Share

Pengacara: Dandhy Harusnya Dipanggil Secara Patut, bukan Ditangkap Malam-Malam

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Jum'at 27 September 2019 07:57 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 27 338 2109928 pengacara-dandhy-harusnya-dipanggil-secara-patut-bukan-ditangkap-malam-malam-RnIeKD6hrH.JPG Dandhy Dwi Laksono (Foto: YouTube/@Watchdoc Documentary)

JAKARTA - Jurnalis sekaligus sutradara film Sexy Killers, Dandhy Dwi Laksono ditangkap polsii di rumahnya di kawasan Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat pada Kamis 26 September malam.

Salah satu tim pengacara Dandhy, Alghiffari Aqsa menuturkan kliennya ditangkap dan telah dijadikan tersangka dengan tuduhan Pasal 28 ayat (2) dan Pasal 45 A ayat (2) UU ITE Atau Pasal 14 dan Pasal 15 KUH Pidana karena alasan status atau postingannya di media sosial Twitter soal Papua.

Salah satu kuasa hukum Dandhy, Alghiffari Aqsa memprotes penangkapan terhadap kliennya itu. Apalagi sebelumnya belum ada sekalipun surat panggilan untuk dimintai keterangannya sebagai saksi sebagaimana prosedur KUHAP.

"Tadi kami protes kenapa tidak dilakukan pemanggilan sebagai saksi terlebih dahulu atau pemanggilan sebagai tersangka kalaupun dia sudah ditetapkan sebagai tersangka," ucap Alghiffari di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (27/9/2019).

Ia juga mempertanyakan alasan polisi menjemput kliennya malam-malam tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu. Pihaknya pun memprotes keras langkah yang diambil polisi.

Dandhy Dwi Laksono

"Kenapa kemudian tiba-tiba malam-malam ditangkap. Pihak kepolisian beralasan karena ini soal sara, ini bisa membuat keonaran dan seterusnya. Kami protes keras, karena seharusnya dia dipanggil secara patut dulu. Ketika dia tidak kooperatif, satu, dua, tiga panggilan, baru bisa ditangkap, menurut kami," tandasnya.

Penyidik Polda Jaya Metro Jaya diketahui menangkap Dandhy Dwi Laksono saat sedang berada di rumahnya di kawasan Pondok Gede, Bekasi pada Kamis, 26 September 2019 malam.

Polisi menangkap Dhandy karena cuitannya soal Papua yang diduga telah menimbulkan rasa kebencian, permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Polisi menjerat Dandhy dengan Undang-undang Informasi Transaksi dan Elektronik (UU ITE).

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini