nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polusi Udara Tangsel Disebut Terburuk di Indonesia, Pemkot: Kami Tak Yakin

Hambali, Jurnalis · Kamis 27 Februari 2020 04:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 02 27 338 2174738 polusi-udara-tangsel-disebut-terburuk-di-indonesia-pemkot-kami-tak-yakin-JLRMtoDEPg.jpg Ilustrasi polusi di Jakarta (Okezone.com/Heru)

TANGERANG SELATAN - Tangerang Selatan (Tangsel) disebut sebagai kota dengan populasi udara terburuk di Indonesia berdasarkan hasil uji lembaga data kualitas udara IQAir. Pemkot Tangsel tak terima daerahnya dianggap memiliki udara terkotor.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel mempertanyakan metode yang dilakukan IQAir dalam mengukur tingkat kualitas udara. DLH, lanjut dia, pada Oktober 2019 sudah menggandeng pihak ketiga menguji udara di Tangsel dan hasilnya berbeda jauh dengan yang dirilis IQAir.

"Bagaimana metodenya? Apa alat yang mereka pakai? Kami tidak bisa meyakini apa yang mereka paparkan itu tentang polusi udara di Kota Tangsel," kata Yepi Suherman, Sekretaris DLH Tangsel kepada Okezone, Rabu (26/2/2020).

IQAir merilis Kota Tangsel memiliki rata-rata Particulate Matter (PM)2.5 sebesar 81,3 µg/m³. PM2.5 adalah partikel halus di udara yang ukurannya 2,5 mikron atau lebih kecil dari itu. Beberapa sumber menerangkan, jika PM2.5 memiliki lebar sekitar 2 sampai 1,5 mikron.

 polusi

Polusi di Jakarta (Okezone.com/Heru)

Dengan ukuran itu, PM2,5 membuatnya bisa masuk hingga ke dalam paru-paru. Paparannya dalam waktu singkat sudah cukup menyebabkan masalah pada mata, hidung, tenggorokan, iritasi paru, batuk, pilek, hingga mengganggu fungsi paru, memperburuk penyakit asma dan jantung.

Yepi menyebutkan, DLH Tangsel rutin tiap 3 bulan menguji tingkat polusi. Pada Oktober 2019, DLH menggandeng laboratorium lingkungan PT KehatiLab Indonesia menguji kualitas udara di Tangsel

.

"Kita pakai pihak ketiga yang telah memenuhi kriteria sebagaimana diatur dalam ketentuan. Jadi hasilnya pun bisa dipertanggung jawabkan," imbuhnya.

Menurutnya, hasil uji lab dilakukan PT Kehatilab diketahui bahwa tingkat polusi udara di Tangsel normal. Di mana pada 3 lokasi yang diuji, menunjukkan hasil dibawah ambang batas yang telah ditetapkan pemerintah, yaitu PM2.5 dibatas 65 mikrogram/m3.

"Terakhir kita uji di 3 lokasi, masing-masing di Jalan Siliwangi, Pamulang. Lalu di Kebayoran Village, Bintaro, dan Jalan Letnan Soetopo, Serpong," jelasnya.

Hasil uji di Jalan Letnan Soetopo menunjukkan kadar kualitas udara PM2.5 di angka 11, dan PM10 di angka 50. Berikutnya di Jalan Siliwangi, Pamulang, kualitas udara PM2.5 mencapai 12, dan PM10 mencapai 53. Lalu di Bintaro, kadar PM2.5 mencapai angka 10 dan PM10 di angka 45.

"Hasilnya di bawah ambang batas. Kita tahu sendiri bahwa di Tangsel tidak ada pabrik-pabrik besar, polusi kendaraan juga biasa saja tidak sepadat Jakarta, lalu kenapa polusi udaranya disebut buruk? kan ini faktanya bertentangan. Kalau memang kualitas udara kita buruk, pasti sudah banyak yang terkena Ispa dan penyakit lainnya," ujarnya.

Yepi menyebutkan, bakumutu yang diterapkan DLH sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 1999. Sehingga dengan begitu, semua kegiatan hingga tataran teknis akan mengacu pada regulasi yang ada.

"Kita pernah juga membahas ini dalam suatu forum bersama kementerian (Kementerian LH), di sana memang akhirnya hasil uji dari lembaga-lembaga itu dianggap tidak bisa jadi acuan. Jadi kita memang hanya mengacu pada bakumutu yang diatur pemerintah," ucapnya.

Bahkan, menurut Yepi, jika ingin lebih fair dan transparan maka pihaknya menantang lembaga tersebut untuk melakukan metode pengujian kualitas udara bersama-sama. Tentunya dengan peralatan yang digunakan masing-masing.

"Kalau mau lebih fair, kita tantang uji bersama. Biar kita tahu metode mereka seperti apa, sesuai ketentuan nggak, begitupun nanti mereka cek juga pengujian kita bagaimana. Karena nggak semua alat itu bisa digunakan di semua wilayah, misalnya alat mereka biasa digunakan untuk di Eropa, lalu belum tentu akurat jika digunakan di wilayah tropis seperti Indonesia, hasilnya akan berbeda," tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini