nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pilkada Kota Tangsel Butuh Figur Alternatif Guna Akhiri Feodalisme Politik

Hambali, Jurnalis · Senin 02 September 2019 20:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 02 338 2099664 pilkada-kota-tangsel-butuh-figur-alternatif-guna-akhiri-feodalisme-politik-vxRNhKsfCY.jpeg Ilustrasi Pemilu (foto: Shutterstock)

TANGERANG SELATAN - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) akan segera dimulai. Tahapannya sendiri baru berlangsung pada akhir 2019, dengan masa pendaftaran bakal calon pada April 2020.

Sejumlah figur-figur lama diprediksi bakal mendominasi pertarungan Calon Wali Kota Tangsel. Mereka adalah, Benyamin Davnie yang kini masih menjabat Wakil Wali Kota, Muhamad menjabat Sekda, dan Tomi Patria Lurah Cipayung.

Baca Juga: Gerindra Siapkan Sosok Penantang Trah Ratu Atut-Airin di Pilkada Tangsel 2020 

Namun calon yang diisi wajah-wajah lama itu rupanya mengundang banyak kritik dan cibiran masyarakat. Lantaran dari periode ke periode, kepemimpinan di Tangsel tak memberi dampak perubahan signifikan sebagai kota modern penyangga Jakarta.

Ilustrasi (foto: Shutterstock) 

Pengamat Politik, Ali Munhanif menuturkan, Kota Tangsel yang sejak lama merupakan bagian dari Provinsi Banten tak kunjung berhasil mentranformasikan diri menjadi kota modern. Dikatakan dia, hal itu adalah imbas dari politik tradisional atau dinasti yang digunakan secara pragmatis.

"Gubernurnya saat itu, lalu dilanjutkan gubenur berikutnya, Wali Kota Cilegon, dan seterusnya masuk penjara. Kalau di Tangsel tidak ada yang masuk penjara, tapi keluarganya yang masuk penjara. Kekuatan politik tradisional saat ini benar-benar digunakan secara pragmatis oleh tokoh-tokoh yang ingin maju," kata Ali kepada Okezone, Minggu (1/9/2019).

Dijelaskan dia, tata kelola pemerintahan yang baik menjadi tugas yang sulit diwujudkan oleh pemerintah Kota Tangsel. Mengapa demikian, menurut Dekan Fisip UIN Jakarta itu, penyebab utamanya adalah soal Leadership.

"Banten adalah satu kasus yang sangat ekstrim, sebuah wilayah yang sejak lama, sejak jaman belanda terbengkalai. Ketika itu, orang-orang yang mengurusi Banten inilah yang tidak mempunyai visi mentransformasikan masyarakat, mereka hanya menginginkan apa yang dimiliki negara," bebernya.

Lantas Ali Munhanif pun coba membandingkan Kota Tangsel dengan beberapa wilayah lain di Indonesia, seperti Kota Surabaya, Kota Solo, Kota Bandung, dan Kabupaten Bantaeng. Tata kelola pemerintahan di wilayah itu dianggap sukses, hingga berdampak pula pada pembangunan dan kemajuan masyarakat.

"Berbeda dengan di Tangsel, sejak lama selalu saja yang diklaim itu BSD, Bintaro, Pamulang sebagian, seolah ada kemajuan, tapi semu, karena pembangunan itu didominasi swasta. Tapi kita lihat di Pondok Cabe, Ciputat, Jombang, dan banyak wilayah lain semua hampir terbengkalai," jelasnya.

Menambahkan itu, pengamat politik UIN Jakarta, Adi Prayitno, mengulas bahwa sebenarnya Kota Tangsel memiliki cukup instrumen sebagai suatu wilayah perkotaan yang modern. Misalnya memiliki infrastruktur ekonomi yang luar biasa, memiliki infra dan supra struktur politik memadai, juga berderet kampus negeri dan swasta.

"Selama ini Tangsel itu terbatas, hanya melahirkan figur yang itu-itu saja, padahal stoknya banyak sekali dari akademisi, dari partai politik, dari kampus. Cuma problemnya, tidak ada orang yang mengendorce ini. Bukan kita tidak mau dipimpin oleh orang-orang yang itu saja, tapi kalau dipimpin klan politik itu-itu saja maka tidak akan ada terobosan atau hal yang baru," ucapnya.

Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany (foto: Hambali/Okezone)	 

Dikatakan Adi, kondisi demikian dinilainya sebagai bentuk paradoks, di mana keunggulan instrumen yang ada di Tangsel tidak serta merta mentransformasikan perubahan di tengah-tengah masyarakat. Kultur politik feodal yang dibangun sejak lama, tak akan berubah selama belum ada figur-figur alternatif yang didorong tampil memimpin Kota Tangsel selanjutnya.

"Kenapa mencari pemimpin alternatif?, menurut saya ini biar demokrasi jauh lebih dinamis. Kalau orangnya itu saja, kelompoknya itu saja, klannya itu saja, maka visi-misinya hanya copy paste, tidak akan aneh-aneh untuk berubah. Toh, sudah ada kesempatan 10 tahun untuk berubah, tapi kan nggak ada perubahan apapun sekarang," sindirnya sambil tersenyum.

"Sebagai generasi baru, kita harus memutus gaya berpolitik seperti itu. Di Tangsel itu banyak orang pinter dan berprestasi, bukan karena Wali Kotanya, tapi karena Allah Ta'ala," sambung Adi.

Adi menggambarkan, dua periode (10 tahun) kepemimpinan pasangan Wali Kota Airin-Benyamin Davnie dianggap tak cukup memberi perubahan berarti. Kemacetan, sampah, kontras pembangunan antar wilayah masih jadi problem utama. Kondisi itu terus bertahan lantaran masyarakat terlalu permissif, sehingga membiarkan orang-orang yang sama kembali menempati jabatan penting di Tangsel.

"Banyak orang di Tangsel ini sudah merasa selesai. Artinya siapapun pemimpinnya nggak penting-penting amat, nggak bisa begitu, justru pemimpin itulah yang menentukan sejauh mana Tangsel ini lebih baik atau tidak. Struktur sosial-politik masyarakat di Tangsel ini agak feodal, segala sesuatunya didasarkan pada patron klien, bukan pada visi-misinya," tukasnya.

Sementara Ade Irawan, aktivis antikorupsi yang juga berniat maju pada Pilkada Kota Tangsel, menegaskan tanpa kepemimpinan yang kuat jangan berharap akan ada perubahan besar di Tangsel.

"Tangsel punya potensi untuk menjadi daerah lebih baik. Keuangan daerah hampir 4 triliun. Lalu sebagian daerah juga dibangun oleh sejumlah pengembang besar. Tangsel ini mestinya bisa jadi percontohan, bukan hanya bagi Banten tapi bagi daerah lain secara nasional," ungkap Ade.

Lubang di Jalan Siliwangi, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel) Ditanami Pohon Kelapa (foto: Hambali/Okezone)	 

Dia menyatakan, salah satu hal yang perlu dibenahi di Kota Tangsel adalah soal perimbangan pembangunan. Kata dia, fasilitas publik yang disediakan pemerintah Kota belum sebanding dengan yang disediakan pihak swasta.

"Di Tangsel ada sekolah terbaik, rumah sakit terbaik, pasar percontohan tapi itu yang bangun swasta, bukan pemerintah daerah. Kepemimpinan yang baik perlu memiliki kemampuan, komitmen atau keberanian, serta inovasi," ucapnya.

Beberapa figur alternatif yang kini mulai digaungkan maju dalam Pilkada Tangsel adalah, Suhendar aktivis sekligus dosen Universitas Pamulang, Ade Irawan mantan aktivis anti korupsi ICW, Siti Khodijah politisi PKS, Siti Nur Azizah putri KH Ma'ruf Amin, Nur Asia Uno istri Sandiaga Uno, M Reza AO Ketua Ormas PP.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini