nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sederet Kejanggalan Kasus Mahasiswi UIN Tewas Terlindas Truk di Tangsel

Hambali, Jurnalis · Jum'at 22 November 2019 14:31 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 22 338 2133156 sederet-kejanggalan-kasus-mahasiswi-uin-tewas-terlindas-truk-di-tangsel-Z7fpoS4xko.jpg Keluarga Almarhumah Niswatul Umma, Merasa Kecewa dengan Pernyataan Polisi yang Menetapkan Korban Sebagai Tersangka Kecelekaan Maut di Tangsel (foto: Okezone/Hambali)

TANGERANG SELATAN - Tewasnya mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Niswatul Umma (19), akibat terlindas truk tanah beberapa waktu lalu seolah menjadi tugas berat jajaran kepolisian resort Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Peristiwa kecelakaan itu terjadi di Jalan Graha Raya Bintaro, Pondok Aren, 14 Oktober 2019 lalu, sekira pukul 15.30 WIB. Sopir truk bernama Madrais (40), dibebaskan setelah sempat ditahan. Lalu korban tewas, Niswatul Umma, dinyatakan sebagai pihak yang lalai dan bersalah. Almarhumah pun disebutkan sebagai tersangka.

Baca Juga: Mahasiswi Tewas Terlindas Truk di Tangsel Jadi Tersangka, Keluarga: Ini Tak Adil 

Penanganan kasus itu tentu langsung menuai polemik. Tak tekecuali dari Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Jakarta yang menganggap ada kejanggalan di dalam prosesnya. Disebutkan, ada perbedaan mencolok antara hasil penyelidikan oleh polisi di lapangan, dengan tim yang dibentuk mahasiswa saat mengungkap fakta kecelakaan.

"Kehadiran kami disini ingin menegaskan, bahwa ditegakannya keadilan dalam penyelesaian kasus mahasiswi UIN yang menjadi korban, dan kami juga ingin memastikan bahwa tidak ada yang disembunyikan dalam kasus ini. Kami juga menegaskan, tidak ada lagi Niswatul atau korban berikutnya," tegas Sultan Rivandi, Ketua Dema UIN Jakarta, Jumat (22/11/2019).

Sultan Rivandi, Ketua Dema UIN Jakarta Terkait Kasus Mahasiswi UIN Tewas Terlindas Truk di Tangsel (foto: Okezone/Hambali)	Sultan Rivandi, Ketua Dema UIN Jakarta Terkait Kasus Mahasiswi UIN Tewas Terlindas Truk di Tangsel (foto: Okezone/Hambali) 

Menurut Sultan, tudingan bahwa korban dijadikan tersangka akibat kelalaiannya tak dapat dibuktikan secara faktual. Sebab, Niswatul sendiri saat berkendara mengikuti ketentuan yang ada. Misalnya, memiliki SIM, helm, dan sepeda motor yang layak standar beroperasi.

"Lalu apa definisinya, sehingga dibilang lalai, kami juga mempertanyakan si sopir ini bekerja atas siapa? Korporasinya siapa? Perusahaan apa? Jangan sampai ada yang disembunyikan dan dirugikan dalam kasus ini. Keadilan harus ditegakkan," sambung Sultan.

Dalam pertemuan antara mahasiswa UIN dengan Kapolres Tangsel itu, sempat dijelaskan kronologi kecelakaan berdasarkan penyelidikan Satuan Lalu Lintas (Satlantas). Di mana waktu kejadian, ada truk tanah yang sedang parkir di lajur kiri jalan, sementara sepeda motor korban berusaha menyalip laju truk tanah lainnya yang melintas di lajur kanan.

"Ada truk parkir di sana, tertabrak lah, terpental, terlindas ban belakang (truk). Lalu kami sampaikan, jangan semena-mena dalam mencap si korban lalai, karena kawan-kawan di lapangan melaporkan tidak seperti itu. Hasil olah TKP yang disampaikan masih sama seperti itu, bertentangan dengan laporan kawan-kawan di lapangan," ujarnya.

Dema UIN pun curiga, bahwa pihak kepolisian terkesan memudahkan si sopir truk bebas dari jeratan pidana. Padahal sebelumnya tak pernah ada pernyataan yang rinci dari petugas mengenai keberadaan lalu-lalang truk tanah di lokasi itu.

"Saya sampaikan juga sama Kapolres, jangan sampai timbul pertanyaan kok korporasinya tidak dibuka? Si sopir dilepas begitu saja? Kronologis sopir tidak dijelaskan dari mana mau ke mana? Angkut barang apa? Bekerja untuk siapa? Kami ingin memastikan itu semua seterang-terangnya," ungkapnya.

Baca Juga: Polisi Sebut Mahasiswi UIN Jakarta Tewas Terlindas Truk sebagai Tersangka 

Belakangan ada hal yang aneh soal Surat Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap kasus tersebut. Jika sebelumnya, Kanit Laka Lantas Iptu Dhady Arsya serta Kasatlantas AKP Bayu Marfiando menyatakan kasus dihentikan dan tuntas. Namun berbeda dengan Kapolres, yang justru menyampaikan kasusnya masih berjalan.

Pertemuan Mahasiswa UIN dengan Kapolres Tangsel AKBP Ferdy Irawan (foto: Okezone/Hambali)	 

"Belum di SP3 kan. Makanya kita luruskan berita yang simpang siur, bahwa sudah dihentikan, bahwa korban tersangka, tidak benar seperti itu. Kasus masih berjalan," ucap Kapolres Tangsel AKBP Ferdy Irawan dihubungi terpisah.

Kapolres menjamin akan terbuka dalam melakukan penyidikan atas kasus kecelakaan itu. Dia berharap, masukan dari tim lapangan mahasiswa UIN bisa memberikan perbandingan, sehingga dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.

"Sebagai perbandingan nanti. Mudah-mudahan jadi masukan baru bagi kami untuk proses penyidikan selanjutnya, kalau memang itu nanti sesuai dengan faktanya. Masih kita pelajari, karena tadi baru kita terima. Penyidikan masih terus berjalan sampai pada akhirnya kita berikan kepastian hukum," tutup Ferdy.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini