nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polisi Tangkap 6 Orang yang Coba Menggagalkan Pelantikan Presiden

Selasa 22 Oktober 2019 03:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 22 338 2119952 polisi-tangkap-6-orang-yang-coba-menggagalkan-pelantikan-presiden-LYWwNkHI7b.jpg Ilustrasi penangkapan. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Polda Metro Jaya mengamankan enam orang yang diduga berupaya menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo-Ma'ruf Amin pada Minggu 20 Oktober 2019. Para pelaku berada dalam satu grup Whatsapp (WA) untuk menyusun rencana menggagalkan pelantikan itu menggunakan peledak.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan keenam orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka tersebut yakni SH, E, FAB, RH, HRS, dan PSM. Sebanyak tiga orang tersangka berjenis kelamin perempuan.

Baca juga: Presiden Gadungan Dibekuk Polisi di Gedung DPR 

Polda Metro Jaya merilis enam tersangka percobaan penggagalan pelantikan presiden pada 20 Oktober 2019. (Foto: Irfan Ma'ruf/iNews.id)

"Di grup itu membahas kegiatan yang akan dilakukan upaya untuk menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden. Dari keterangan, WA grup ini berkembang untuk perencanaan. Makanya kita sudah menangkap enam orang, kita lakukan pemeriksaan," kata Argo dalam konferensi pers di kantornya, Senin 21 Oktober 2019, seperti dinukil dari iNews.id.

Argo menjelaskan, tersangka SH yang berperan membuat grup tersebut. Dalam grup itu berisi 123 orang dengan lima orang anggota.

Baca juga: Berniat Hadang Tamu Pelantikan Jokowi-Ma'ruf, Dua Pria Diciduk Polisi 

"Yang buat ide dan buat grup adalah tersangka SH. Buat grup WA dan memasukkan beberapa member untuk tujuannya menggagalkan pelantikan," paparnya.

SH, jelas Argo, masih mempunyai hubungan dengan dosen nonaktif IPB, Abdul Basith. Keduanya berkomunikasi terkait rencana penggagalan pelantikan presiden dengan menggunakan ketapel dan bola karet.

Baca juga: Jadi Presiden dan Wapres, Foto Jokowi-Ma'ruf Laris Manis di Pasaran 

Dalam rencana, bola karet yang dibuat digunakan untuk menyerang aparat keamanan yang berjaga di Gedung DPR RI.

"Rencananya menggunakan ketapel dan bola karet. Dari hasil pemeriksaan dapat diketahui akan dipakai di Gedung DPR untuk menyerang aparat, akan diberikan ke demonstran," tuturnya.

Baca juga: Jokowi Tak Singgung Pemberantasan Korupsi, Saut: Lebih Baik Tidak Disebut tapi Dilaksanakan 

Atas perbuatan tersebut, para tersangka dijerat Pasal 169 Ayat (1) KUHP dan/atau Pasal 187 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 Undang-Undang Darurat dengan ancaman hukuman 5 sampai 20 tahun penjara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini