nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penurunan Kualitas Udara di Jakarta Biasa Terjadi saat Musim Kemarau

Muhamad Rizky, Jurnalis · Sabtu 03 Agustus 2019 12:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 03 338 2087244 penurunan-kualitas-udara-di-jakarta-biasa-terjadi-saat-musim-kemarau-UAp0tdImWJ.jpg Kota Jakarta (Heru/Okezone)

JAKARTA – Jakarta bertengger di nomor wahid kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia versi AirVisual. Namun, data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan kualitas udara biasanya memburuk saat musim kemarau. Kenapa?

Pemantauan konsentrasi partikulat polutan PM10 oleh BMKG sepanjang Juni hingga Juli 2019 menunjukkan peningkatan konsentrasi sering melampaui nilai ambang batasnya (NAB) sejak 20 Juni hingga sekarang.

Nilai Ambang Batas (NAB) adalah batas konsentrasi partikel polusi udara yang diperbolehkan berada dalam udara yang kita hirup. NAB harian PM10 adalah 150 µg/m3 dan 50 µg/m3 untuk tahunan.

Plh Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Nasrullah dalam keterangannya menyebutkan, pada jam-jam tertentu, konsentrasi partikel polusi udara terukur di BMKG dapat melonjak sesuai dengan kadar polutan yang ada di udara. Nilai kadar atau konsentrasinya bahkan melewati 180 µg/m3 yaitu terjadi pada 20, 24, 25, 27, dan 28 Juni 2019, serta 14 dan 25 Juli 2019.

“Berdasarkan data deret rata - rata harian debu partikulat PM10, secara umum periode 10 hari (dasarian) terakhir bulan Juni menunjukkan konsentrasi debu polutan yang lebih tinggi daripada kondisi bulan Juli kali ini,” katanya seperti dikutip Okezone dari laman resmi BMKG, Sabtu (3/8/2019).Polusi Jakarta

Meningkatnya konsentrasi PM10 secara umum terjadi pada pagi hari sekitar pukul 07.00 - 09.00 WIB. Pada waktu-waktu ini konsentrasi debu polutan dimungkinkan meningkat drastis dikarenakan beban tinggi transportasi berkaitan dengan waktu berangkat kerja, sekaligus secara meteorologis bersamaan dengan waktu dimana dapat terjadi peristiwa inversi suhu pada atmosfer perkotaan.

Baca juga: Kurangi Polusi Udara, Anies Akan Perluas Sistem Ganjil-Genap Selama Musim Kemarau

“Selain itu, data BMKG menunjukkan kualitas udara memang biasanya memburuk saat musim kemarau,” tulis BMKG.

Baca juga: Kurangi Polusi, Pemprov DKI Kaji Pemberlakuan Ganjil Genap untuk Sepeda Motor

Hal ini dikarenakan ketiadaan hujan dapat mengurangi pengendapan (pencucian) polutan di udara oleh proses rain washing. Pada hari-hari yang sudah lama tidak terjadi hujan, udara yang stagnan, cuaca cerah, adanya lapisan inversi suhu, atau kecepatan angin yang rendah memungkinkan polusi udara tetap mengapung di udara suatu wilayah dan mengakibatkan peningkatan konsentrasi polutan yang tinggi.

Penampakannya dapat dilihat dari kondisi udara yang kabur hasil reaksi kimia antara udara dengan kontaminan. Terlebih lagi pada saat ini masih terus berlangsung pekerjaan konstruksi pembangunan tol atas, jalur LRT, dan pengerjaan trotoar. Hal ini tentu akan menghasilkan debu partikel polutan dan menurunkan kualitas udara pada saat-saat tertentu.

BMKG menjelaskan, Juni-Juli adalah bulan menuju puncak musim kemarau bagi Jakarta. Data klimatologis rata-rata harian debu partikulat polutan 5 tahun kurun waktu 2014-2018 menunjukkan bahwa bulan Juni hingga Agustus merupakan waktu-waktu dimana konsentrasi partikulat polutan lebih tinggi dibandingkan bulan lainnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini