nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPAI Minta Guru Pemukul Siswa SMA Bekasi Diproses Hukum

Wisnu Yusep, Jurnalis · Jum'at 14 Februari 2020 21:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 02 14 338 2168702 kpai-minta-guru-pemukul-siswa-sma-bekasi-diproses-hukum-mT3WF59Lzq.jpg Gedung SMA 12 Bekasi (Foto: Okezone/Wisnu)

BEKASI - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menginginkan pemukulan guru berinisial I terhadap sejumlah murid SMA Negeri 12 Kota Bekasi harus diproses secara hukum.

Terlebih dalam kasus ini yang terlibat adalah antara guru dengan murid. Berbeda halnya kasus yang melibatkan antar siswa. Jika kasus yang terlibat antar siswa masih bisa di musyawarahkan.

“Kalau kami mau ini diproses saja hukum, jangan damai dong karena kalau damai itukan jika anak terlibat dengan anak, tentu bisa memang diminta diversi PPA," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti ketika menyambangi SMAN 12 Kota Bekasi, Jumat (14/2/2020).

Bila pun diversi, lanjut dia, itu tergantung kepada korban menerima atau tidak. Termasuk, bila pihak guru menginginkan mediasi. "Ya silahkan, tapi jika ada unsur tindak pidana kan polisi bisa tanpa delik diadukan,” kata dia.

Aniaya

Baca Juga: Kronologi Guru Pukul Siswa SMA di Bekasi yang Viral

KPAI juga menyarankan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat agar tidak menempatkan kembali Guru I di SMA Negeri 12 Kota Bekasi. Retno juga menyerankan agar Pemprov Jabar memberikan sanksi administrasi terhadap I.

“Karena ini bukan kali pertama kan, walau tidak sering, tapi yang bersangkutan (I) bukan yang pertama melakukan misalnya, pendisplinan dengan kekerasan kepada anak,” kata dia.

Tujuan dari proses hukum ini, kata dia, untuk memberikan efek jera terhadap I yang kerap temperamental terhadap anak-anak dengan melakukan kekerasan. Dia mengatakan, pelaporan kekerasan yang terjadi di SMA Negeri 12 Kota Bekasi tidak wajib bagi keluarga korban melainkan lembaga.

"Enggak ada yang lapor, belum tapi dalam beberapa kasus misalnya kasus yang di Malang yang melaporkan kan bukan korban, bukan keluarga korban, tapi dokter menangkap ini bukan bercandaan, ini penganiayaan kata dokter," kata dia.

Setelah itu, pihak rumah sakit melapor ke P2TP2A Malang, yang diteruskan melapor ke pihak polisi. Menurutnya, orangtua korban harus menggunakan orang lain melakukan pelaporan ke KPAD, yang kemudian mendorong P2TP2A Kota Bekasi.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini