nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

3 WNA dan 2 Perempuan Indonesia Ditangkap Satpol PP dalam Keadaan Nyaris Bugil

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 08 Agustus 2019 13:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 08 338 2089322 3-wna-dan-2-perempuan-indonesia-ditangkap-satpol-pp-dalam-keadaan-nyaris-bugil-ZN38lhfuKE.jpg 3 WNA diamankan petugas imigrasi (Foto: Fadel/Okezone)

JAKARTA - Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Pusat pada 31 Juli memergoki tiga warga negara asing (WNA) dalam keadaan nyaris bugil di kamar Hotel Drive True, Jalan Kartini, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Mereka diamankan bersama dengan dua perempuan asal Indonesia.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Pusat, Is Edy Eko Putranto mengatakan, setelah memeriksa tiga WNA akhirnya memutuskan untuk mendeportasi satu orang WNA asal Nigeria berinisial DC (42), setelah yang bersangkutan sudah tak mempunyai izin untuk menetap di Indonesia lebih dari 60 hari.

Ia menyebut, pihaknya tak bisa menuduh DC telah melakukan tindakan prostitusi. Hal tersebut karena tidak ditemukannya bukti-bukti yang kuat kalau dia telah melakukan pelanggaran asusila.

"Adapun isu yang masih bergulir terkait prostitusi, masih dilakukan pendalaman dengan saksi terkait. Yang jelas satu dari tiga WNA sudah ditemukan adanya pelanggaran imigrasi," kata Edy di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (8/8/2019).

Ilustrasi

Ia menambahkan, dua WNA lainnya asal Afghanistan berinisial HI (17) dan SH (15) yang juga terjaring razia di hotel yang sama hanya dikembalikan ke United Nations High Commissioner for Refugeest (UNHCR). Tindakan itu diambil lantaran keduanya merupakan para pencari suaka yang berada di bawah naungan UNHCR.

"2 WNA ini setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata di bawah umur dan memegang kartu UNHCR," ujarnya.

Baca Juga: Suami Bunuh Istri dan Selingkuhannya yang Kedapatan Berboncengan Mesra

Sementara itu, Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Pusat, Ruhiyat M. Tolib menjelaskan, pihaknya sedang mengurus dokumen DC untuk segera mendeportasinya. Sehingga, belum bisa dipastikan kapan DC akan dideportasi dari Indonesia.

"Di sistem kita, dia sudah overstay lebih dari 60 hari. Dan tindakannya kita deportasi," ujarnya.

Ia meminta kepada UNHCR agar segera melakukan pembinaan kepada HI dan SH. Sebab, sebagai lembaga yang bertanggungjawab dengan keberadaan para pencari suaka, jangan sampai lepas tangan. "Penanggungjawabnya akan kami serahkan ke UNHCR. Kita sampaikan kasus ini sebagai koreksi bagi mereka," kata dia.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini