nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sejarawan: Bahasa dan Kultur Depok Itu Betawi

Wahyu Muntinanto, Jurnalis · Jum'at 23 Agustus 2019 15:33 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 23 338 2095730 sejarawan-bahasa-dan-kultur-depok-itu-betawi-9r6crGqdPe.jpg Foto: Ist

DEPOK - Sejarahwan JJ Rizal mengatakan wacana pembentukan provinsi baru bernama Bogor Raya yang digulirkan Wali Kota Bogor, Bima Arya bukanlah solusi yang tepat untuk mengatasi sejumlah permasalahan. Bahkan wacana tersebut justru malah dianggap sebagai kemunduruan dan bencana.

Sebab menurut dia, sejak dahulu gagasan untuk menggabungkan wilayah Jakarta Depok, Bogor Bekasi dan Tangerang sudah terlebih dahulu ada yang bernama Megapolitan. Namun ide tersebut dianggap tidak pernah serius dilakukan.

"Wacana Bogor Raya bukanlah jalan keluar bahkan itu sebuah kemunduran dan bisa menjadi bencana, karena kan dulu sudah pernah dibuat namanya Megapolitan tapi ide itu enggak pernah serius, kalau sekarang bikin Bogor Raya ya itu namanya mundur," kata JJ Rizal saat dihubungi Okezone.com, Jumat (23/8/2019).

Baca Juga: Ini Plus-Minusnya Bekasi dan Depok jika Bergabung ke DKI Jakarta

Dia menjelaskan, dari segi budaya, Depok memiliki kesamaan kultur dengan Jakarta, sama-sama berbudaya betawi. Namun karena Depok kemudian masuk wilayah Jawa Barat, banyak pengaruh sunda yang masuk ke Bekasi.

"Sejarahnya Depok itu memang bukan masuk Jawa Barat tapi memang secara geografi kultural dia itu betawi, bahasa yang digunakan itu bahasa betawi. Kan kasihan orang pelajaran muatan lokal orangnya berbahasa betawi tapi belajarnya bahasa sunda," ujar JJ Rizal.

Depok Pilih Jakarta Ketimbang Bogor

JJ Rizal

Wacana bergabungnya Kota Depok ke DKI Jakarta ini sebetulnya dapat dijadikan momentum bagi pemerintah pusat untuk menata kembali masterplan metropolitan yang meliputi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bogor Puncak, Cianjur (Jabodetabekjur).

"Ini sebenarnya kesempatan bagus untuk membuat masterplan besar, harus diluaskan wacananya, dihidupkan kembali konsep megapolitan yang dibayangkan Bung Karno yang namanya 'The Greater Jakarta," ungkap JJ Rizal.

Dia melihat jika Depok tak bergabung dengan Jakarta bagaimana bisa mengatasi permasalahan di Kotanya sedangkan dari sisi pendanaanya tidak mencukupi. "Kalau di lihat APBD Jakarta capai Rp 80 trilyun/tahun sedangkan Depok tidak capai 10 persenya gimana mau lakukan perbaikan," imbunya.

Sementara itu, Provinsi Jawa Barat yang luas wilayahnya begitu besar, dianggap sangat sulit untuk menyelesaikan permasalahan di Kota Depok.

"Untuk mengatasi masalah di Jawa Barat aja seperti kemiskinan dan masalah lainnya sudah repot gimana ditambah dengan masalah di Depok. Ya mending gabung ke Jakarta," ungkapnya.

Wacana Bogor Raya muncul dari perbincangan Wali Kota Bogor Bima Arya dan Bupati Bogor Ade Yasin atas dasar keluhan masyarakat. Ada 10 kota dan kabupaten untuk turut bergabung dalam provinsi baru itu. Ke-10 wilayah itu yakni Kabupaten Bogor, Bogor Barat, Bogor Timur, Kota Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Cianjur, Depok, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi.

Namun Wali Kota Depok Muhammad Idris Abdul Somad menolak wacana itu. Ia mengaku Depok lebih dekat secara histroris, kultur, dan geografis dengan DKI Jakarta.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini