nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Palsukan Akta Nikah, Terapis Ingin Kuasai Harta Pasiennya Senilai Rp40 Miliar

Muhamad Rizky, Jurnalis · Selasa 28 Januari 2020 22:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 28 338 2159739 palsukan-akta-nikah-terapis-ingin-kuasai-harta-pasiennya-senilai-rp40-miliar-eOgtEVFDdE.jpg Polda Metro Jaya menangkap pelaku pemalsuan akta nikah (Foto: Okezone/Muhamad Rizky)

JAKARTA - Seorang terapis berinisial J alias V ditangkap polisi karena nekat memalsukan akta nikah demi merebut harta warisan dari pasiennya, Basri Sudibyo. Tak tanggung-tanggung harta yang diincarnya senilai Rp40 miliar. 

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus mengatakan, J memalsukan akta nikah dengan Basri yang sudah meninggal. Hal itu dilakukan karena sebelum meninggal, Basri menitipkan surat akta tanah di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan senilai Rp40 miliar kepada J.

Namun, saat diminta ahli waris Basri, J menolak untuk menyerahkan surat akta tanah tersebut. Adapun hubungan J dan Basri hanya sebatas terapis dan pasien. Selain J, polisi juga menangkap terduga pelaku lainnya, masing-masing bernisial ABB, dan MHH.

"Jadi, mereka membuat akta otentik surat pernikahan palsu. Kemudian, membuat surat ahli waris, untuk bisa menguasai sebidang tanah milik almarhum agar warisan tersebut jatuh kepada si J," ujar Yusri di Polda Metro Jaya, Selasa (28/1/2020).

Baca Juga: Polisi Tangkap Sindikat Pemalsu SIM, STNK dan Akta Cerai

Akta nikah palsu Foto: Muhamad Rizky

Pelaku J meminta bantuan ABB dan dikenalkan kepada tersangka MHH. Ia yang berpura-pura sebagai pendeta agar dapat membuatkan akta pernikahan untuk J dan Basri.

MHH kemudian mencatut gereja di Bogor terkait pernikahan tersebut. Kemudian, membuat surat ahli waris palsu untuk menguasai tanah tersebut.

"MHH, ini membuat dan menandatangani surat akta perkawinan yang merupakan akta perkawinan adalah palsu bikinnya April 2019. ABB membantu J untuk memiliki legalitas daripada pekawinan, dia juga yang membantu mengedit foto sebagai bukti perkawinan," tuturnya.

Pelaku J menggunakan surat akta perkawinan tersebut bersama-sama dengan ABB untuk membuat penetapan perkawinan. Lalu, J dan ABB ini membuat akta keterangan waris dengan bermodal buku perkawinannya.

"Akhirnya tersangka ini dapat menguasai sertifikat tanah milik dari almarhum," tuturnya.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat Pasal 263, Pasal 264, Pasal 266 dan Pasal 242 KUHP dengan ancaman di atas lima tahun penjara.

Baca Juga: Korban Pemalsuan Akta Harap Proses Hukum Penuhi Rasa Keadilan

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini