Fakta Unik Sungai Ciliwung: 'Ratu dari Timur' hingga Hewan Endemik

Maulidia, Okezone · Jum'at 22 November 2019 14:47 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 22 338 2133170 fakta-unik-sungai-ciliwung-ratu-dari-timur-hingga-hewan-endemik-9UNxnRaEJm.jpg Aliran Sungai Ciliwung di Jakarta. (Foto: Dok Okezone/Heru Haryono)

4. Dijuluki 'Ratu dari Timur'

Ketika masa penjajahan dahulu Sungai Ciliwung sangat terkenal dengan kejernihan airnya sampai-sampai mendapat julukan 'Ratu dari Timur'. Hal inilah yang membuat Pemerintah Kolonial Belanda yang tergabung dalam VOC sangat terpukau dengan Sungai Ciliwung.

Kala itu sistem kanalisasi Ciliwung sangat indah. Terdapat barisan pohon kelapa dan bangunan bergaya Eropa di sebelah kanan-kiri Ciliwung.

Sejumlah pujian hadir untuk Sungai Ciliwung dan Kota Batavia berkat keindahan ini. Hingga akhirnya muncul sebutan 'Ratu dari Timur'.

5. Sungai Ciliwung memiliki ratusan jenis ikan

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ada sebanyak 270 ikan endemik Ciliwung yang bisa menjadi sumber konsumsi. Namun saat ini jumlah ikan tersebut sudah berkurang dan hanya 20 jenis yang tersisa, tepatnya di wilayah Cianjur dan Bogor.

Aliran Sungai Ciliwung di Bogor. (Foto: Dok Okezone)

6. Mengenal hewan khas Ciliwung

Sungai Ciliwung memiliki beberapa hewan khas yang unik selain ikan. Di bantarannya terdapat kupu-kupu raksasa, bulus atau kura-kura bertempurung lunak, serta ular sanca. Kemudian di bagian muara sungainya ada buaya, kucing bakau, burung bangau, dan berang-berang.

Sayangnya, hewan-hewan khas tersebut sudah punah. Terakhir dilihat dan ditemukan pada 1970. Kini Ciliwung harus dijaga habitatnya karena masih ada hewan khas yang bisa ditemukan, seperti ular, musang, dan beragam ikan.

7. Air Ciliwung semakin terancam

Saat ini kondisi air Sungai Ciliwung semakin surut, terutama ketika musim panas. Ciliwung bakal mengalami banjir saat musim hujan mendatang.

Selain itu, pencemaran menjadi masalah serius di Sungai Ciliwung saat ini. Kian hari air yang mengalir makin kotor, bahkan berkurang debitnya.

Permasalahan tersebut diduga terjadi ketika muncul pembangunan-pembangunan secara masif di Depok, Jakarta, dan Bogor.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini