nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penjual Jengkol Diciduk Polisi karena Nyambi Jadi Perakit Senjata Api

Isty Maulidya, Jurnalis · Selasa 24 Desember 2019 21:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 24 338 2145753 penjual-jengkol-di-tangerang-mendadak-diciduk-polisi-Enhr8VnolF.jpg Polisi Gelar Jumpa Pers (Foto: Okezone)

TANGERANG - Seorang penjual jengkol berinisial EC mendadak diciduk petugas kepolisian Polres Kota Tangerang karena menyambi jadi perakit senjata api ilegal.

Sebagai barang bukti, sebanyak 11 senjata api rakitan dan 5 pucuk airsoft gun diamankan petugas. Tak hanya itu, polisi juga menemukan 375 butir peluru tajam dengan kaliber 9, 38, 765 dan 22 di kediamannya kawasan Perum Asri, Pasar Kemis, Tangerang.

Kapolres Kota Tangerang, AKBP Ade Ary Syam menjelaskan pihaknya mendapatkan laporan dari warga setempat yang mencurigai adanya aktivitas tak lazim di wilayah tersebut. Setelahnya polisi kemudian memeriksa kebenaran laporan tersebut dan menemukan adanya aktivitas perakitan senjata api ilegal di kediaman pelaku.

"Kita mendapatkan laporan masyarakat yang resah adanya aktivitas di kediaman tersangka. Kemudian, kita lakukan tindak lanjut dan didapati kalau rumah tersebut dijadikan tempat perakitan senjata api ilegal oleh EC," katanya di Mapolresta Tangerang, Selasa (24/12/2019).

Polres

Baca Juga: Pengemudi Lamborghini yang Todongkan Pistol ke Pelajar Adalah Pengusaha Properti

Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap tersangka, EC sudah melakukan aktivitas merakit senapan api selama satu tahun. EC juga menerima jasa mengubah airsoft gun menjadi senjata api. Jasa tersebut dipasarkan oleh EC melalui jaringan rekannya lewat situs belanja online.

Ade juga mengungkapkan EC melakukan aksinya bersama rekannya JEP yang juga telah diamankan polisi. JEP sendiri merupakan merupakan karyawan bubut yang bertugas membuat sparepart senjata api seperti pelatuk ataupun yang lainnya. Sementara, EC bertugas merakit senjata serta memasarkan jasa ataupun hasil rakitannya.

"Tugas-tugas mereka cukup terstruktur dengan baik. Bahkan menurut mereka, untuk pengiriman atau penjualan barang tersebut sudah hampir ke seluruh wilayah di Pulau Jawa," ujarnya.

Kepada polisi, keduanya mengaku memasang tarif yang berbeda dalam merakit senjata. Lama proses merakit juga berbeda tergantung tingkat kesulitan. Untuk proses pembuatan peluru, polisi masih menelusurinya sebab peluru yang dijual juga berasal dari jaringan yang lain.

"Selain menawarkan jasa, mereka juga menjual hasil rakitannya dengan nilai Rp11 hingga Rp13 juta ditambah bonus 25 butir amunisi. Untuk proses merakit ini, mereka memakan waktu hingga satu bulan untuk satu sampai dua senjata. Dan untuk amunisi peluru ini, masih kita telusuri juga, karena ternyata mereka tidak membuatnya sendiri tetapi mendapatkannya dari sekelompok organisasi dan ini masih kita cari serta dalami," ungkapnya.

Saat ini, kedua pelaku sudah diamankan petugas dan akan dijerat pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat 1951 tentang penguasaan kepemilikan soal senjata api dan amunisi secara ilegal atau tanpa hak dengan hukuman penjara seumur hidup.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini