Ini Penyebab Udara Jakarta Paling Buruk Sedunia

Arie Dwi Satrio, Okezone · Selasa 30 Juli 2019 11:26 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 30 338 2085324 ini-penyebab-udara-jakarta-paling-buruk-sedunia-u427DgCqN2.jpg Foto Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Berdasarkan hasil pemantauan Air Quality Indeks (AQI) atau Indeks Kualitas Udara Global Airvisual, Kota Jakarta menempati peringkat pertama pemilik udara terburuk sedunia dalam beberapa hari belakangan ini. Hasil pemantauan, kualitas udara di Jakarta dinyatakan paling tidak sehat.

Pelaksana Harian (Plh) Deputi ‎Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Nasrullah menjelaskan dugaan sementara penyebab buruknya udara di Jakarta dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu penyebabnya, adalah musim kemarau yang berkepanjangan.

"Pada musim kemarau, kualitas udara memang dapat memburuk karena ketiadaan hujan dapat mengurangi pengendapan (pencucian polutan di udara oleh proses rain washing)‎," kata Nasrullah dalam keterangan resminya kepada Okezone, Selasa (30/7/2019).

 Baca juga: BMKG: Udara Jakarta Paling Buruk saat Pagi Hari

Menurut Nasrullah, ‎bulan Juni hingga September merupakan waktu-waktu dimana konsentrasi partikulat polutan lebih tinggi dibandingkan bulan bulan lainnya. Terlebih, pada bulan tersebut, Jakarta masih belum diguyur hujan yang menyebabkan udara yang stagnan.

"Pada musim kemarau, terutama pada hari-hari sudah lama tidak terjadi hujan, udara yang stagnan, cuaca cerah, adanya lapisan inversi suhu, atau kecepatan angin yang rendah memungkinkan polusi udara tetap mengapung di udara suatu wilayah dan mengakibatkan peningkatan konsentrasi polutan yang tinggi," paparnya.

 Udara Jakarta

Lebih lanjut, sambung Nasrullah, pembangunan konstruksi proyek pemerintah di beberapa daerah di Jakarta membuat polusi semakin tinggi. Sebab, proyek pembangunan tersebut menghasilkan debu yang mengendap di udara.

 Baca juga: F-PDIP DPRD DKI: Pemprov Tak Punya Program Atasi Polusi Udara di Ibu Kota

"Terlebih lagi pada saat ini masih terus berlangsung pekerjaan konstruksi pembangunan tol atas, jalur LRT, dan pengerjaan trotoar. Hal ini tentu akan menghasilkan debu partikel polutan dan menurunkan AQI pada saat-saat tertentu," ucapnya.

Oleh karenanya, BMKG meminta agar pemerintah serta masyarakat membantu mengurangi persoalan polusi udara di Jakarta. Pemerintah diminta untuk mengatur watu pengerjaan konstruksi pembangunan proyek.

"Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat mengatur waktu pekerjaan konstruksi sehingga tidak bertepatan dengan waktu puncak konsentrasi polutan," katanya.

 Udara Jakarta

BMKG juga menyarankan agar pemerintah memperbanyak ruang hijau untuk menyerap polutan. Serta, mengatur rekayasa lalu lintas agar tidak terjadi kepadatan kendaraan di jam-jam tertentu. Sebab, BMKG melihat kualitas udara terburuk di Jakarta terjadi pada pagi hari atau ketika banyak orang berpergian untuk bekerja.

"Masyarakat juga dapat mendukung langkah-langkah tersebut dengan semakin meningkatkan kesadaran lingkungan yang dibuktikan dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, mengutamakan kendaraan umum, gemar melakukan penghijauan lingkungan dengan konsep urban farming," ucapnya.‎

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini