Green NN, Pil Ekstasi Jaringan Freddy Budiman Efeknya Bisa 'Goyang' 10 Jam

Putra Ramadhani Astyawan, Okezone · Selasa 21 Januari 2020 15:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 21 338 2156104 green-nn-pil-ekstasi-jaringan-freddy-budiman-efeknya-bisa-goyang-10-jam-ILsxVyo5vq.jpg Kapolres Bogor AKBP M Joni (foto: Okezone.com/Putra)

BOGOR - Satuan Reserse Narkoba Polres Bogor membongkar industri rumahan pil ekstasi jenis Green NN milik tersangka berinisial HS di Senen, Jakarta Pusat. Penangkapan tersebut berdasarkan hasil pengembangan dari bandar narkoba yang ditangkap di Cibinong, Bogor.

Kapolres Bogor, AKBP M. Joni mengatakan, pil ekstasi tersebut merupakan racikan tersangka yang diketahui masih jaringan gembong narkoba yang sudah dieksekusi mati, Freddy Budiman. Pil ekstasi itu mempunyai efek sekitar 10 jam kepada pemakainya.

"Efeknya bisa 'goyang' sampai 10 jam, dari buka sampai tutup diskoteknya masih terus goyang itu," kata M. Joni, kepada wartawan di Mapolres Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/1/2020).

 Baca juga: Pasutri Pakai Narkoba Dibekuk, Barang Bukti 1 Gram Sabu Disita Polisi

Pil ekstasi tersebut, lanjut Joni, juga dicampur obat sakit kepala untuk menambah efeknya. Untuk produksi, tersangka HS mampu mencetak pil ekstasi sebanyak 180-240 butir per harinya.

"Dijual Rp450 ribu sampai 800 ribu per butirnya. Pengakuan yang bersangkutan bisnis ini berjalan sekitar 1 tahun, wilayah edar Jabodetabek," jelasnya.

 Baca juga: Polres Bogor Bongkar Pabrik Ekstasi Jaringan Freddy Budiman

Tersangka HS yang juga residivis narkoba dijerat dengan Pasal 113, Pasal 114, Pasal 112 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal penjara seumur hidup atau hukuman mati.

"Kita akan terus kembangkan, juga termasuk apakah ada oknum lapas yang teribat atau tidak," tutupnya.

Sebelumnya, Polres Bogor membongkar industri rumahan pil ekstasi milik tersangka HS di Senen, berdasarkan pengembangan dari penangkapan bandar narkoba di Cibinong, Bogor.

Tersangka HS mengaku bahan baku pembuatan pil ekstasi racikannya berasal dari narapidana di Lapas Gunung Sindur yang telah divonis mati atas kepemilikan sabu 100 kilogram berinisial ADTS.

Narapidana tersebut pun diketahui masuk ke dalam salah satu jaringan internasional gembong narkoba Freddy Budiman.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini