nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Melihat Indahnya Toleransi Antarumat Beragama di Kelenteng Ancol

Fahreza Rizky, Jurnalis · Jum'at 21 Juni 2019 08:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 21 338 2069028 melihat-indahnya-toleransi-antarumat-beragama-di-kelenteng-ancol-vOYA6HPRwW.jpg Kelenteng Ancol (1001 Indonesia)

BANYAK tempat di Jakarta yang sangat unik dan melambangkan indahnya toleransi antarumat beragama. Tak ayal, tempat unik tersebut menjadi pusat perhatian masyarakat, salah satu ialah Kelenteng Ancol.

Dilansir dari buku Ensiklopedia Jakarta, Klenteng ini didirikan pada tahun 1650, terletak di dekat Taman Impian Jaya Ancol. Dahulu kelenteng ini jauh dari luar tembok kota, suatu tempat tak berpenghuni. Kelenteng ini dibaktikan kepada Do Bo Gong dan Dewa Tanah.

 Baca juga: Kampung Marunda Pulo: Tempat Si Pitung Lahir hingga Markas Pasukan Belanda

Arsitektur kelenteng ini bercorak Taois dengan gaya khusus, karena kelenteng ini dikaitkan dengan makam seorang Islam yang dianggap keramat. Karena itu pula kelenteng ini menjadi tempat pemujaan orang China maupun pribumi.

Kelenteng ancol (Youtube)

Kelenteng seperti ini juga ditemukan di Semarang (di Gedung Batu) dan Pulau Kemaro (Palembang). Sebelum abad ke-18 kelenteng ini belum berwujud seperti sekarang.

Kelenteng Ancol ini dianggap unik, karena sebagai vihara, kelenteng ini bukan hanya didatangi oleh orang Buddha dan keturunan China, tetapi juga banyak warga muslim yang berziarah di tempat itu. Maka terjadi perpaduan unik antara dua agama.

 Baca juga: Asal Muasal Bioskop di Jakarta, dari Misbar hingga Bertingkat

Sejarah kelenteng ini Sam Po Kong atau terkenal sebagai Cheng Ho, pembesar China dan salah satu penyebar agama Islam, yang sering mengunjungi Batavia.

Secara khusus kelenteng ini berhubungan dengan salah satu bawahannya yang dikenal dengan nama Sam Po Soei So, yang menikah dengan putri seorang alim pribumi bernama Embah Said Dato Kembang, dan masuk Islam.

Sam Po Soei So meninggal begitu juga istrinya dan dimakamkan dalam satu liang di kawasan kelenteng tersebut. Begitu juga terdapat makam mertuanya di kawasan kelenteng tersebut.

Itulah sebabnya kelenteng tersebut menjadi tempat ibadah bagi umat Budha dan tempat berziarah bagi warga muslim. Tetapi akibat wabah malaria di kawasan Ancol, banyak warga pergi ke luar wilayah tersebut, dan jemaah kelenteng ini mulai berkurang.

 Baca juga: Sejarah Gedung Kesenian Jakarta, dari Markas Tentara Jepang hingga Bioskop

Berdirinya kelenteng ini sebagai bukti bahwa perbedaan yang ada tidak seharusnya menjadi pertikaian, terdapat rasa saling menghargai dan menghormati, terutama di Kota Jakarta yang multietnis.

Siapa yang menyaksikan kerukunan antara orang Islam dan China pasti akan merasa heran, mereka melihat orang Islam datang memberi sedekah di rumah tepekong.

Kelenteng ini merupakan ”Kelenteng Tionghoa paling tua" dan dibangun kembali pada pertengahan abad-18. Pada tahun 1790 Dewan China secara resmi memakai bangunan ini sebagai rumah ibadat dan membayar izinnya kepada kompeni. Kelenteng ini terletak di Ialan Lautze 38, Jakarta Utara.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini