nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perlu Mitigasi Konkret untuk Tuntaskan Masalah Banjir

Wisnu Yusep, Jurnalis · Kamis 27 Februari 2020 16:36 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 02 27 338 2175087 perlu-mitigasi-konkret-untuk-tuntaskan-masalah-banjir-xjVTfuu6lm.jpg Banjir di Kota Bekasi (Foto: Okezone/Wisnu)

BEKASI - Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi merupakan wilayah yang terparah akibat banjir yang menerjang Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), baik pada awal tahun 2020 maupun Selasa 25 Februari 2020 kemarin.

Data Pusdalpos Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, terdapat 90 titik banjir, lima lokasi longsor dan empat korban jiwa, serta 391 jumlah sekolah terendam banjir.

Banjir kali ini merupakan banjir terparah kedua pasca-banjir awal tahun 2020. Atas hal itu, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Provinsi Jawa Barat menilai, banjir yang menerjang Jabodetabek khususnya Bekasi disebabkan beberapa faktor.

"Pertama intervensi kerusakan di daerah tangkapan air semakin tinggi yang disebabkan oleh kegiatan infrastruktur (hotel, villa, apartement, wisata dan perumahan)," kata Manajer Advokasi Walhi Jawa Barat, Wahyudin Iwang ketika dihubungi Okezone, Kamis (27/2/2020).

Baca Juga: Banjir Jakarta, 35 RW Terendam dan 2.393 Jiwa Mengungsi

Selanjutnya adalah karena alih fungsi kawasan resapan air dan bentang kawasan, yang sampai saat ini wilayah Jabodetabek kian terkikis.

"Mengalihfungsikan kawasan resapan air dan bentang kawasan. Drainase yang tidak berfungsi dengan baik," kata dia.

Terlebih, pemerintah setempat maupun Provinsi Jawa Barat belum melakukan upaya mitigasi bencana secara kongkret. Terutama kepada daerah-daerah rawan banjir dan longsor.

Banjir Jakarta

"Belum ada upaya mitigasi yang kongkret, menentukan daerah-daerah rawan banjir dan tanggul-tanggul yang diduga kualitasnya sudah tidak baik," ujar dia.

Selanjutnya, terkait dengan penanggulangan sampah, yang masih ditemukan di aliran sungai. Itu adalah masalah serius yang harus diperhatikan Pemerintah setempat. "Karena sampah sampai saat ini masih menjadi masalah dan penyebab banjir," kata dia.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini