Share

3.000 Bangunan Rumah di Bojonggede Terancam Digusur

Putra Ramadhani Astyawan, Okezone · Rabu 19 Februari 2020 20:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 19 338 2171123 3-000-bangunan-rumah-di-bojonggede-terancam-digusur-Nwb6THpXs8.jpg 3.000 Bangunan Rumah di Bojonggede Terancam Digusur (foto: Istimewa)

BOGOR - Ratusan pembeli Perumahan Green Citayam City (GCC) di Desa Ragajaya, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor resah dengan adanya rencana penggusuran. Pasalnya, rumah yang mereka beli itu tersandung sengketa kepemilikan lahan.

Salah satu pembeli Yus Sudarso menceritakan dirinya membeli rumah tipe 27/84 dengan mengeluarkan uang tanda jadi (booking fee) sebesar Rp 2,5 juta pada 2015 lalu. Kemudian dilanjutkan cicilan enam kali angsuran uang muka sekitar Rp 17 juta.

3.000 Bangunan di Bojonggede Terancam Digusur (foto: Istimewa)	 

"Jadi total saya sudah setor uang sekitar Rp 20 juta," kata Yus, Rabu (19/2/2020).

Baca Juga: Buntut Kericuhan Penggusuran di Tamansari Bandung, 52 Polisi Diperiksa 

Kecurigaan pun muncul ketika uang muka telah lunas tetapi tak kunjung dilakukan akad rumah. Akhirnya, ia pun mendapat kabar bahwa perumahan tersebut tersandung sengketa lahan dan terancam digusur.

"Sudah jadi rumahnya cuma belum akad. Awalnya ditunjukkan surat-surat tapi sertifikat belum dan IMB itu nyusul kata dia (pengembang)," ungkapnya.

Oleh karena itu, Yus beserta ratusan orang lainnya mengaku kebingungan jika nantinya rumah yang dibelinya itu benar digusur. Ia hanya berharap agar pengembang dapat mengembalikan uangnya.

"Ketika nanti eksekusi mau tinggal di mana lagi pengennya sih dikembalikan uang dari pihak pengembang dibantu dari pihak yang sebenarnya punya lahan itu. Sudah banyak juga yang ditempatin rumahnya, bangunan berdiri sudah banyak dan banyak juga yang kosong belum akad," beber Yus.

Dari informasi yang dihimpun, sudah berdiri baik yang utuh atau setengah jadi ada sekitar 3.000 bangunan di lahan bersengketa itu. Dari jumlah itu sekitar 300 orang sudah melakukan kontrak pembelian.

Sementara itu, Kuasa Hukum PT Tjitajam selaku penggugat Reynold Thonak mengatakan berdasarkan keputusan Mahkamah Agung No: 2682 K/PDT/2019 yang sudah inkrah (berkekuatan hukum tetap) pada 4 Oktober 2019, lahan seluas 50 hektare yang dijadikan perumahan subsidi GCC itu dimiliki oleh PT Tjitajam.

Sedangkan, PT Green Construction City sebagai pihak tergugat atau pengembang kawasan tersebut dianggap telah menyerobot lahan PT Tjitajam.

3.000 Bangunan di Bojonggede Terancam Digusur (foto: Istimewa) 

"Bila sudah berkekuatan hukum, tinggal eksekusi. Tetapi sebelumnya, kami lakukan sosialisasi kepada warga. Karena di lahan tersebut sudah terbangun rumah dan ruko. Waktunya, dua minggu, bila terjadi deadlock (buntu) kami minta pengadilan untuk melakukan penggusuran paksa," ucap Reynold.

Penggusuran Perumahan GCC itu menjadi opsi yang paling memungkinkan karena pihak yang dinyatakan bersalah secara hukum tak kunjung mematuhi perintah pengadilan. PT sudah mempersiapkan solusi untuk konsumen yang kehilangan rumah.

"Konsumen akan mendapatkan rumah pengganti yang legal, dengan syarat dan ketentuan. Dalam waktu dekat kami akan mengumpulkan warga yang terdampak dan melakukan sosialisasi penggusuran. Sekalian, nanti kami bicarakan opsi-opsi bagi konsumen yang telah terlanjur membeli," jelasnya.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Sedangkan, untuk langkah hukum ada dua yang bisa ditempuh konsumen yakni bagi yang melalui kredit bank bisa mengajukan gugatan perdata dengan Undang-undang Perlindungan Konsumen. Kemudian, konsumen yang langsung transaksi dengan pengembang bisa melalui mekanisme kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

"Tahap pertama sudah sejak September 2019. Sebagian sudah menerima dana kembali bertahap. Yang berikutnya sudah bisa mulai lagi," tutupnya.

3.000 Bangunan di Bojonggede Terancam Digusur (foto: Istimewa)

Terpisah, Direktur Green Construction City sebagai pengembang dari Perumahan GCC Ahmad Hidayat membantah jika dirinya dituding menyerobot lahan.

Baca Juga: Warga Sunter: Kembalikan Tempat Kami yang Digusur! 

Ia mengaku telah membeli lahan seluas 50 hektar itu pada 2017 dari PT. Bahana. Di mana, PT Bahana membeli tanah yang kini dibangun perumahan Green Citayam City dari pelelangan Bank Century.

"Saya beli dari PT Buana tahun 2017, ada bukti dan lengkap dengan pernyataan damai. Mereka itu menjaminkan ke Century. Terus mereka tidak mampu bayar. Saat itulah PT. Bahana membeli tanah itu pada tahun 2003 lengkap dengan perjanjian damai yang ditandatangani langsung sama Tuan Rotendi dan Jahja Komar Hidayat," beber Ahmad.

Meski telah keluar putusan hukum untuk penggusuran, Ahmad menanggapinya dengan santai karena tengah melakukan perlawanan perkara yang masih bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Cibinong.

"Saya sudah melakan perlawanan ya, perkara di PN Cibinong lagi proses," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini