nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Masjid Agung Sunda Kelapa dan Bayang-Bayang Trauma G30SPKI

Khafid Mardiyansyah, Jurnalis · Selasa 11 Juni 2019 18:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 11 338 2065367 masjid-agung-sunda-kelapa-dan-bayang-bayang-trauma-g30spki-R2WNj5B5T6.jpg Masid Agung Sunda Kelapa (Foto: Okezone)

PERISTIWA Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30SPKI) pada 1965 memunculkan trauma sendiri untuk warga Menteng, Jakarta Pusat. Di tahun itu, Menteng menjadi salah satu daerah paling berdarah karena menjadi saksi penculikan tujuh jenderal TNI yang pada akhirnya tewas terbunuh.

Trauma tersebut memberikan pemahaman baru untuk warga setempat, bahwa pengalaman pahit itu bisa dihindari jika warganya menyadari pentingnya agama. Masyarakat Menteng, saat itu, kembali merindukan kehidupan yang lebih Islami.

Bayang-bayang trama tersebut diceritakan oleh HM Kasasi, salah seorang pengurus harian Masjid Agung Sunda Kelapa. Kasasi juga jadi saksi bagaimana masjid bergengsi tersebut hadir di tengah masyarakat Jakarta.

Masjid Agung Sunda Kelapa

Dalam buku Ensiklopedia Jakarta 2, terbitan PT Lentera Abadi, kisah pembangunan Masjid Agung tersebut menemui tak sedikit aral melintang sebelum akhirnya mulai dibangun tanggal 21 Desember 1969. Ditandai dengan seremonial peletakan batu pertama.

Pencetus berdirinya Masjid Agung Sunda Kelapa adalah Alamsyah Ratu Prawiranegara yang pada saat itu masih bertugas di Sekretariat Negara (Setneg). Alamsyah menilai masyarakat Menteng perlu memiliki sebuah masjid besar sebagai simbol kehidupan Jakarta yang lebih Islami.

(Baca Juga: Asal Usul Masjid Luar Batang dan Kisah Habib Husein bin Abubakar Alaydrus)

Tahun 1966, dibentuklah susunan kepanitiaan pembangunan masjid agung yang diketuai HBR Motik. Tak lama setelahnya, rombongan tersebut menemui Gubernur Ali Sadikin untuk meminta izin pembangunan masjid. Panitia juga sebelumnya telah menemui Pangdam V Jaya Jenderal Amir Mahmud dan Jenderal AH Nasution.

Secara lebih spesifik, rombongan panitia tersebut meminta izin kepada Gubernur Ali Sadikin untuk mengalihfungsikan Gedung Bappenas menjadi sebuah Masjid Raya. Namun, saat itu, Pemerintah dengan Kabinet Ampera mengaku masih membutuhkan gedung tersebut, bahkan hingga sekarang.

Masjid Agung Sunda Kelapa

Sebagai alternatif, panitia pada akhirnya melihat lokasi Stadion Menteng atau Lapangan Sunda Kelapa cocok untuk dibangun sebuah masjid besar. Tak banyak pikir, Gubernur Ali Sadikin langsung menunjuk Lapangan Sunda Kelapa sebagai lokasi pembangunan masjid yang masih tersohor hingga sekarang.

Dalam pembangunannya, panitia merancang Masjid Agung Sunda Kelapa sebagai masjid pertama yang memiliki standar arsitektur berkelas. Masjid ini pun menjadi pionir yang memadukan konsep ibadah dengan perekonomian dan pendidikan, yang pada akhirnya diikuti oleh banyak masjid di Jakarta hingga sekarang.

(Baca Juga: Menguak Sejarah Little India di Sunter Jakarta Utara)

Konsep memadukan tiga kegiatan itu diakomodasi dengan keberadaan lantai yang berbeda. Lantai atas digunakan untuk ibadah dan dakwah. Sedangkan lantai bawah digunakan sebagai aula atau tempat resepsi hajat yang disewakan, perkantoran, ruang rapat, hingga ruang berwudu.

Secara arsitektur, gaya yang ditampilkan Masjid Sunda kelapa mengikuti tren yang berkembang saat itu. Masjid memiliki bentuk yang praktis dan sederhana namun penuh dengan nuansa modern. Kesederhanaan tersebut terlihat dalam pemilihan model pintu, jendela dan asesoris masjid.

Sisi praktisnya juga terlihat saat masjid ini mengandalkan struktur beton pada pilar dan atap. Serta bernuansa modern dengan model lampu taman, undakan tangga maupun plaza di pintu masuk utamanya.

Masjid Agung Sunda Kelapa

Kini, masjid tersebut masih terkenal dengan gengsinya. Banyak sejoli yang memilih melangsungkan resepsi pernikahan di masjid yang menjadi ikon tempat kelas satu, selain Masjid Biru Pondok Indah itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini