nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polisi Ungkap Kasus Anak Dijebak Video Call Sex, Semua Berawal dari Game

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Senin 29 Juli 2019 16:19 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 29 338 2085023 polisi-ungkap-kasus-anak-dijebak-video-call-sex-semua-berawal-dari-game-ryvYrMKnOr.jpg Peserta acara Munajat 212 membubarkan diri. (Foto: Puteranegara/Okezone)

JAKARTA - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dir Reskrimsus) Polda Metro Jaya mengungkap kasus pornografi anak di bawah umur lewat WhatsApp. Dalam hal ini, polisi menangkap satu orang pelaku berinsial AAP(27).

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisiaris Besar Polisi Iwan Kurniawan menjelaskan, kasus ini berawal dari permainan game online, AAP berkenalan dengan para korbannya dan kemudian berlanjut ke percakapan di WhatsApp. Tersangka menyasar sebanyak 10 anak di bawah umur.

"Pelaku bernisial AAP usia 27 tahun. Kita tangkap di kawasan Kota Bekasi, Jawa Barat," kata Iwan di Polda Metro Jaya, Senin (29/7/2019).

Iwan menuturkan, biasanya AAP mengincar korban anak perempuan di bawah umur, mulai dari umur 9 hingga 15 tahun. Tersangka AAP meminta para korbannya untuk membuka pakaian hingga bermasturbasi.

"Dia mencari taget anak perempuan di bawah umur 15 tahun, ada 9 tahun juga. Dari game online itu, dia meningkatkan ke video call di WhatsApp dan mengajak korban melakukan perbuatan seks, membuka pakaiannya dan menunjukkan kemaluannya serta mengajak korban masturbasi," kata Iwan.

Ilustrasi.

Pada saat melakukan sambungan video call, tersangka AAP merekam aksi korban. Hal tersebut dijadikan senjata oleh tersangka untuk kembali mengajak korbannya untuk melakukan video call sex (VCS).

"Nah dari situ pada saat mereka melakukan seks melalui video call, itu tanpa disadari oleh si korban perbuatan mereka itu direkam oleh pelaku. Sehingga setelah dilakukan perekaman, pelaku sering mengajak kembali kepada korban untuk melakukan seks menggunakan video call," ujar Iwan.

Tersangka dikenakan Pasal 27 ayat 1 Undang-undang (UU) ITE, Pasal 29 UU ITE, dan Pasal 82 UU Perlindungan Anak. Ancamannya, hingga 15 tahun penjara.

"Dari 10 korban, dua anak sudah kita proses untuk dilakukan rehabilitasi atau tidak," ujar Iwan.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini