nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Banjir Jakarta Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial

Amril Amarullah, Jurnalis · Jum'at 03 Januari 2020 14:55 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 03 338 2148893 banjir-jakarta-ternyata-sudah-ada-sejak-zaman-kolonial-ymyc9E6FOK.jpg Ilustrasi banjir Jakarta. (Foto: Dok Okezone)

IBU Kota Jakarta memang memiliki sejarah panjang terkait fenomena banjir besar. Banjir yang hampir setiap tahunnya melanda Ibu Kota ini bukan hal baru karena sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu, tepatnya di masa pemerintahan kolonial Belanda.

Dengan pengalaman yang cukup panjang, tidak heran bila bencana yang selalu menimpa Ibu Kota ini menjadi pusat perhatian. Sejarah mencatat bahwa banjir Jakarta ini sudah ada sejak zaman VOC atau Hindia-Belanda tepatnya pada era 1600 di masa Gubernur Jan Pieterszoon Coen.

Kini di pemerintahan Gubernur Anies Rasyid Baswedan, banjir juga masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang sangat besar.

Apa yang menjadi faktor penyebab banjir selalu melanda Jakarta dari zaman VOC hingga tahun ini di setiap musim hujan tiba. Berikut Okezone coba paparakan beberapa di antaranya, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, Jumat (3/1/2020):

1600

Banjir besar pernah melanda Jakarta yang kala itu masih bernama Batavia. Banjir tepatnya terjadi pada era 1600-an di masa kepemimpinan Gubernur Jan Pieterszoon Coen dari VOC.

Sang gubernur sangat serius menanggulangi banjir pada masa ini. Ia bahkan membangun kanal-kanal dan sodetan Kali Ciliwung. Sayangnya, langkah ini kurang membuahkan hasil berarti.

1892

Pada 1 Januari 1892, Batavia kembali kebanjiran dampak hujan sangat lebat. Kanal-kanal yang dibuat di Batavia kurang mampu menahan derasnya debit air.

Sejumlah rumah tergenang banjir. Bahkan rel kereta di sekitar Pasar Minggu nyaris terendam banjir.

1893

Lalu pada 1893, banjir kembali melanda Batavia. Banyak permukiman terendam, sebut saja Kemayoran, Bendungan, Kampung Kepu, dan Nyonya Wetan.

Disebutkan, banjir kali ini sampai merusak jalan-jalan di Batavia. Kemudian geliat perekonomian masyarakat turut terganggu.

1918

Kemudian banjir besar terjadi lagi di Batavia pada 1918 ketika masa kepemimpinan Gubernur Jenderal VOC Johan Paul van Limburg Stirum.

Banjir kali ini ditengarai akibat maraknya perambahan hutan di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk dijadikan kebun teh. Disebutkan banyak korban jiwa dalam peristiwa itu.

Pemerintah Hindia-Belanda kemudian membuat perencanaan mencegah terjadinya banjir serupa dengan mengendalikan air agar tidak masuk ke kota. Belanda membuat kanal supaya air dari Puncak Bogor bisa mengalir ke laut.

1932

Kemudian banjir besar menerjang Batavia pada awal Januari 1932. Kala itu turun hujan deras selama berhari-hari yang melanda Batavia.

Banjir besar melanda sampai merendam sebagian besar wilayah Batavia. Dijelaskan, bahkan istana gubernur turut terkena banjir.

1960

Pada Februari 1960, banjir terjadi di pinggiran Kota Jakarta yakni kawasan Grogol. Wilayah tersebut mengalami banjir hingga setinggi lutut dan pinggang orang dewasa.

Ini menjadi krisis pertama untuk Soekarno selaku kepala negara Republik Indonesia. Akibat banjir tersebut, pemerintah turun tangan, sebab sebelumnya dikabarkan banjir hanya ditangani masyarakat. Pemerintah pun membentuk tim khusus untuk mengatasi banjir Jakarta.

1979

Berlanjut terjadi banjir besar pada 19–20 Januari 1979 ketika era Gubernur Tjokropranolo. Terjangan air melanda sebagian besar wilayah DKI Jakarta.

Banjir tersebut menggenangi kawasan permukiman seluas 1.100 hektare. Dampaknya, 714.861 orang harus mengungsi dan 20 orang dilaporkan hilang.

Bencana ini terjadi usai Belanda pergi dari Jakarta. Banjir tersebut dilaporkan akibat hujan lokal dan banjir kiriman.

1996

Pada 9 sampai 11 Februari 1996, DKI Jakarta kembali mengalami banjir besar. Ketinggian air di kawasan tertentu di DKI mencapai 7 meter. Sedikitnya 20 orang meninggal dunia dan 30.000 lainnya mengungsi.

2007

Jakarta kembali terendam banjir besar pada 1 hingga 2 Februari 2007. Ini termasuk bencana terburuk di Jakarta, sebab sebanyak 80 orang meninggal serta 320.000 lainyya diungsikan.

Kerugian akibat banjir pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp4,3 triliun.

2010

Tanggal 10 Februari 2010 menjadi hari cukup kelam di Jakarta. Banjir besar kembali menghantam ibu kota Republik Indonesia ini beserta kota-kota di sekitarnya.

Sebanyak 863 orang terpaksa mengungsi menghindari banjir. Bencana kali ini disebut-sebut akibat buruknya sistem pengendalian air sehingga meluap ke permukiman warga.

2013

Musibah banjir besar tercatat kembali terjadi pada Januari 2013. Terjangan air kali ini ditengarai akibat tingginya intensitas hujan sejak akhir Desember 2012. Kemudian ditambah dengan buruknya sistem drainase serta jebolnya beberapa tanggul.

Dilaporkan, sedikitnya 20 orang meninggal dalam bencana banjir Jakarta pada Januari 2013, dan 33.500 lainnya mengungsi. Kerugian ditaksir mencapai Rp20 triliun.

2014

Pada Januari 2014, sejumlah kecamatan di DKI Jakarta diterjang banjir menyusul tingginya curah hujan. Genangan air di beberapa titik mencapai 4 meter. Sebanyak 23 orang meninggal akibat kejadian ini dan 62.819 jiwa mengungsi di 253 titik. Lalu tercatat 134.662 orang terdampak banjir.

2015

Banjir besar kembali menghantam Jakarta pada 9 Februari 2015. Ada 38 kecamatan terendam. Beberapa kawasan terparah dampak banjir adalah Kelapa Gading, Mangga Dua, serta Grogol.

Sebanyak 231.566 orang terdampak banjir kali ini dan 41.202 lainnya harus mengungsi.

Banjir juga berimbas pada lumpuhnya beberapa pusat perbelanjaan dan sebagian aktivitas masyarakat, serta terganggungnya perjalanan kereta rel listrik (KRL). Kerugian akibat musibah ini ditaksi mencapai Rp1,5 triliun.

2016

Banjir besar Jakarta kembali terjadi pada Januari dan Februari 2016. Sebanyak 74 kecamatan tergenang air. Warga yang mengungsi tercatat sebanyak 1.137 orang.

2019

Ibu Kota pada 26 April 2019 kembali dinaungi banjir besar. Bencana alam di wilayah kepemimpinan Gubernur Anies Rasyid Baswedan ini dilaporkan terjadi akibat tingginya curahnya hujan di Jabodetabek.

Banjir merendam puluhan wilayah di Jakarta, kemudian menewaskan 2 orang dan 2.500 jiwa lainnya mengungsi ke belasan titik karena rumahnya terendam.

Tidak heran jika DKI Jakarta kerap dilanda bencana alam banjir. Hal itu diduga karena Ibu Kota terletak di daratan yang datar.

Kemudian dilaporkan 40 persen wilayah Jakarta, terutama daerah utara, berada di bawah permukaan laut, sedangkan bagian selatan relatif berbukit-bukit.

Sementara ada sungai mengalir dari Puncak, melewati seluruh kota ke utara menuju Laut Jawa. Ciliwung merupakan sungai yang membagi kota ke barat dan timur. Sungai lainnya seperti Pesanggrahan dan Sunter.

Faktor lain yang diduga menjadi penyebab banjir Jakarta seperti tersumbatnya pipa pembuangan dan saluran air yang melayani warga. Kemudian ada deforestasi dekat wilayah-wilayah urbanisasi di sekitar Jakarta.

Di luar hal-hal itu, Jakarta adalah kawasan perkotaan dengan masalah sosial, ekonomi, dan politik yang sangat kompleks. Permasalahan ini secara tidak langsung turut memicu datangnya bencana banjir.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini