Anak Tak Naik Kelas, Orang Tua Gugat Sekolah dan Disdik DKI Rp551 Juta

Fiddy Anggriawan , Okezone · Rabu 30 Oktober 2019 17:53 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 30 338 2123743 anak-tak-naik-kelas-orang-tua-gugat-sekolah-dan-disdik-dki-rp551-juta-28i8M6vLBS.jpg Ilustrasi Persidangan (foto: Shutterstock)

JAKARTA - Gara-gara anaknya tidak naik kelas, orang tua siswa menggugat SMA Kolese Gonzaga ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Orang tua siswa, Yustina Supatmi, menggugat Kepala Sekolah SMA Kolese Gonzaga hingga Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Seperti dikutip Okezone, dari laman Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (SIPP PN Jaksel), tercatat perkara itu mengantongi nomor 833/Pdt.G/2019/PN JKT.SEL.

Baca Juga: DPRD Temukan Anggaran Pembelian Lem Aibon di Disdik DKI Sebesar Rp82,8 Miliar 

Yustina mengguat Kepala Sekolah SMA Kolese Gonzaga, Pater Paulus Andri Astanto. Tak hanya itu, orang tua siswa tersebut juga menggugat Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Himawan Santanu; Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Gerardus Hadian Panomokta; dan guru Sosiologi Kelas XI, Agus Dewa Irianto.

Ilustrasi (foto: Shutterstock) 

Kemudian, Yustina juga ikut menggugat Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Provinsi DKI Jakarta.

"Mengabulkan gugatan penggugat untuk Seluruhnya. Menyatakan bahwa para tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum terhadap penggugat. Menyatakan keputusan para penggugat bahwa anak penggugat tidak berhak melanjutkan proses belajar ke jenjang kelas 12 SMA Kolese Gonzaga adalah cacat hukum," bunyi isi gugatan tersebut.

"Menyatakan anak penggugat memenuhi syarat dan berhak untuk melanjutkan proses belajar ke jenjang kelas 12 (Dua belas) di SMA Kolese Gonzaga," sambung isi gugatan.

Dalam perkara ini Yustina meminta ganti rugi materiil sebesar Rp 51.683.000 dan ganti rugi immateril sebesar Rp 500.000.000.

"Menyatakan sah dan berharga sita jaminan terhadap aset para tergugat berupa tanah dan bangunan Sekolah Kolese Gonzaga Jl. Pejaten Barat 10A, Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta, dan atau harta kekayaan para tergugat lainnya baik benda bergerak dan atau benda tidak bergerak lainnya yang akan disebutkan kemudian oleh penggugat," tulis gugatan tersebut.

Sidang pertama kasus gugatan ini sudah digelar pada Senin 28 Oktober 2019. Sidang kemudian ditunda dan akan dilanjkan lagi 2 pekan ke depan.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mulai angkat bicara menanggapi kasus orang tua murid yang mengugat 4 guru SMA Kolese Gonzaga Jakarta, lantaran tidak menaikkan kelas peserta didiknya.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan, Undang-Undang No.14/2005 memberikan hak kepada guru dalam hal memberi penilaian terhadap siswa. Dia memaparkan, pada pasal 14 ayat 1 poin 6 menyatakan guru berhak memberikan penghargaan sekaligus sanksi terhadap siswa.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti	 

"Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru memiliki 12 hak, salah satunya ada dalam point ke-6 yaitu: memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan," kata Retno.

Baca Juga: Anggaran Lem Aibon & Bolpoin Capai Rp205 Miliar, Salah Ketik atau Sengaja? 

Retno menenkankan, kewenangan guru dalam memberikan nilai dan memberikan sanksi sendiri dapat dilakukan sepanjang fakta dan datanya bisa dipertanggungjawabkan sesuai dengan norma dan etik. Ia pun mengaskan bahwa Peraturan Perundangan juga menjamin bahwa rapat dewan pendidik dalam memberikan sanksi dan nilai tidak dapat digugat ke PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara).

"Namun kasus ini adalah jenis gugatan perdata. Sepanjang dewan guru dan sekolah sudah menjalankan semua tusi (tugas dan fungsi) dengan benar maka keputusan tersebut tentunya akan dapat dipertanggungjawabkan di muka pengadilan. Mari kita hormati proses ini," tutur Retno.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini