Share

Nyorog, Tradisi Orang Betawi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Arie Dwi Satrio, Okezone · Sabtu 04 Mei 2019 09:02 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 03 338 2051253 nyorog-tradisi-orang-betawi-menyambut-bulan-suci-ramadan-nJ2htorex0.jpg ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)

INDONESIA merupakan salah satu negara yang kaya akan budaya, adat istiadat, serta tradisinya. Di Indonesia sendiri, ada banyak tradisi yang masih dipertahankan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Salah satu tradisi milik Suku Betawi yang masih lestari dalam menyambut bulan Ramadan yaitu nyorog. Nyorog merupakan tradisi orang Betawi dengan membawa makanan dan bingkisan kepada sanak saudara serta tokoh tetua yang ada dalam keluarga ataupun di kampungnya.

Nyorog lazimnya dilakukan dari keluarga yang paling muda dengan mendatangi tokoh-tokoh atau keluarganya yang lebih tua. Mereka yang datang, biasanya membawa bingkisan berupa sembilan bahan pokok alias sembako seperti telur, gula, kopi, beras ataupun makanan siap saji.

Tradisi nyorog sendiri sebenarnya sudah ada sejak dulu. Mereka orang Betawi zaman dahulu menjadikan tradisi nyorog sebagai pengingat untuk memasuki bulan Ramadan. Selain itu, nyorog juga dijadikan sebagai ajang silaturahmi dan saling bermaafan sebelum memasuki bulan puasa.

Perkampungan Betawi Setu Babakan

‎"Nyorog itu sejak saya kecil juga sudah ada. Jadi, dari dulu itu, ibarat kata udah dari zaman sepuh sudah ada. Kalau saya disuruh bapak saya, nih bawain sonoh ke rumah engkong ini, gitu," kata Masenah (55), warga Betawi asli saat ditemui Okezone di Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan belum lama ini.

‎Di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, tradisi nyorog sendiri masih dilakukan oleh orang asli yang lahir di daerah tersebut. Namun, di perkampungan tersebut, nyorog hanya dilakukan oleh beberapa orang saja dan sifatnya personal bukan sebagai suatu perayaan.

Tradisi nyorog sendiri diakuinya sudah mulai jarang dilakukan oleh orang Betawi. Menurut Masenah, ‎tradisi tersebut biasanya lebih banyak dilakukan oleh keluarga yang berkelebihan harta alias tajir.

"Masih ada sampai sekarang kalau di sini, cuma ya itu, nyorog itu sebenarnya sekarang bagi yang mampu saja. Tergantung keuangan.‎ Lah kalau kita enggak mampu, misalnya, saya yang lebih muda enggak mampu, terus yang lebih tuanya malah kaya, kan kebalik," tuturnya.

Warga Betawi di Setu Babakan

Tradisi nyorog sejatinya tak hanya melulu dilakukan menjelang Ramadan tiba. Namun, tradisi itu juga biasa dilakukan dalam acara pernikahan adat Betawi. Di mana, pihak keluarga mempelai laki-laki sebelum lamaran sudah mendatangi keluarga mempelai perempuan lebih dulu dengan membawa sorogan atau ‎bahan makanan disertai bingkisan.

Tradisi nyorog belakangan kian langka ditemui. Hanya sebagian orang asli Betawi yang hingga kini melestarikan tradisi tersebut untuk prosesi adat. Masenah kembali menjelaskan bahwa nyorog bisa diartikan juga sebagai pengikat tali silaturahmi ataupun sogokan. Lazimnya, sorogan diberikan dari keluarga laki-laki untuk mengikat sang perempuan yang akan dinikahkan.

Sementara dalam prosesi menjelang Ramadan, nyorog bisa juga disebut sebagai munggahan. Nyorog menjelang bulan puasa di Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan, dilakukan sepekan sebelum puasa tiba.

"Kalau puasa begini namanya munggahan. Nah, kalau nyorog sebenarnya untuk pernikahan juga, jadi kalau mau nikah itu biasanya yang kita sorog duluan. Tapi itu juga ada yang pakai ada yang enggak," tutur Masenah.

Infografis Tradisi Sambut Ramadan

Fatmawati (59), warga Betawi lainnya yang tinggal di Tangerang menceritakan, tradisi nyorog sudah mulai terkikis sejak awal tahun 2000-an. Tradisi itu perlahan lenyap seiring banyaknya warga asli Jakarta yang pindah ke luar Ibu Kota, seperti Tangerang, Depok, Bekasi dan Bogor.

Padahal, dulu tradisi nyorog menjelang Ramadan kerap dijadikan ajang silaturahmi bagi keluarga besar yang domisili di tempat jauh. Sebab kata dia, lokasi tempat tinggal penduduk asli Betawi zaman dulu saling berjauhan.

"Karena kan kalau dulu rumahnya jauh-jauh ya, yang banyak kebon dulu. Nah, jadi nyorog itu ‎kumpul-kumpul, yang muda datangi yang tuaan, bawa makanan. Tapi, makan bareng juga di situ, nanti pulangnya bisa dibawain juga," ujar Fatmawati.

Baca Juga: Rayakan Satu Tahun, BuddyKu Fest Hadirkan Sesi Media Challenges

Follow Berita Okezone di Google News

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini