nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kekeringan, Warga Tangsel Gunakan Limbah Got untuk MCK

Hambali, Jurnalis · Kamis 22 Agustus 2019 21:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 22 338 2095395 kekeringan-warga-tangsel-gunakan-limbah-got-untuk-mck-A3dI8gzk7x.jpg Air got tempat MCK warga Tangsel (Foto: Okezone/Hambali)

TANGERANG SELATAN - Warga yang tinggal di beberapa wilayah Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten dilanda kekeringan panjang. Sudah sekira 3 bulan lamanya, tak ada air sumur yang bisa digunakan untuk Mandi Cuci Kakus (MCK), apalagi dipakai buat keperluan minum dan memasak.

Di Kota Tangsel, saat ini ada 3 titik terparah yang dilanda kekeringan. Yaitu, Kampung Koceak, Perumahan Pesona Serpong, dan Perumahan Prima Serpong. Ketiga wilayah itu berada di Kelurahan Kranggan, Kecamatan Setu.

Guna memenuhi kebutuhan memasak dan minum sehari-hari, warga harus rela membeli air isi ulang. Sedangkan untuk MCK, terpaksa menggunakan air keruh berupa got yang terletak dekat pemukiman.

"Sudah 3 bulan nggak ada air bersih. Selama ini ya pakai air limbah got buat MCK," tutur H Dani (63), warga yang tinggal di Kampung Koceak, RT06 RW02, Kranggan, Setu, Tangsel, kepada Okezone, Kamis (22/8/2019).

Pantauan Okezone di lokasi, saluran air limbah got yang digunakan warga untuk MCK itu terlihat keruh dan berbusa kecil. Timbunan sampah plastik, botol kemasan, dan sampah rumah tangga menggenang di atas permukaannya.

Baca Juga: Banten Masuki Puncak Kemarau, Diprediksi 60 Hari Tak Turun Hujan

Beberapa warga mengeluh, jika harus merasakan gatal-gatal akibat memakai air limbah got untuk mandi. Namun kondisi itu terpaksa dilakukan, mengingat tak ada sumber air lainnya yang bisa digunakan MCK.

"Cuma gatel sih, nggak tahu dampak yang lainnya mah. Yang penting sementara ada air dulu aja buat mandi, nyuci, buat buang air," ucap H Dani.

Bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel mulai turun ke beberapa titik pemukiman warga. Di Kampung Koceak, sedikitnya sudah dipasok sekira 8 ribu liter air bersih menggunakan 2 truk tangki.

"Di sini sudah turun 2 tangki, 1 tangki berkapasitas 4 ribu liter. Dari data kita, ada sekira 120-an Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di sini. Tiap hari akan dipasok, termasuk untuk di titik lainnya," terang Chaeruddin, Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangsel, di lokasi yang sama.

Tangsel

Bantuan air bersih itu langsung diserbu warga sekitar. Mereka terlihat berdesak-desakan. Tak hanya membawa ember untuk menampung air dari truk tangki, warga juga menyertakan galon kosong air mineral dan wadah penampung air lainnya.

Pada titik lokasi kekeringan lain, yakni di Perumahan Pesona Serpong telah dikirim 3 truk tangki berkapasitas total air bersih 12 ribu liter. Pada sore ini, dijadwalkan akan didatangkan lagi 1 truk tangki kapasitas 4 ribu liter.

Sedangkan di Perumahan Prima Serpong, saat ini disebutkan kondisi suplai air bersihnya telah aman. Lantaran telah dibuat sumur bor yang mampu memenuhi kebutuhan sekira 250 KK.

"Sebenarnya ini inisiatif kita sejak 2 minggu lalu cek ke masyarakat, titik-titik kekeringan, karena melihat data dari BMKG ada beberapa wilayah di Tangsel yang terdampak. Kita sayangkan juga tidak ada koordinasi laporan dari Kelurahan dan Kecamatan setempat, justru kita tahu saat turun langsung melakukan pengecekan," jelasnya.

Menurut Chaeruddin, kondisi penanganan kekeringan sementara masih menggunakan pasokan air bersih oleh BPBD. Beberapa CSR, menyatakan siap membantu pengadaan air bersih. Namun kedepannya, akan dibuat pula sumur bor dengan kedalaman 100 meter di titik lokasi terdampak kekeringan.

"Di Kampung Koceak sebenarnya sudah ada sumur bor, itu dari provinsi (Banten). Tapi nggak berfungsi karena kedalamannya hanya sekira 60 meter dan mesinnya juga nggak sesuai. Kedepan akan dibuat sumur bor di titik itu," imbuhnya.

Meski begitu, BPBD Tangsel terus mengupayakan pasokan air bersih ke pemukiman yang terdampak kekeringan, khususnya 2 lokasi terparah di Kampung Koceak dan Perumahan Pesona Serpong. Sayagnya, truk tangki operasional pengangkut air masih harus meminjam ke Dinas Bangunan dan Penataan Ruang (DBPR) karena BPBD tak memiliki seunit pun truk tangki.

"Kita memang enggak punya unitnya, jadi harus pinjam dulu ke dinas lain," tukas Chaeruddin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini