nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Asal Muasal Bioskop di Jakarta, dari Misbar hingga Bertingkat

Awaludin, Jurnalis · Minggu 16 Juni 2019 16:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 16 338 2067041 asal-muasal-bioskop-di-jakarta-dari-misbar-hingga-bertingkat-qQ1QhoQtDS.jpg Foto Ilustrasi Okezone

BIOSKOP pertama di Jakarta berdiri Desember 1900 di Jalan Tanah Abang I. Jakarta Pusat, karcis kelas satu harganya dua gulden (perak) dan harga karcis kelas dua setengah perak.

Mengutip Ensiklopedia Jakarta 3 (Eni Setiati,dkk, 2009). Bioskop zaman dulu bermula di sekitar Lapangan Gambir (kini Monas). Bangunan bioskop masa itu menyerupai bangsal dengan dinding dari bambu atau kayu dan beratapkan kaleng atau seng. Setelah selesai pemutaran film, bioskop itu kemudian dibawa keliling ke kota yang lain. Bioskop ini dikenal dengan Talbot (nama dari pengusaha bioskop tersebut).

Lalu bioskop lain diusahakan oleh seorang yang bernama Schwarz, tempatnya terletak kira-kira di Kebon Jahe, Tanah Abang. Sebelum akhirnya hancur terbakar, bioskop ini nama menempati sebuah gedung di Pasar Baru. Ada lagi bioskop yang bernama De Callone (nama pengusahanya) yang terdapat di Deca Park. De Callone ini mula-mula adalah bioskop terbuka di lapangan, yang di zaman sekarang disebut "misbar", gerimis bubar. De Callone adalah cikal bakal dari bioskop Capitol yang terdapat di Pintu Air.

Metropole

Bioskop-bioskop lain seperti, Elite di Pintu Air, Rex di Kramat Bunder, Cinema di Krekot, Astoria di Pintu Air, Central di Jatinegara, Rialto di Senen dan Tanah Abang, Surya di Tanah Abang, Thalia di Hayam Wuruk, Olimo, Orion di Glodok, Al Hambra di Sawah Besar, Oost Java di Jln. Veteran, Rembrant di Pintu Air, Widjaja di Jl. Tongkol Pasar Ikan, Rivoli di Kramat, dan lain-lain merupakan bioskop yang muncul dan ramai dikunjungi setelah periode 1940-an.

(Baca juga: Sejarah Karet Tengsin: Berawal Seorang Keturunan China yang Baik Hati)

(Baca juga: Sejarah Angke, Kampung 'Darah dan Bangkai')

Film-film yang diputar di dalam bioskop tempo dulu adalah film gagu alias bisu atau tanpa suara. Biasanya pemutarannya diiringi musik orkes, yang ternyata jarang "nyambung" dengan filmnya. Beberapa film yang kala itu menjadi favorit masyarakat adalah Fantomas, Zigomar, Tom MIx, Edi Polo, Charlie Caplin, Max Linder, dan Arsene Lupin.

Di Jakarta pada tahun 1951 diresmikan biskop Metropole yang berkapasitas 1.700 tempat duduk, berteknologi ventilasi peniup dan penyedot, bertingkat tiga dengan ruang dansa dan kolam renang di lantai paling atas. Di Jakarta pada awal Orde Baru dianggap sebagai menawarkan kemajuan perbioskopan, masa yang baik dalam jumlah produksi film nasional maupun bentuk dan sarana tempat pertunjukan.

Kemajuan ini memuncak pada tahun 1990-an. Pada dasawarsa itu produksi film nasional 112 judul. Setelah itu sejak 1987 bioskop dengan konsep sinepleks (gedung bioskop dengan lebih dari satu layar) semakin marak. Sinepleks-sinepleks ini biasanya berada di kompleks pertokoan, pusat perbelanjaan, atau mal yang selalu jadi tempat nongkrong anak-anak muda dan kiblat konsumsi terkini masyarakat perkotaan. Di sekitar sinepleks itu tersedia pasar swalayan, restoran cepat saji, pusat mainan, dan macam-macam.

 Bioskop

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini