nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Impor Sampah Disebut Bisa Jadi Celah Negara Maju Buang Limbah ke Indonesia

Muhamad Rizky, Jurnalis · Sabtu 31 Agustus 2019 23:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 31 338 2099105 impor-sampah-disebut-bisa-jadi-celah-negara-maju-buang-limbah-ke-indonesia-zZrppAKkWZ.jpg Foto: AFP

JAKARTA - Sebanyak 1.262 sampai 1.380 kontainer yang berisi sampah plastik dan kertas dari negara maju. Sampah tersebut dikirim dengan dalih sebagai bahan baku industri di Tanah Air.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun meminta telah meminta agar sampah impor yang masuk ke Indonesia tak merusak lingkungan serta terkontaminasi oleh bahan berbahaya dan beracun. Ia pun menyebut terdapat ketentuan pidana bila sampah impor itu mengandung bahan berbahaya.

Isu limbah sampah impor yang belakangan ini marak disorot oleh media, mendapat perhatian banyak pihak, salah satunya Poros Hijau Indonesia. Impor sampah dan limbah yang mencakup serat kertas dan plastik tersebut, disinyalir untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri.

Baca Juga: Menteri LHK: Indonesia Tak Boleh Jadi Tempat Sampah Negara Maju

"Kalau memang benar sebagai bahan baku, kenapa tidak diolah di negara asalnya saja," kata Koorda Poros Hijau Indonesia DKI Jakarta, Jurika Fratiwi, di acara Focus Grup Discussion di TPS3R Rawasari, Jakarta Pusat, Sabtu (31/8/2019).

Menurutnya, akan lebih baik jika menjadikan industri sebagai jasa pengolahan limbah, dan bukan sebagai industri jual beli barang bekas, demi memajukan para pelaku industri daur ulang. Dalam hal ini, pihak yang membuang limbah diharuskan membayar, dan yang mengolah limbah harus pula mendapat bayaran.

Foto: Mirror

"Dan karena sampah dianggap sebagai bahan baku, maka bisa menjadi celah yang dimanfaatkan oleh negara maju untuk mengekspor limbahnya ke Indonesia, dengan dalih menjadi bahan baku yang harus dibeli," ujar Ketua Lembaga Pemberdayaan Perempuan Pengusaha Mikro dan Kecil itu.

Baca Juga: Jokowi Minta Jajarannya Perbaiki Regulasi Tata Kelola Impor Sampah

Jurika menilai upaya pemerintah dalam hal pengelolaan sampah dengan mengembangkan PLTSa, sudah cukup tepat. Karena selain ramah lingkungan, juga bisa menghasilkan listrik. Ia pun berharap masyarakat khususnya kaum ibu rumah tangga, dapat lebih berpartisipasi dalam hal pengelolaan sampah di lingkungannya masing-masing.

"Lingkungan yang baik menjadi hal utama bagi mahluk hidup. Salah satu yang paling penting pengelolaan sampah yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat yang berujung pada kesehatan sebuah negara. Pengelolaan sampah yang banyak melibatkan kaum perempuan dan ibu rumah tangga ini harus dilakukan berkelanjutan. Peran ibu yang mendidik anak dengan disiplin, membuang sampah sejak anak masih dini," paparnya.

Jurika menegaskan, untuk pengelolaan sampah pemerintah juga dapat berkolaborasi dengan industri kecil dan mikro atau UMKM, sebagai industri jasa di bidang pengelolaan sampah.

"Pengelolaan sampah adalah problem kita bersama yang sekaligus terdapat peluang. Sebaiknya juga melibatkan semua stakeholder termasuk UMKM untuk mengelola sampah, agar solusi komprehensif tercapai dengan efektif, efisien dan saling menguntungkan," pungkasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini