nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kawanan Tukang Palak di Pasar Tanah Abang Terancam 9 Tahun Penjara

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Jum'at 06 September 2019 15:27 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 06 338 2101480 kawanan-tukang-palak-di-pasar-tanah-abang-terancam-9-tahun-penjara-n6eaBHZvLG.jpg Ilustrasi.

JAKARTA - Kurang dari 24 jam, Polsek Metro Tanah Abang kembali meringkus pemalak yang sering beroperasi di Pasar Tasik, Blok F Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Harry Kurniawan mengatakan, awalnya mereka menangkap dua pelaku yakini S dan N. Lalu dua orang lainnya berhasil ditangkap, yakni T dan MI

"Berawal dari viralnya aksi mereka di medsos dan adanya laporan, kami langsung bergerak dan kami berhasil menangkap para pelaku," katanya kepada wartawan di Polsek Metro Tanah Abang, Jakarta Pusat. Jumat (6/9/2019).

Setelah menangkap T dan MI, polisi kembali melakukan pengembangan. Akhirnya pihaknya menangkap enam pelaku lainnya yakni LB, IU,AT,R,H dan SH.

"Namun ke enam orang itu, kami akan serahkan ke Dinsos," ujarnya.

Sementara itu, pelaku peminta uang jago, S, N, T dan MI ditetapkan tersangka dan akan dijerat dengan Pasal 368 tentang Pemerasan dengan hukuman maksimal 9 tahun penjara.

Foto: Shutterstock

"Mereka akan dijeratkan dengan Pasal Pemerasan," ucapnya.

Sementara itu, Kapolsek Metro Tanah Abang, AKBP Lukman Cahyono mengatakan, para preman itu sudah lama beraksi, namun pihaknya baru mendapatkan laporan setelah viral di medsos.

"Jadi mereka ini sebenarnya sudah lama beraksi, namun baru ada laporan dan video viral, kami langsung mengamankan," ujarnya.

Keempat pelaku itu diketahui telah melakukan intimidasi terhadap para pedagang dan pengendara mobil dengan modus membantu mengatur lalu lintas di jalan tersebut.

"Modus mereka bantu atur jalan, tapi dia minta uang, kalau tidak ngasih maka mereka akan mencegat kemudian menggedor kaca mobil," sebutnya.

Karena jumlah mereka yang banyak, pengendara merasa ketakutan sehingga menyerahkan uang secara terpaksa. "Mereka enggak mau dikasih Rp500 atau Rp1.000, minimal Rp2 ribu sampai Rp5 ribu," ujarnya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini