Pengacara : Dandhy Dwi Laksono Ditangkap karena Suarakan Keadaan Papua

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Jum'at 27 September 2019 04:22 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 27 338 2109885 pengacara-dandhy-dwi-laksono-ditangkap-karena-suarakan-keadaan-papua-I5GcSZqNFd.jpg Ilustrasi Borgol

JAKARTA - Jurnalis sekaligus sutradara film Sexy Killers Dandhy Dwi Laksono ditangkap oleh Polda Metro Jaya saat berada di rumahnya yang berada di Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat pada Kamis 26 September malam.

Salah satu tim pengacara Dandhy, Alghiffari Aqsa menuturkan kliennya ditangkap dan telah dijadikan tersangka dengan tuduhan Pasal 28 ayat (2) dan Pasal 45 A ayat (2) UU ITE Atau Pasal 14 dan Pasal 15 KUH Pidana karena alasan status atau posting di media twitter mengenai Papua.

“Selama ini Dandhy kerap membela dan menyuarakan berita-berita tentang Papua. Yang dilakukan Dandhy adalah bentuk upaya memperbaiki kondisi HAM, dan demokrasi, serta merupakan bagian dari upaya memastikan bahwa masyarakat dan publik luas dapat informasi yang berimbang,” kata Alghiffari kepada wartawan, Jumat (27/9/2019).

Surat penangkapan Dandhy Dwi Laksono (Foto : Istimewa)

Alghiffari menilai penangkapan ini menunjukkan perilaku reaktif kepolisian Republik Indonesia untuk Isu Papua dan sangat berbahaya bagi Perlindungan dan Kebebasan Informasi yang dijamin penuh oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Peraturan Perundang-Undangan lainnya.

“Penangkapan ini merupakan bentuk pembungkaman bagi pegiat informasi, dan teror bagi pembela hak asasi manusia,” tegasnya.

Baca Juga : Polda Metro Dikabarkan Tangkap Dandhy Dwi Laksono Pembuat Film 'Sexy Killer'

Karena itu, Alghiffari mendesak agar Penyidik Polda Metro Jaya menghentikan penyidikannya dan membebaskan segera Saudara Dandhy Dwi Laksono.

“Kami juga mendesak agar Kepolisian menghargai Hak Asasi Manusia yang sepenuhnya dijamin konstitusi RI dan tidak reaktif serta brutal dalam menghadapi tuntutan demokrasi,” tandasnya.

Saat ini Dandhy sedang diperiksa diperiksa oleh Polisi dan didampingi oleh Yayasan LBH Indonesia (YLBHI), LBH Jakarta, KontraS, Imparsial, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Partai Hijau Indonesia, Amnesty Internasional Indonesia, AMAR Lawfirm.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini