nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fraksi PDIP DKI Pertanyakan Anggaran untuk Laboratorium Fisika dan Kimia di Sekolah Pariwisata

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Jum'at 06 Desember 2019 09:44 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 06 338 2138611 fraksi-pdip-dki-pertanyakan-anggaran-untuk-laboratorium-fisika-dan-kimia-di-smk-pariwisata-IRcXpgnq0F.jpg Rapat Paripurna DPRD DKI (Foto: Okezone/Fadel)

JAKARTA - Fraksi PDI Perjuangan DKI Jakarta terus melakukan penyisiran anggaran pasca ditandatanganinya MoU Kebijakan Umum Anggaran-Priorotas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) antara eksekutif dengan legislatif pekan lalu.

Dalam penyisiran di anggaran Dinas Pendidikan yang berada di lingkup Komisi E, Fraksi PDIP kembali menemukan anggaran yang dinilai masih belum cermat, diantaranya pembangunan Laboratorium Fisika dan Kimia untuk pembangunan unit baru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pariwisata 74.

“Padahal untuk SMK Pariwisata, tidak diperlukan sama sekali laboratorium Kimia dan Fisika”, ucap Ima Mahdiah, Anggota fraksi PDI Perjuangan Komisi E, di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jumat (6/12/2019).

Ima

Baca Juga: Soal Reklame Roboh, DPRD DKI: Jangan Sampai Ada Korban Baru Bergerak!

Menurut Ima, jawaban dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta kurang masuk akal, karena menyebut bahwa hal ini terkait dengan pembuatan laboratorium untuk sains terapan. Setalah dilakukan penajaman kembali, ditemukan anggaran untuk sains terapan juga di program lainnya.

Hal ini bisa ditemukan, karena setelah dilakukan penyisiran, dan terdapat anggaran pembuatan sekolah baru khusus untuk SMK Pariwisata 74 jumlah anggarannya mencapai RP.106,157,668,120 M, jauh lebih tinggi dari pembangunan sekolah lainnya.

Ima menilai kesan bahwa anggaran yang dibuat bersifat copy-paste, tidak berdasarkan kebutuhan yang dibutuhkan masing-masing kegiatan, dalam hal ini terkait dengan pembangunan sekolah baru.

“Fraksi PDI Perjuangan sepakat untuk memperluas jumlah pembangunan unit sekolah baru, namun dengan anggaran yang masuk akal dan tidak terkesan dibuat dengan tidak cermat dan copy-paste,” lanjut Ima.

Selain itu, masih banyak permasalahan-permasalahan lainnya, diantaranya masalah rehabilitasi sekolah, masih ditemukan banyak anggaran renovasi sekolah nilainya sama dengan anggaran rehab ulang gedung sekolah.

Bagi Ima, ini harus dikaji ulang agar anggaran Dinas Pendidikan bisa menjadi jauh lebih berkualitas.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini