nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Misteri Kematian Olis Hebohkan Warga Bekasi, Polisi Bakal Bongkar Makam

Wijayakusuma, Jurnalis · Selasa 18 Juni 2019 00:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 17 338 2067534 misteri-kematian-olis-hebohkan-warga-bekasi-polisi-bakal-bongkar-makam-RSl00AOPSf.jpg

BEKASI - Kematian seorang perempuan paruh baya bernama Olis (46), warga Kampung Kandang RT 06 RW 05, Desa Sukaraja, Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menghebohkan warga sekitar lantaran masih diselimuti misteri.

Pihak keluarga meminta kepolisian untuk membongkar makam guna mencari tahu penyebab pasti tewasnya korban melalui autopsi. Olis tenggelam di tanggul irigasi, Kampung Sukamantri, saat tengah mencuci pakaian, Minggu 14 April 2019 sore.

Jasadnya ditemukan pada radius 300 meter sekira pukul 18.30 WIB atau sekitar 25 menit usai korban tercebur. Pihak keluarga menyebutkan banyak kejanggalan yang menyelimuti kematian Olis. Mulai dari kebiasaan korban yang tidak pernah mencuci di sore hari, hingga terdapat sejumlah memar kebiruan dan luka baret pada jasad korban.

Olis

"1 jam atau 45 menit sebelum jasad ditemukan, almarhum bersama dengan suaminya baru saja menyelesaikan tugas rutin harian, yaitu menagih arisan kepada warga sekitar. Memang pekerjaan almarhum seperti itu," kata kuasa hukum pihak keluarga korban, Ius Soliwanto kepada Okezone di Bekasi, Senin (17/6/2019).

Sejumlah pihak mengatakan jika korban meninggal akibat terserang ayan sehingga tercebur ke dalam tanggul. Namun hal tersebut dibantah keras oleh keluarga korban yang menegaskan jika korban tidak pernah mengidap penyakit ayan.

"Tidak ada catatan atau keturunan daripada almarhum yang dinyatakan ayan. Di sinilah kami menyimpulkan adanya dugaan pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang entah itu siapa. Untuk itu kami membuat laporan ke Polsek Cikarang, dimana yang melaporkan adalah kedua anak korban," tegasnya.

Ilustrasi

Menurut Ius, kala itu jasad korban hanya dilakukan visum luar yang menunjukkan tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya. Namun pihak keluarga berpendapat lain dan ingin agar dilakukan autopsi ulang di rumah sakit resmi kepolisian.

"Seharusnya ketika ada mayat ditemukan itu harus laporan resmi dari rumah sakit kepolisian. Nah yang didapat pihak keluarga itu hanya visum rumah sakit umum yang menyatakan tidak ada tanda-tanda kekerasan. Tapi dari pihak keluarga agak ragu dengan pernyataan tersebut," paparnya.

"Ada ketidakpuasan dari keluarga untuk meminta melakukan autopsi ulang di rumah sakit resmi kepolisian. Ini kami ajukan kepada kepolisian dan rencananya autopsi akan dilakukan Kamis jika tidak ada halangan," jelasnya.

Ia pun berharap pihak kepolisian dapat segera mengungkap kasus ini untuk mencari tahu penyebab pasti kematian korban yang disebut-sebut masih dipenuhi misteri.

"Apakah memang ada unsur dugaan pembunuhan? Kalau benar siapa yang membunuh dan apa motifnya? Mudah-mudahan ini cepat selesai karena kematian korban masih misteri," imbuh Ius.

Unih, keponakan korban turut bercerita perihal kematian korban yang dinilai tak wajar serta terdapat sejumlah kejanggalan.

"Awalnya keluarga tidak curiga sama sekali. Cuma lambat laun kita dapat omongan sentilan-sentilan dari tetangga terdekat di lokasi yang bilang kematian korban tidak masuk akal dan ada dugaan pembunuhan. Nah akhirnya dari situ kita gak percaya (korban benar-benar tercebur)," ujarnya.

Meski hasil visum luar menunjukkan tidak ada tanda-tanda kekerasan, namun pihak keluarga beranggapan lain. Unih menyebutkan pada jasad korban terdapat sejumlah memar kebiruan dan beberapa luka baret, yang seolah menunjukkan adanya kekerasan fisik yang diterima korban sebelum meregang nyawa.

Ilustrasi

"Korban saat itu langsung dibawa ke Polsek dan divisum luar. Saat itu saya sempat lihat ada seperti besi kecil tertancap di dada kanan atas, warnanya abu-abu. Saya kira itu memang alat yang sengaja dipasang untuk keperluan visum. Besok paginya saya tanya ke orang yang ikut visum, katanya tidak pakai alat, hanya dipegang-pegang aja," ungkap Unih.

"Nah pas mau dimandikan, baru terlihat di kedua telinga korban, dada dan punggung membiru dan terdapat luka baret. Di jidat juga ada benjolan kecil-kecil," ujarnya.

Unih juga membeberkan bahwa rumah tangga korban sebelumnya tengah bermasalah dan diambang perceraian. Hal ini dikarenakan sang suami tidak pernah menafkahi korban dan kedua anak hasil pernikahan korban dengan suami pertama, Nining Mudrika (25) dan Ade Ismail (18). Selama ini hanya korban seorang diri yang mencari nafkah dengan berjualan sembari mengepul rongsokan.

"Beberapa bulan terakhir korban sering curhat ke saya mau bercerai karena gak pernah dinafkahi. Korban juga sering curhat ke anaknya soal modal usaha yang dipinjam suaminya tapi gak pernah dikembalikan. Karena merasa gak kuat, korban sempat memutuskan pisah ranjang selama dua bulan," jelasnya.

Dua hari sebelum kejadian, kata Unih, suami korban diketahui selalu datang berkunjung ke rumah korban untuk sekedar tidur dan pulang keesokan paginya.

"Malam Sabtu pulang, malam Minggu pulang, dan kejadiannya Minggu sore tiba-tiba bibi saya ditemukan terkapar di tanggul itu. Kenapa hari Minggu itu suaminya kesana? Saya sendiri gak tahu kalau mereka udah baikan," celetuknya.

Pihak keluarga berharap kepolisian dapat segera melakukan autopsi dengan membongkar kembali makam, untuk memastikan penyebab sesungguhnya kematian korban.

"Saya berharap pihak kepolisian bisa membantu kami mengungkap kasus ini secepatnya dan tidak pandang bulu, karena kami menduga kematian korban tidak wajar," imbuhnya.

Sementara itu, Kapolsek Cikarang Utara, Kompol Sujono mengungkapkan saat kejadian pihaknya telah menganjurkan agar jasad korban dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk dilakukan autopsi, guna mencari tahu penyebab tewasnya korban.

"Namun karena pihak keluarga merasa keberatan, sehingga korban kita bawa ke RSUD Bekasi. Dan keterangan dari RSUD Bekasi bahwa dari pengecekan fisik tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Dan pihak keluarga pada saat itu pun juga membubuhkan tanda tangan untuk keberatan dilakukan autopsi," ungkapnya.

Sejauh ini, kata dia, polisi telah menindaklanjuti laporan pihak keluarga dengan memeriksa sebanyak 15 orang saksi baik dari tetangga maupun sanak saudara korban.

Kapolsek Cikarang Utara

"Dari keterangan beberapa saksi, ini belum ada mengarah kepada perlakuan yang melibatkan katakanlah mungkin perlakuan kasar atau pun ada motif pembunuhan," ujarnya.

Pun demikian, kepolisian tetap akan memenuhi permintaan keluarga untuk membongkar makam dan melakukan autopsi terhadap jasad korban.

"Kita lakukan kalau memang dari pihak keluarga menghendaki dilakukan pembongkaran makam. Dan kita harapkan itu motif yang sebenarnya apa. Kami tidak akan menutupi, tidak akan cenderung ke satu pihak lain, kami fair dan akan kami buktikan apa yang menjadi penyebab kematian korban," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini