nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Enam Tahapan Pertimbangan Polisi Berhak Pegang Senjata Api

Sabtu 27 Juli 2019 06:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 27 338 2084251 enam-tahapan-pertimbangan-polisi-berhak-pegang-senjata-api-r8GSUDrEVP.jpg Ilustrasi tembak. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Menyusul insiden penembakan Bripka Rahmat Efendy oleh sesama anggota kepolisian Brigadir Rangga Tianto di Mapolsek Cimanggis, Depok, Jawa Barat, pada Kamis 25 Juli 2019 malam, pihak kepolisian membeberkan enam tahapan pertimbangan anggotanya berhak memegang senjata api.

"Ada sekitar enam langkah dan sekaligus pertimbangan kalau anggota Polri memegang senjata api (senpi)," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Asep Adi Saputra, Jumat 26 Juli 2019, sebagaimana dinukil dari Antaranews.

Baca juga: Kriminolog: Polisi Tembak Polisi karena Kematangan Pribadi Tidak Kuat 

Pertimbangan itu, kata Asep, adalah untuk menilai kelaikan anggota kepolisian dalam memegang dan membawa senjata api dalam bertugas.

Pertimbangan pertama, penilaian terhadap tugas anggota kepolisian tersebut, apakah berorientasi untuk memegang senjata api atau tidak.

Penembakan sesama polisi di Polsek Cimanggis Depok. (Foto: Okezone)

"Jadi dilihat dulu kepentingan yang bersangkutan memegang senpi tepat atau tidak dalam tugasnya," kata Asep.

Kedua, yang bersangkutan harus mendapat rekomendasi dari pimpinannya sebagai pihak yang menilai kelaikan anggotanya untuk memegang senjata api.

Pertimbangan ketiga, yang bersangkutan harus lulus uji psikologi. Pertimbangan keempat dan kelima, wajib lulus uji kesehatan dan uji kemahiran menembak.

Baca juga: Penembakan Polisi, Komisi III: Pembinaan Rutin Harus Dilakukan 

Terakhir, tambah Asep, adalah yang paling menentukan, yakni dilihat rekam jejaknya. Sebab jika yang bersangkutan lulus semua tahapan tapi rekam jejaknya buruk, tidak akan bisa memegang senjata api.

"Misalkan rekam jejaknya buruk, seperti berperilaku buruk, melakukan kekerasan kepada masyarakat, maka dia tidak boleh memegang senpi," ucap Asep.

Selain itu, pihak kepolisian juga melakukan inspeksi kepemilikan senjata api setiap enam bulan dengan memeriksa perlengkapan senjatanya, termasuk pemiliknya sendiri.

Adapun terkait kasus penembakan yang diketahui menggunakan senjata jenis HS 9 tersebut, Asep menjelaskan meskipun pangkat pelaku masih Brigadir, selama memiliki senjata api, berarti pelaku memang sudah lulus tes dan mengantongi izin.

"Kalau memang dia sudah memegang secara organik berarti dia dinyatakan layak. Dia bertugas di Baharkam Mabes Polri. Jadi bukan dari prosedur, tapi dalam konteks pengendalian diri," ujarnya.

Baca juga: Senpi yang Digunakan Brigadir Rangga Tembak Bripka Rahmat Jenis HS-9 Milik Polairud 

Asep menjelaskan, kasus ini masih proses penyidikan. Kasus tersebut, lanjut dia, telah masuk ranah tindak pidana umum, yakni melakukan pembunuhan dengan modus penembakan.

Kasus bermula dari Bripka Rahmat Efendy (RE), yang dikenal anggota Samsat Polda Metro Jaya (PMJ), mengamankan salah seorang yang diduga pelaku tawuran FZ, dengan barang bukti sebilah celurit, ke Mapolsek Cimanggis, pada Kamis 25 Juli, sekira pukul 20.30 WIB.

Penembakan sesama polisi di Polsek Cimanggis Depok. (Foto: Okezone)

Tidak lama berselang, datang orangtua pelaku tawuran (Zulkarnaen) bersama anggota polisi lainnya, Brigadir Rangga Tianto, dan langsung menuju Ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Cimanggis.

Brigadir Rangga Tianto kemudian meminta agar FZ bisa dilepaskan, dengan alasan dapat dibina oleh keluarganya. Namun, menurut sumber, Bripka Rahmat Effendi yang juga sebagai pelapor kasus tawuran, meminta agar kasus tersebut dilanjutkan dengan diproses penyelidikan.

Baca juga: Penerbitan Izin Senjata Brigadir Rangga Akan Ditinjau Ulang 

Kemudian terjadi perselisihan antara Bripka Rahmat Effendi dengan Brigadir Rangga Tianto, tapi cekcok itu membuat Brigadir Rangga Tianto tidak dapat menahan emosinya. Dia pun ke sebuah ruangan lain di polsek dan mengeluarkan senjata jenis HS 9 kemudian menembak Bripka Rahmat Effendi.

Dikabarkan ada tujuh kali tembakan mengarah ke Bripka Rahmat Effendi, sebagaimana temuan barang bukti selongsong di TKP. Korban mengalami luka tembak di bagian dada, leher, paha, dan perut hingga menyebabkan meninggal dunia di lokasi.

Kemudian dari pihak kepolisian langsung melakukan olah TKP serta memeriksa sejumlah saksi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini