nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Pihak Sekolah tentang Semangat Fauzan, Siswa Pengidap Pelemahan Otot

Hambali, Jurnalis · Rabu 20 Maret 2019 22:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 20 338 2032749 cerita-pihak-sekolah-tentang-semangat-fauzan-siswa-pengidap-pelemahan-otot-vXJD65j2e8.JPG Koordinator TKB SMP Terbuka Mandiri, Edi Supriyadi (Foto: Hambali/Okezone)

TANGSEL - Fauzan Akmal Maulana (15) tetap semangat bersekolah, meski kondisi fisik tubuhnya terus melemah akibat mengidap penyakit Dystrophy Muscular Progressive (DMP). Otot pada bagian kaki dan tangannya terus mengalami pelemahan progresif, hingga nyaris tidak bisa digerakkan.

Fauzan divonis dokter mengidap DMP sejak tahun 2015 silam. Sejak itulah, kaki dan tangannya semakin sulit digerakkan. Untuk beraktivitas sehari-hari, dirinya harus dibantu sepenuhnya oleh sang ibu, Winih Utami Pristiwati (49), termasuk untuk makan, minum, ke kamar mandi dan berangkat ke sekolah.

Fauzan kini tercatat sebagai siswa kelas 3 SMP Terbuka Mandiri, di Jalan Ceger Raya Nomor 55 C, Komplek SDIP Baitul Mal, Jurang Mangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel). Sekolah ini, menginduk ke SMP Terbuka 1 di kawasan Serpong.

Koordinator Tempat Kegiatan Belajar-mengajar (TKB) SMP Terbuka Mandiri, Edi Supriyadi menuturkan, Fauzan terbilang siswa yang memiliki semangat tinggi untuk belajar di sekolah. Meski jika dilihat dari kondisi fisik, tak seperti kebanyakan temannya di kelas yang leluasa beraktivitas.

"Saya kagum lihat semangatnya, karena mohon maaf dengan kondisi fisik seperti itu dia tetap mengikuti kegiatan belajar di kelas seperti yang lain. Jadi, enggak ada rasa minder atau bagaimana. Semangatnya itu yang harus ditiru oleh siswa lain," ujar Edi saat berbincang dengan Okezone di ruang kerjanya, Rabu (20/3/2019).

Fauzan Digendong Ibunya ke Sekolah

Edi mengungkapkan, saat berada di ruang kelas, Fauzan hanya bisa didudukkan di atas bangku. Namun, dia tak dapat bersandar, lantaran otot-otot di bagian punggungnya pun akan sulit digerakkan untuk bisa bangkit duduk di posisi normal.

"Ya, kalau di kelas diposisikan duduk tegak saja, karena kalau bersandar nanti kesulitan buat bangunnya lagi. Kalau untuk menulis masih bisa sedikit-sedikit, tapi nanti dibantu sama teman-temannya di kelas," kata dia.

Sebenarnya, lanjut Edi, untuk meringankan beban Fauzan pihaknya telah memberi kebijakan khusus dengan tidak memberi tugas-tugas sekolah yang menberatkan. Apalagi setelah sepeninggal ayahnya pada Februari 2019 lalu, Fauzan kini hanya diurus oleh ibunya seorang diri.

"Kita punya kebijakan sendiri, artinya jangan sampai memberatkan dia dan ibunya di rumah. Cukup pelajaran itu dikerjakan yang di kelas saja, tetap kita pantau, kita bantu kendala-kendalanya dalam belajar di kelas," tuturnya.

Fauzan sendiri hari ini tidak masuk ke sekolah, lantaran kondisi fisik yang memaksanya harus beristirahat. Jika tak ada halangan, setiap hari Fauzan selalu hadir di kelas. Winih datang mengantar ke sekolah dengan berboncengan sepeda motor. Begitupun saat jam sekolah berakhir, sang ibu kembali datang guna menjemputnya pulang.

Teman Sekelas Fauzan

"Kalau datang sekolah pagi, dia dibonceng duduk di depan, jadi dibuatkan penyangga khusus. Nanti ibunya datang lagi siang hari untuk menjemput pulang," ucap Edi.

Fauzan memiliki seorang kakak bernama Nisrina Fauziah (21), yang saat ini tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Ketiganya tinggal di daerah Kampung Pladen, Pondok Ranji, Ciputat Timur.

Setiap hari, Winih harus banting tulang mencari nafkah dengan cara berkeliling mengantar gorengan ke warung-warung langganan. Semangat kedua anaknya untuk tetap menuntut ilmu, menjadi dorongan tersendiri bagi sang ibu meski harus bercucuran peluh mengais rezeki setiap hari.

"Jadi semangat keluarga ini luas biasa, terlebih ibunya," kata Edi mengakhiri.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini