TPA Cipeucang Longsor, Proyek Turap Rp24 Miliar Jadi Sorotan

Hambali, Okezone · Selasa 26 Mei 2020 20:46 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 26 338 2220001 tpa-cipeucang-longsor-proyek-turap-rp24-miliar-jadi-sorotan-0H3Qov7rgu.jpg Longsoran sampah di Tangerang (Foto : Istimewa)

TANGERANG SELATAN - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengakui, bahwa longsornya gundukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang akibat patahan pada sheet pile atau turap penyangga.

Turap tersebut merupakan material konstruksi yang berbentuk lembaran, lalu ditanamkan ke dalam tanah secara vertikal untuk menahan tanah agar tidak terjadi longsor. Proyek Sheet Pile di TPA Cipeucang sendiri diketahui menghabiskan anggaran sekira Rp24 miliar.

Proyek pembangunan turap itu baru saja rampung pada Desember 2019. Dengan rincian pengerjaannya, panjang 400 meter dan lebar 100 meter. Sesuai ketentuan, 6 bulan sejak selesai dikerjakan maka proyek tersebut masih dalam tanggung jawab kontraktordan pelaksana, yakni PT Ramai Jaya Purna Sejati.

"Longsoran di TPA Cipeucang disebabkan adanya patahan shett pile sepanjang 60 meter," ungkap Sekretaris DLH Kota Tangsel, Yepi Suherman, kepada Okezone, Selasa (26/5/2020).

Yepi membeberkan kronologi kejadian yang memicu patahan turap pada Jumat 22 Mei 2020. Dijelaskannya, curah hujan yang cukup tinggi 3 hari berturut-turut sebelum kejadian membuat volume tumpukan sampah kian padat. Berikutnya, volume sampah bercampur air itu menekan dinding Sheet Pile hingga menyebabkan patahan.

"Sebelumnya itu kan 3 sampai 4 hari hujan deras. Nah saat tidak hujan, sampah mengering. Begitupun saat hujan, sampahnya mengembung lagi. otomatis dengan volume itu menimbulkan desakan ke dinding Sheet Pile," jelasnya.

Akibat patahan Sheet Pile itu, sekira 100 ton sampah TPA Cipeucang tumpah ke aliran sungai Cisadane yang berada persis di bagian sisinya. Sebagian sampah-sampah itu terbawa arus, mengalir hingga ke arah Kota Tangerang. Sedang timbunan sampah lainnya, menutup 2/3 aliran sungai Cisadane.

"Yang tumpah ke sungai itu sekira 100 ton, jadi menutup 2/3 sungai Cisadane di bagian sisinya," terangnya.

Hingga saat ini proses pengerukan sampah yang menutup sungai Cisadane terus dilakukan. Tercatat ada 6 alat berat escavator yang dikerahkan, meski dalam prosesnya hanya 5 yang berfungsi lantaran 1 unit lain mengalami kerusakan.

"Kita prediksi sekira 2 mingguan baru selesai mengeruk sampah yang tumpah itu.Total ada 6 alat, 4 dari Tangsel, 1 dari Provinsi, dan 1 sisanya dari BBWSCC," jelas Yepi.

Sementara, patahan dari Sheet Pile yang baru rampung dikerjakan itu mendapat sorotan tajam berbagai lapisan masyarakat. Diduga, ada pengerjaan tak sesuai standar hingga membuat dinding penyangga jebol. Bahkan untuk menjawab kecurigaan tersebut, beberapa Fraksi DPRD Kota Tangsel mendesak kepolisian dan Kejaksaan melakukan penyelidikan.

"Patut diduga ada penyelewengan dalam proyek pembangunan ini, dan saya akan meminta Kepolisian dan Kejaksaan Negeri untuk melakukan penyelidikan. Apabila ada temuan awal bisa melanjutkan pada tahap penyidikan, karena ini sudah di angka miliaran. KPK bisa ambil penyelidikan kasus ini," ucap Wakil Ketua Fraksi Gerindra-PAN DPRD Tangsel, Abdul Rahman, terpisah.

Senada dengan itu, kritik yang sama diutarakan Rizal Bawazier, salah satu pengusaha asal Serpong. Dia meminta proyek-proyek yang berkaitan dengan kedinasan harus transparan dan profesional. Sehingga pengerjaannya pun bisa dipertanggungjawabkan.

"Harus transparan dan terbuka penyelidikannya. Ini untuk menjawab kecurigaan masyarakat, apa benar proyek senilai Rp24 miliar itu dikerjakan sesuai standar," tuturnya.

Baca Juga : Pergerakan Masyarakat Tinggi Selama Ramadhan, Rapid Test Digelar Massal di Seluruh Jateng

Di samping itu, Bawazier juga mendesak Wali Kota Airin Rachmi Diany segera beralih ke teknologi terkini guna mengelola sampah di Tangsel. Mengingat, TPA Cipeucang sudah over kapasitas. Sehingga jika terus dipaksakan menampung sampah, maka akan berdampak pada aspek sosial dan lingkungan yang lebih mengerikan.

"Alternatif lain bisa dengan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) dengan teknologi canggih, salah satu contohnya dengan Refuse Derived Fuel (RDF) yang saya rasa biayanya tidak akan lebih dari Rp100 milyar, tidak harus sampai triliunan," pungkasnya.

(aky)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini