nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Senpi yang Digunakan Brigadir Rangga Tembak Bripka Rahmat Jenis HS-9 Milik Polairud

Wahyu Muntinanto, Jurnalis · Jum'at 26 Juli 2019 18:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 26 338 2084073 senpi-yang-digunakan-brigadir-rangga-tembak-bripka-rahmat-jenis-hs-9-milik-polariud-Qb6mdVsfzN.jpg Kakorpolairud Baharkam Polri, Irjen Zulkarnain Adinegara di Tapos, Depok, Jawa Barat (Foto: Wahyu Muntinanto/Okezone)

DEPOK - Anggota Polri Bripka Rahmat Effendy tewas ditangan Brigadir Rangga Tianto dengan luka tembak di ruang Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polsek Cimanggis, Kamis 25 Juli 2019, pukul 20.50 WIB.

Pelaku yang saat ini ditahan Polda Metro Jaya, secara membabi buta membrondong korban dengan menggunakan Senjata api (Senpi) jenis HS-9. Sebanyak 7 peluru dimuntahkan dari 9 peluru yang berada di magazine.

Baca Juga: Penerbitan Izin Senjata Brigadir Rangga Akan Ditinjau Ulang 

Suasana Polsek Cimanggis Pasca-Insiden Penembakan Polisi (foto: Wahyu M/Okezone)

Kakorpolairud Baharkam Polri Irjen Zulkarnain Adinegara mengatakan bahwa senjata api yang digunakan untuk menembak merupakan senjata miliknya.

"Senjata dinas memang, tapi apakah dia sudah ada izin atau tidaknya saya belum dapat laporan. Jenis HS ya," kata Zulkarnain di Tapos, Depok, Jumat (26/7/2019).

Dia pun mengakui jika ada kesalahan prosedur yang dilakukan oleh anak buahnya itu dalam menggunakan senjata api. Namun kini senjata api tersebut sudah disita oleh penyidik Dirkrimum Polda Metro Jaya dan menjadi barang bukti.

"Kalau itu kan tidak bertugas dia, seharusnya tidak boleh bawa senjata. Kecuali tugas, misalnya lagi patroli di laut. Sedang diperiksa juga apakah ada surat izinnya," imbunya.

Baca Juga: Brigadir Rangga Tembak Bripka Rahmat dari Jarak Dekat 

Menurut Zulkarnain sebagai seorang anggota kepolisian yang mempunyai senjata api, haruslah melalui uji psikotes tiap dua tahun. Akan tetapi seiring perkembangan waktu, ia tak bisa pungkiri kejiwaan seseorang bisa berubah karena beberapa faktor

"SOPnya (Setandar Oprasional) punya senjata harus psikotes. Itu juga setiap dua tahun dilakukan Psikotes kembali, tidak sekali tes saja. Bisa saja perkembangan kebiasaan seseorang, dan hubungan sosialnya berpengaruh pada kejiwaan seseorang," pungkasnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini