nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sejarah Gedung Kesenian Jakarta, dari Markas Tentara Jepang hingga Bioskop

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Minggu 16 Juni 2019 12:29 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 16 338 2066985 sejarah-gedung-kesenian-jakarta-dari-markas-tentara-jepang-hingga-bioskop-cSC07b5Hlg.jpg Gedung Kesenian Jakarta. (Foto : GKJ)

GEDUNG Kesenian Jakarta terletak di Jalan Gedung Kesenian Nomor 1, Jakarta Pusat. Ide munculnya gedung ini berasal dari Gubernur Jenderal Belanda, Daendels. Kemudian direalisasikan oleh Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles pada 1814.

Mengutip buku Ensiklopedia Jakarta 3, pada masa pendudukan tentara Dai Nippon, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara. Sedangkan pada masa kemerdekaan, gedung ini difungsikan sebagai ruang kuliah untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Hukum Universitas Indonesia. Gedung ini juga sempat digunakan sebagai bioskop.

Awalnya gedung ini bernama Municipal Theatre, Schouwburg, atau lebih populeh disebut "Gedung Komidi". Di zaman Jepang gedung ini disebut Kiritsu Gekitzyoo, lalu berubah menjadi bioskop Dana dan City Theatre. Pada 1984, bangunan ini dipugar dan dikembalikan fungsi semula sebagai pentas kesenian dan ditetapkan namanya menjadi "Gedung Kesenian Jakarta".

Kini, setiap akhir pekan, Sabtu-Minggu, banyak seniman berkumpul di Gedung Kesenian Jakarta, bahkan di antara mereka ada yang berekspresi dan memamerkan hasil kreasinya. Selain karena tempatnya yang mudah dijangkau, banyak warga lebih mengenal tempat ini sebagai gudangnya seniman.

Gedung Kesenian Jakarta. (foto : GKJ)

Gedung Kesenian Jakarta merupakan bangunan tua peninggalan bersejarah pemerintah Hindia-Belanda yang hingga kini masih berdiri kokoh di Jakarta Pusat. Gedung ini adalah tempat para seniman dari seluruh Nusantara mempertunjukkan hasil kreasi seninya, seperti drama, teater, film, dan sastra. Bangunan besar berwarna putih ini dibangun pada 1802.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, tepatnya pada 29 Agustus 1945, pengelolaan gedung ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Gedung ini juga merupakan saksi sejarah penting perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaannya. Gedung ini pernah dipakai Soekarno sebagai tempat meresmikannya Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan digunakan sebagai tempat bersidang KNIP. Sebelumnya, gedung ini juga pernah digunakan sebagai tempat Kongres Pemuda yang pertama pada 1926.


Baca Juga : Sejarah Angke, Kampung 'Darah dan Bangkai'

Setelah dikeluarkannya Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 24/1984, gedung tua ini kemudian dipugar dan dikembalikan fungsinya semula sebagai gedung kesenian bernama resmi Gedung Kesenian Jakarta.

Sebagai sebuah tempat pertunjukan seni, Gedung Kesenian Jakarta memiliki fasilitas yang bagus dan memadai, di antaranya ruang pertunjukan berukuran 24x17,5 meter dengan kapasitas penonton sekitar 475 orang, panggung berukuran 10,75x14x17 meter, peralatan tata cahaya, kamera CCTV di setiap ruangan, TV monitor, ruang foyer berukuran 5,8x24 meter, serta fasilitas outdoor berupa electric billboard untuk keperluan publikasi. Gedung kesenian ini juga menerbitkan media publikasi, seperti surat kabar, rekaman audio, dan rekaman video.

Baca Juga : Sejarah Karet Tengsin: Berawal Seorang Keturunan China yang Baik Hati

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini