nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Laporan Pungli di Tangsel Tak Kunjung Tuntas, Guru Rumini Minta Bantuan Kompolnas

Hambali, Jurnalis · Jum'at 19 Juli 2019 12:09 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 19 338 2080940 laporan-pungli-di-tangsel-tak-kunjung-tuntas-guru-rumini-minta-bantuan-kompolnas-FQp2HFDblX.jpg Guru Rumini (foto: Hambali/okezone)

TANGERANG - Rumini (44), guru honorer yang mengaku dipecat karena berupaya membongkar praktik Pungutan liar (Pungli) di SDN Pondok Pucung 02, meminta bantuan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) bisa mendesak kepolisian menuntaskan laporannya tentang Pungli.

Menurut Rumini, semua kesaksian serta bukti-bukti dokumen yang dia miliki terkait dugaan pungli di SDN Pondok Pucung 02, telah disampaikannya kepada penyidik di Mapolres Tangsel beberapa waktu lalu.

"Semua bukti yang saya miliki, kesaksian saya, semua sudah saya sampaikan ke polisi. Jadi tinggal nanti didalami lagi berdasar keterangan saksi yang lain. Mudah-mudahan semuanya juga cepat dipanggil dan diperiksa, pihak sekolah, pihak dinas, sehingga terungkap seperti apa hasilnya," terang Rumini, kepada Okezone, Jumat (19/7/2019).

Guru Rumini

Dikatakan Rumini, kasus Pungli yang dilaporkannya diduga berlangung sejak lama dan melibatkan banyak pihak. Dengan begitu, besar kemungkinan akan ada upaya melemahkan laporannya tersebut, termasuk dengan memengaruhi saksi-saksi dari orang tua murid.

"Ini kasusnya saya kira enggak berdiri sendiri, permainan oknum di sekolah saja misalnya, nggak begitu. Ini sudah lama terjadi, pungutan-pungutan itu dibiarkan saja. Kan ada yang mengawasi, pengadaan barang, penggunaan dana BOS-BOSDa, kenapa penyimpangan itu bisa tetap terjadi?, artinya banyak yang bermain kan," ungkapnya.

Baca Juga: Aktivis hingga Pedagang Mie Ayam di Tangsel Kumpulkan Donasi untuk Guru Rumini

Baca Juga: Jokowi: Kasus Novel Baswedan Jangan Sedikit-Sedikit Lari ke Saya, Tugas Kapolri Apa?

Dilanjutkan Rumini, kedatangannya ke Kompolnas pada Senin 15 Juli 2019 adalah untuk menggalang dukungan atas upayanya melaporkan praktik Pungli di sekolah. Karena bagaimanapun, ujung tombak dalam penuntasan kasus Pungli ada di lembaga kepolisian.

"Yang memiliki kewenangan itu kan di kepolisian, jadi saya berharap agar Kompolnas mendesak kepolisian untuk profesional menuntaskan laporan pungli ini," tandasnya.

Sementara, aktivis Tangerang Public Transparency Watch (TRUTH) yang turut mendampingi Rumini menuturkan, pengaduan kasus Pungli ke Kompolnas adalah untuk mendapatkan dukungan agar laporan Rumini ke Polres Tangsel bisa ditindaklanjuti.

"Iya, kami ke kompolnas sebagai upaya mendapatkan dukungan agar kasus yang sedang di proses oleh polres Tangsel ini dapat berhalan hingga tuntas, harapannya demikian," kata Koordinator TRUTH, Aco Ardiansyah.

Ditambahkannya, pengaduan ke Kompolnas itu sebagai bentuk antisipasi berupa pengawasan, lantaran cukup banyak kasus yang mengendap dan tak kunjung mendapat penanganan serius oleh Polres Tangsel.

"Dari tahun 2016, kami mempunyai empat laporan yang mengendap di Polres Tangsel terkait dugaan pungli di dalam tubuh dinas pendidikan kota Tangsel. Kami menilai polres Tangsel belum menangani kasus ini secara serius. Diantaranya tentang PPDB dan juga masalah pengadaan server. Oleh sebab itu kami meminta dukungan kepada Kompolnas," kata Aco.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini