nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

5 Fakta Menarik Monas, Ikon Jakarta yang Belum Diketahui Publik

Maulidia, Jurnalis · Senin 10 Februari 2020 17:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 10 338 2166233 5-fakta-menarik-monas-ikon-jakarta-yang-belum-diketahui-publik-dUPF1g8jgh.jpg Monumen Nasional (Monas). (Foto: Dok Okezone/Dede Kurniawan)

JAKARTA – Monumen Nasional sudah menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi para pengunjung saat memasuki liburan panjang. Monas dikenal sebagai ikon DKI Jakarta dengan bentuk unik dan memiliki area mencapai 80 hektare.

Saat ini Monas ramai diperbincangkan lantaran muncul polemik terkait proyek revitalisasinya. Salah satunya dipicu penebangan 191 pohon di kawasan ruang terbuka hijau di Monas.

Berikut ini fakta-fakta menarik Monumen Nasional yang belum banyak diketahui publik, sebagaimana telah dirangkum Okezone dari berbagai sumber, Senin (10/2/2020).

1. Makna dan Filosofi Monas

Monumen Nasional merupakan tugu yang melambangkan keperkasaan dari perjuangan bangsa Indonesia. Tugu Monas berada di tengah Lapangan Merdeka, tepatnya di Lapangan Ikada yang pernah digunakan Ir Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai tempat untuk mengadakan rapat raksasa.

Saat itu keduanya membantu kekuatan rakyat untuk mengusir penjajah yang akan kembali dan merebut kekuasaan pemerintah dari Jepang. Pembangunan Monas pada 17 Agustus 1945 memang dijadikan simbol yang dituangkan dalam wujud tugu agar rakyat dapat mengenang persitiwa luar biasa tersebut.

Dalam membangun Monas yang diupayakan dari perencanaan, konstruksi, dan material digunakan berasal dari dalam negeri dan juga bantuan luar negeri dari Jepang, Jerman Barat, Italia, dan Prancis. Sebelumnya pembangunan Monas dilaksanakan dalam tiga tahap. Monumen yang memiliki tinggi 132 meter (433 kaki) itu telah dibuka untuk umum sejak 12 Juli 1975 setelah pembangunan yang dimulai pada 17 Agustus 1961.

2. Sayembara Panjang Merancang Monas

Sebelum melakukan pembangunan, Ir Soekarno membuka sayembara merancang Tugu Monas. Sayembara ini terbuka untuk semua warga negara Indonesia (WNI) baik secara kolektif maupun individu. Sayembara berlangsung dibuka pada 17 Februari 1955 dan ditutup Mei 1956 yang telah diikuti sebanyak 51 peserta.

Saat itu F Silaban terpilih sebagai peserta terbaik, namun ia tak mampu memenuhi persyaratan pembentukan tugu. Akhirnya sayembara ulang dilakukan kembali dan dibentuk dengan juri yang diatur oleh Kepres RI Nomor 33 Tahun 1960 dan dimulai pada 10 Mei 1960. Kala itu panitia menginginkan desain yang dapat mencerminkan kepribadian dari Indonesia dan mampu membangkitkan semangat patriotik, bentuk tiga dimensi, tidak rata, menjulang tinggi, bermaterial beton, besi, dan pualam, serta mampu bertahan hingga 1.000 tahun lamanya.

Sayembara ulangan yang telah ditutup pada 15 Oktober 1960 berhasil mengumpulkan 222 peserta dengan 136 rancangan. Namun dari setiap rancangan yang ada masih belum menemukan karya yang sesuai dengan kriteria. Hingga Presiden Soekarno menunjuk arsitek Soedarsono dan F Silaban untuk membuat rancangan Tugu Nasional yang disetujui pada 1961.

3. Pembangunan Monas Tertunda

Awal pembangunan Monas tahap pertama dilaksanakan mulai tahun 1961/1962–1964/1965. Pembangunan diresmikan pada 17 Agustus 1961 oleh Presiden Soekarno secara seremonial dengan menancapkan pasak beton pertama.

Sebanyk 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan dan sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional. Secara keseluruhan pembuatan fondasi selesai pada Maret 1962. Kemudian dinding museum di dasar bangunan telah selesai pada Oktober kemudian pembangunan obelisk yang sudah dimulai dan akhirnya rampung pada Agustus 1963.

Saat pembangunan tahap kedua yang berlangsung dalam kurun waktu 1966 hingga 1968. Adanya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, tahap pembangunan ini sempat tertunda.

4. Sumber Emas Puncak Monas

Berawal dari puncak Tugu Monas yang memiliki berat 32 kilogram emas. Salah satu kisah yang dipercaya masyarakat adalah sosok Teuku Markam, seorang saudagar yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam yang menyumbang 28 kilogram emas untuk melapisi lidah api tugu Monas. Diketahui, semasa hidupnya Teuku Markam terus berjuang untuk membela Tanah Air hingga ia mengembuskan napas terakhir pada 1985.

Saat pertama kali dibangun, emas yang digunakan untuk melapisi lidah api itu mempunyai berat 35 kilogram. Namun pada 1995 ketika Indonesia merayakan ulang tahun emas kemerdekaan, yaitu 50 tahun lapisan emas Tugu Monas ditambah lagi mencapai berat 50 kilogram. Lidah api keemasan dari Tugu Monas melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia.

5. Pergantian Nama Monas

Pada awalnya nama dari tugu ini bukanlah Monumen Nasional. Saat itu lapangan Monas mengalami lima kali pergantian nama mulai dari Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, hingga Taman Monas. Seiring berjalannya waktu, masyarakat kini lebih banyak menyebutnya Monas sebagai bentuk dari singkatan Monumen Nasional. (han)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini