seperti anak-anak biasa," terang Winih kepada Okezone, Selasa (19/3/2019).

Baca Juga: Viral Video "Spidergirl" Panjat Dinding Kelas

Gendong

Sang ibu hanya bisa pasrah, begitu dijelaskan tim dokter RSU Fatmawati, Jakarta Selatan, jika putranya menderita pelemahan otot. Namun begitu, Fauzan yang masih duduk di bangku kelas 5 SD tetap berkeras agar bisa menyelesaikan sekolahnya.

"Akhirnya dapat kebijaksanaan dari sekolah untuk bisa tetap sekolah. Alhamdulillah bisa lulus SD waktu itu," sambungnya.

Dengan kondisi fisik yang sulit untuk berdiri, Fauzan lebih sering beraktifitas sambil terbaring ataupun bersandar. Semua kebutuhannya untuk makan dan minum, selalu dilayani dengan sabar oleh Winih.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di bangku SD, Fauzan selanjutnya meminta kepada sang ibu agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Meski dalam batin tak tega melihat keterbatasan putranya itu, namun Winih selalu mensupport semangat Fauzan untuk mengenyam dunia pendidikan.

"Kalau masuk sekolah berkebutuhan khusus kan mahal biayanya. Terus sempat cari-cari juga, akhirnya dapat informasi tentang SMP Terbuka 1 Tangsel, ya terus daftar kesitu," lanjutnya.

Menurut Winih, Fauzan memang sangat bersemangat jika beraktifitas di sekolah. Hal demikian, menjadi salah satu alasan kuat baginya untuk terus membopong Fauzan ke sekolah meski tubuh putranya itu kian hari kian bertambah berat.

"Memang kata dokter sensorik, motorik dan otaknya bagus bisa tumbuh baik. Cuma lemah pada ototnya. Sehingga makin ke sini, kakinya makin mengangkat dan kecil. Tapi dia masih bisa menerima pelajaran," ulas Winih.

Winih harus tegar menghadapi kenyataan yang dialami keluarga kecilnya. Pasca ditinggal wafat suaminya pada awal Februari 2019 kemarin, Winih harus banting tulang menghidupi dua anaknya, yakni Fauzan dan Nisrina Fauziah (21), yang saat ini tengah mengenyam pendidikan di bangku kuliah.

"Fauzan dengan segala kekurangannya sangat bersemangat untuk sekolah. Katanya mau jadi Dokter. Apapun akan saya perjuangkan demi anak-anak, walau harus mengurusnya seorang diri," serunya lagi.

Baca Juga: Jasad Ulama di Blitar Tetap Utuh Meski Sudah Dimakamkan 31 Tahun

Winih sendiri diketahui hanya mencari nafkah dari berjualan gorengan ke toko-toko langganannya. Di tengah mengantarkan gorengannya itulah, Winih selalu menyempatkan diri untuk mengantar Fauzan ke tempat belajar, dengan berboncengan sepeda motor.

"Kalau di Tempat Kegiatan Belajar (TKB), saya bonceng naik motor. Tapi kalau ke sekolah Induk di SMP Terbuka 1, kami sewa angkot bersama teman-teman dari TKB kami di Pondok Aren," katanya.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini