nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Geger Praktik Aborsi di Jakpus, Sosiolog: Orangtua Abai Awasi Perilaku Seks Anak

Fadel Prayoga, Jurnalis · Rabu 19 Februari 2020 08:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 02 19 338 2170637 geger-praktik-aborsi-di-jakpus-sosiolog-orangtua-abai-awasi-perilaku-seks-anak-4MT0bO0yx4.jpg Ilustrasi

JAKARTA – Beberapa hari ini publik dibuat geger dengan ditemukannya sebuah klinik aborsi ilegal di Jalan Paseban Raya, No. 61, Paseban, Jakarta Pusat.

Berdasarkan hasil pemeriksaan polisi terhadap pemilik klinik, diketahui bahwa mayoritas pasien yang berkunjung ke sana ialah para remaja putri yang hamil di luar nikah.

Menanggapi hal itu, Sosiolog Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis menilai fenomena itu muncul lantaran para orangtua terlalu sibuk bekerja, hingga tak punya waktu untuk memberi pendidikan moral kepada sang buah hatinya.

Lalu, dirinya melihat orang tua pun kini cenderung abai terhadap perilaku seks anaknya ketika sudah tumbuh menjadi remaja.

“Orangtua sudah cenderung abai dengan penanaman nilai moral dalam keluarga. Orangtua juga cenderung abai pada perilaku seks remaja yang sangat berisiko,” kata Rissalwan kepada Okezone, Rabu (19/2/2020).

Menurut dia, kebanyakan orangtua di Indonesia itu akan marah ketika mengetahui putrinya tiba-tiba mengaku sedang mengandung padahal belum menikah.

Baca Juga: Aborsi di Klinik Paseban Jakpus Rata-Rata Akibat Hamil di Luar Nikah

Akhirnya, karena kehamilan di luar nikah itu adalah sebuah peristiwa yang memalukan, membuat banyak remaja memutuskan untuk melakukan aborsi sebelum ketahuan sama orang tuanya.

“Jika anaknya hamil (di luar nikah), orangtua justru akan marah besar. Sehingga ketika anak hamil, mereka lebih memilih menggugurkan karena takut sama orangtua atau malah dipaksa oleh orangtua,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, penyebab lainnya adalah tidak adanya kurikulum pendidikan moral di setiap sekolah, sehingga banyak remaja tidak mengerti batasan dalam menjalin pertemanan dengan lawan jenis. Lalu, dirinya juga menilai peran pemerintah dalam melakukan pengawasan terhadap praktek aborsi dinilai masih sangat lemah.

“Pengawasan yang lemah dari pemerintah terhadap keberadaan tempat yang memberikan layanan aborsi ilegal, sehingga anak muda yang sudah terlanjur (hamil) masih mendapat peluang untuk melepas tanggung jawab atas perbuatan yang melanggar norma susila yang telah mereka lakukan,” kata dia.

Sejauh ini polisi telah menetapkan tiga tersangka dalam kasus praktek aborsi illegal tersebut. Di antaranya berinisial MM sebagai dokter aborsi, bidan RM, dan S selaku staf administrasi.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini