nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ketua DPRD Depok Pilih Wacana Pembentukan Bogor Raya

Wahyu Muntinanto, Jurnalis · Kamis 22 Agustus 2019 17:21 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 22 338 2095341 ketua-dprd-depok-pilih-wacana-pembentukan-bogor-raya-tqSy0xFsla.jpg Depok (Foto: Okezone)

DEPOK - Wacana pembentukan provinsi baru bernama Bogor Raya yang digulirkan Wali Kota Bogor, Bima Arya sangatlah efektif dan lebih terpusat. Sebab Depok akan lebih mudah berkoordinasi dan berkomunikasi dengan Provinsi Jawa Barat.

Hal tersebut tentunya berbanding terbalik dengan sikap Wali Kota Depok, Idris Abdul Somad yang lebih condong ikut dengan DKI Jakarta ketimbang gabung dengan Bogor Raya.

"Bogor Raya, ya kalau Bogor Raya sebenarnya menurut saya lebih akan memang akan bagus, lebih bagus kalau penggabungan beberapa kabupaten/kota yang daerah kemarin jadi Bogor Raya," kata Ketua DPRD Depok, Hendrik saat dihubungi wartawan, Kamis (22/8/2019).

Menurut Hendrik, Kota Bogor dan sekitarnya juga memenuhi syarat untuk jadi Provinsi Bogor Raya.

"Kalau dari tata kelola pemerintahan kita akan koordinasi lebih deket dibanding harus ke Jabar dan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk Bogor Raya yang terdiri beberapa kota saya pikir juga memenuhi syarat untuk itu. Tapi apa pun itu biar petinggi pusat yang pikirkan itu," jelasnya.

"Ya kalau menurut saya Bogor Raya, Depok akan bisa lebih berkembang, karena koordinasi bisa lebih cepat, kemudian pemerintah Provinsi Bogor Raya bisa lebih terfokus hanya berkoordinasi dengan beberapa kabupaten/kota, artinya komunikasi lebih efektif," lanjut Hendrik.

Depok

Baca Juga: Alasan Wali Kota Depok Pilih Gabung ke DKI Jakarta

Terkait alasan, Wali Kota Idris memilik gabung ke Jakarta ketimbang Bogor Raya dengan alasan bahasa, Politisi PDI Perjuangan itu mengaku tak setuju, sebab masyarakat Depok sebagai penyangga Ibu Kota saat ini sudah heterogen dan plural.

"Secara administratif Depok ke sana (Jawa Barat), selama ini orang cari makan di Jakarta. Oleh karena itu Depok (gabung ke Jakarta) tidak bisa dikategorikan dari bahasa, karena Depok kan sudah heterogen, begitu plural, banyak suku agama dan bahasa di situ," pungkasnya.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini