Tradisi Ngabuburit dan Kejenuhan Masyarakat Patuhi PSBB

Hambali, Okezone · Minggu 17 Mei 2020 20:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 17 338 2215563 tradisi-ngabuburit-dan-kejenuhan-masyarakat-patuhi-psbb-oAwnLvmW6n.jpg Warga Tangsel saat membeli takjil saat PSBB (foto: Okezone.com/Hambali)

SORE hari menjelang berbuka puasa menjadi waktu istimewa bagi mereka yang biasa memanfaatkannya untuk ngabuburit. Tradisi itu hingga kini sulit ditinggalkan.

Tradisi ngabuburit biasanya ditandai dengan ramainya mereka yang beraktivitas di jalan-jalan dengan berkendara sepeda motor bahkan mobil pada sore hari bulan Ramadan. Tak ayal, keramaian kendaraan di jalan memicu kemacetan panjang.

Pantauan Okezone di beberapa tempat, Minggu (17/5/2020) sore, menunjukkan adanya aktivitas masyarakat maupun pengendara yang meningkat tajam dibandingkan waktu pagi, siang, dan malam hari.

Misalnya di sepanjang Jalan Siliwangi, Kecamatan Pamulang menuju Jalan Puspiptek Raya, Kecamatan Setu. Kemacetan di sana tak dapat dihindari karena banyaknya kendaraan roda empat atau roda 2 yang lalu-lalang.

Meski tak seluruhnya, namun kebanyakan di antara mereka diketahui tengah sibuk mencari lokasi membeli takjil. Tempat-tempat yang paling banyak diserbu adalah penjual es campur atau sup buah, penjual kolak, penjual gorengan dan lainnya.

 Ngabuburit

Kondisi demikian terkesan menunjukkan, bahwa masyarakat mulai abai terhadap ketentuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Di mana tujuan salah satunya adalah menekan aktifitas di luar rumah. Apalagi, hari ini merupakan hari terakhir dari PSBB tahap 2.

Salah satu pembeli yang ditemui mengaku, terpaksa keluar rumah mencari takjil untuk berbuka puasa. "Ya keluar cuma cari buat bukaan aja, abis itu pulang lagi. Kan yang penting pakai masker, jenuh juga di rumah seharian. Jadi mumpung sore, sekalian keluar aja," ucap yanti (37) usai membeli minuman untuk berbuka di Jalan Benda Baru, Pamulang.

Tak hanya Yanti, hampir di sepanjang Jalan Benda Raya Pamulang, keramaian para pembeli terlihat di lapak-lapak pedagang takjil yang berjualan di sisi jalan. Mereka kebanyakan menggunakan sepeda motor lengkap berboncengan suami, istri seraya menggendong salah satu anaknya.

Bahkan tak sedikit pula sejoli muda yang asyik ngabuburit berboncengan sepeda motor, sambil berkeliling mencari tempat lokasi makanan takjil kegemarannya. Mereka mengaku, kebiasaan itu sering dilakukan sore hari menjelang waktu berbuka puasa.

"Ini cuma nganter aja, sebenarnya tahu aturan PSBB. Tapi kita paling cuma muter-muter nggak jauh, nyari buat bukaan aja," tutur Abdurahman Rabbani (25) bersama kekasihnya di sekitaran Universitas Pamulang.

 Ngabuburit

Mereka yang berkumpul di jalan-jalan, bukanlah sekedar yang beralasan mencari takjil untuk berbuka puasa. Tapi ada juga yang justru berkerumun membagi-bagikan takjil gratis kepada pengendara, seperti terlihat di depan Pasar Modern BSD, Jalan Letnan Sutopo, Serpong.

Bagi-bagi takjil itu dilakukan oleh salah satu komunitas Ojol di Tangsel. Mereka terlihat membagikan paket makanan untuk para pengendara yang melintas. Meski menggunakan masker dan menjaga jarak satu sama lain, namun kegiatan tersebut sesekali mengundang perhatian pengguna jalan untuk berkerumun.

"Kita tetep patuhi aturan jaga jarak dan memakai masker, makanya jumlah anggota yang hadir perwakilan aja 11 orang. Tujuannya untuk sekedar berbagi rejeki kepada sesama. Walau pemasukan kami berkurang karena larangan menarik penumpang saat PSBB, tapi kami berusaha menyisihkan rejeki untuk berbagi," ujar H Satiri, kordinator Ojol di lokasi.

Tradisi ngabuburit itu sulit ditinggalkan masyarakat, sebab kebiasaan itu sudah berlangsung sejak bertahun-tahun silam. Saking lamanya, kebanyakan masyarakat telah menganggapnya sebagai norma tersendiri saat bulan Ramadan.

Pengamat perkotaan, Yayat Supriatna, membeberkan ada beberapa faktor mengapa masyarakat menganggap tradisi ngabuburit lebih penting dilakukan, ketimbang mematuhi ketentuan PSBB yang membatasi aktivitas mereka di luar rumah.

"Dalam konteks sosiologis, yang mengatur kehidupan masyarakat itu ada 3, yaitu pertama, struktur berupa aturan, ketentuan, pedoman, kebijakan, arahan, semuanya lah yang bersifat instruksi. Yang kedua, ada namanya kultur, budaya, keyakinan, nilai, kebiasaan yang sudah terinternalisasi dalam dirinya. Baru satu lagi, ketiga, yaitu sebuah proses sosial yaitu kesepakatan dalam konteks pengaturan kehidupan," ungkapnya dikonfirmasi terpisah.

"Nah sekarang yang terjadi, kekuatan aturan itu tidak bisa mengatur kekuatan budaya, kekuatan kebiasaan, kekuatan norma kehidupan masyarakat yang sudah tertanam mendalam, tradisi tadi. Jadi tradisi yang sudah terinternalisasi mendarah daging, kemudian dicoba diintervensi dengan aturan, nggak mempan," imbuhnya.

Menurut Yayat, masyarakat tidak terlalu memerdulikan PSBB dalam konteks membatasi aktivitas di luar rumah karena aturan itu terlalu mengikat, tanpa dibarengi dengan upaya memfasilitasi aturan itu. Misalnya dengan pemberdayaan masyarakat saat beraktivitas di rumah atau juga memberikan bantuan sosial kebutuhan sehari-hari.

"Namanya manusia itu nggak mau diatur terlalu mengikat, pasti dia mencari celah. Kalau kemudian dia diatur terlalu ketat, tapi tidak diberi bantuan, tidak difasilitasi, ya sama aja katanya. Jadi kalau ada orang jalan-jalan (ngabuburit), bisa jadi itu sudah pada titik jenuh, bosan. Nah, kejenuhan inilah yang tidak terbaca, harus disikapi oleh pemerintah," lanjutnya.

Masih kata dia, selama ini pemerintah hanya memberikan arahan dan inbauan bahwa masyarakat harus selalu di rumah, beraktivitas di rumah, belajar di rumah, bekerja dari rumah. Sementara, imbauan itu tidak disertai cara bagaimana agar masyarakat bisa melalui fase tersebut tanpa kejenuhan.

"Karena terus terang aja kalau sampai jenuh, namanya manusia pasti akan berontak, selalu ingin bebas, selalu ingin interaksi, kalau pakai handphone saja bosan dia. Ini kan aturan (PSBB) coba merubah kebiasaan-kebiasaan ngabuburit, kongkow, jalan-jalan, kebiasaan yang sudah mendarah daging, pasti nggak mempan. Apalagi ada janji-janji yang dirasa tak pernah terwujud, kok saya sudah patuh diam di rumah, tapi bantuan nggak datang-datang, mereka akan berontak dengan kondisi itu," pungkasnya

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini